Daur (08)

Khoiron? Yaroh
Syarron? Yaroh

Kalau Allah bikin pasal “Siapa melakukan kebaikan meskipun sezarrah akan memperoleh balasannya, dan siapa yang melakukan keburukan meskipun sezarrah akan memperoleh balasannya” — menurutmu bagaimana prosedur dan eksekusi teknisnya?

Apakah kalau engkau memukul seseorang maka sesaat berikutnya engkau akan dipukul secara sepadan dan di tempat yang sama, entah siapa yang memukul? Apakah kalau aku mengutil sejumlah uang maka sesaat berikutnya aku akan kehilangan uang sejumlah yang sama? Apakah kalau seseorang menyakiti hati seseorang lainnya maka mendadak berikutnya ia juga akan disakiti hatinya entah oleh orang yang ia sakiti atau oleh lainnya?

Dalam hal ini perlu dicatat atau syukur bisa dirumuskan beberapa hal. Apakah suatu perbuatan jahat akan meresikokan pembalasan perbuatan jahat yang sama jenis dan kadarnya? Apakah asal-usul pembalasan kejahatan adalah sama dengan sasaran kejahatan sebelumnya? Siapa yang berhak menjadi pelaku pembalasan kejahatan?

Berapa lama pembalasan atas kebaikan atau kejahatan itu akan terjadi? Langsung? Beberapa jam kemudian? Besok atau lusa atau minggu depan? Atau bulan depan, tahun depan, sepuluh tahun lagi, kelak beberapa waktu sebelum si jahat mati, ataukah kelak di akherat?

Apakah lamanya waktu berbanding lurus dengan tingkat atau kadar kejahatan yang diperbuatnya? Apakah semakin tinggi nilai kejahatan yang diperbuat akan dibalas semakin cepat, ataukah justru semakin lambat? Apakah lambat atau cepatnya pembalasan atas kejahatan berbeda antara kejahatan pribadi dengan kejahatan lembaga, institusi, kelompok, atau bahkan misalnya yang dilakukan secara struktural oleh kelompok penguasa di sebuah negara?

Apakah balasan atas kejahatan yang bersifat kontan atau tunda itu berkaitan dengan jenis kejahatannya, kadarnya, jenis karakter dan sejarah pelaku kejahatan itu, ataukah ada kriteria-kriteria tertentu yang tidak mungkin diketahui dan dirumuskan oleh pikiran maupun kehendak manusia — termasuk kemauan pihak yang dijahati?

Masih banyak lagi liku-liku, lipatan-lipatan, putaran dan tikungan, detail, labirin, dimensi-dimensi yang samar, serta berbagai titik atau simpul fenomena nilai beserta anomali-anomalinya, yang mungkin perlu dicari, meskipun mungkin banyak yang tak kan pernah bisa dipetakan dan dirumuskan.

***

Apakah orang yang rajin berbuat baik tidak memperoleh balasan kecuali kebaikan juga di dalam lingkup waktu yang sama dengan perbuatan baiknya?

Bagaimana kalau ternyata banyak fakta bahwa orang yang berbuat baik justru mendapat balasan keburukan yang bahkan berlipat-lipat? Bahkan kenyataan itu tidak berakhir sampai tiba kematiannya? Lebih dari itu: kebaikan-kebaikannya tak pernah ditorehkan di lembaran sejarah pada ingatan orang banyak, dan justru ia dicatat secara sangat seksama sebagai orang buruk?

Apakah orang yang hidupnya bermanfaat baik secara sosial dipastikan mendapatkan manfaat-manfaat kebaikan juga dari lingkungan sosialnya, pada interval waktu yang sama antara produk manfaatnya dan pendapatan manfaatnya dari semua yang ia beri manfaat?

Bagaimana kalau terdapat sangat banyak contoh dalam kehidupan bahwa sampai ia tinggal nama di nisannya, tidak dicatat oleh siapapun produksi-produksi kemanfaatannya? Dan jika pun ada fakta kemanfaat itu dalam kehidupan masyarakat luas: namun tidak dikaitkan dengannya sebagai pelaku kebaikan yang penuh manfaat?

Apakah orang yang memperbuat kemashlahatan kepada sesama manusia dan rajin beribadah kepada Allah, konstan menjaga iman dan akhlaknya, tidak memperoleh nasib apapun kecuali kemudahan hidup, kemakmuran rumah tangga, kemudahan usaha, citra sosial yang baik, sukses perjuangan hidupnya dan senantiasa mendapat perlindungan dari Allah dari bahaya-bahaya yang ditimbulkan oleh sesama manusia?

Bagaimana kalau engkau sendiri mengalami bahwa ketekunanmu menyebarkan kemashlahatan itu tidak membuat orang banyak mempercayaimu? Bahwa kekhusyukan dan kerajinan ibadahmu tidak membuatmu punya citra baik di mata khalayak ramai?

Karena, misalnya, bagi masyarakat sekelilingmu orang baik adalah orang yang suka bagi-bagi uang, menyumbang pembangunan masjid atau rutin berbuka puasa dengan anak-anak yatim di Bulan Ramadlan, meskipun uang yang dibagi-bagi itu adalah hasil pencurian atas hak kekayaan dan harta masyarakat yang menjunjung-junjungnya?

***

Dan orang-orang yang berbuat keburukan, merugikan orang lain, menyebar kemudharatan, menaburkan penderitaan dan menyebabkan kesengsaraan banyak orang — apakah mereka tidak akan menjumpai apapun kecuali langkah yang keserimpet-serimpet, perjalanan hidup yang penuh kesulitan, bertemu dengan yang serba mencelakakannya, jauh dari kegembiraan dan kebahagiaan, dan akhirnya terjerembab dalam kehancuran?

Bagaimana kalau engkau justru dikepung oleh kenyataan-kenyataan sosial bahwa orang-orang macam itu malah dijunjung dan dipuja-puja oleh masyarakat? Baik karena disinformasi maupun karena rusaknya logika berpikir masyarakat? Bagaimana kalau para penjahat politik, para perampok harta rakyat yang tak kentara, para perusak akal sehat dan penghancur logika itu justru dilantik oleh pandangan umum sebagai pahlawan?

Apakah orang atau kelompok yang menganiaya, yang menjajah, yang menipudaya, yang menginjak-injak hidup banyak orang, hidupnya akan terbanting-banting, jatuh dan terjerembab, terlunta-lunta, sengsara hatinya, ambruk keluarganya, kemudian mati dalam keadaan yang terhina

Bagaimana kalau permukaan bumi ini sangat banyak dihuni oleh pelaku-pelaku kelaliman structural dan penggerak-penggerak system pembodohan danpemiskinan, yang kehidupan keluarganya kasat mata sakinah mawaddah warahmah gemah ripah loh jinawi?

Sebaliknya mereka yang dianiaya, dijajah, direndahkan, ditipu dan dihina, disongsong oleh keberkahan hidup, justru tidak sehat raganya, sakit-sakitan tubuhnya, uring-uringan jiwanya, sama sekali tidak sakinah keluarganya, jauh dari sejahtera penghidupannya, perjuangan hidupnya seolah dihindari oleh kemudahan, bahkan luluh lantak terbengkalai dan terjerembab karier hidupnya?

***

Sedangkan referensi dari Tuhan sangat efisien: yang berbuat baik akan yaroh, yang berbuat buruk juga yaroh. Ya. Hanya yaroh. “Ia melihat” (hasil perbuatannya).

Dari cn kepada anak-cucu dan jm
Februari 8 Pebruari 2016