Daur (300)

Khalifah di Petak Bumi

Tahqiq : “...faktor apa dari berlangsungnya lalu lintas kekuasaan, penjajahan politik, penjarahan kekayaan bumi, kisruhnya alam pikiran, semakin me-wadag-nya kebudayaan, yang tidak sedang mengarah ke jurang kehancuran?....”

“Indonesia”, jawab Sapron.

“Bisakah kamu menolak atau membantah kelahiranmu di Bumi?”, Markesot mengejar terus.

“Tidak”.

“Menjadi manusia Indonesia itu pilihanmu ataukah insiatif Allah?”

“Ketentuan Syariat Allah”.

“Kalau dikategorikan menurut matriks lima Rukun Iman dan Islam, apa hukumnya?”

“Wajib”

“Sebagaimana ayam wajib menjadi ayam?”

“Ya. Sebagaimana burung haram menjadi ikan”

“Jadi apa hukum nasionalisme?”

“Wajib”

“Kenapa?”

“Karena syariat Allah atas manusia adalah menjadi Khalifah di bumi. Dan karena kehidupan adalah penataan dan keberbagian, maka tidak mungkin semua manusia mengurusi seluruh Bumi. Diperlukan pembagian kerja dan pembagian wilayah. Setiap manusia adalah Khalifah di petak bumi kelahirannya masing-masing”

“Jadi bisa kamu temukan alur konteks antara Syariat Allah, nilai Islam dengan nasionalisme?”

“Sangat jelas”

“Jadi apakah masuk akal kalimat karena aku Islamis maka aku Nasionalis, karena aku Nasionalis, maka aku Islamis”

“Ya”

“Apakah ummat manusia harus membagi Bumi berdasarkan batasan Negara-Negara?”

“Tidak harus. Sejarah dan ilmu manusia ber-evolusi. Pola-pola kerjasama sosialnya juga berkembang. Tahapnya hari ini adalah dibaginya Bumi menjadi Negara-Negara. Andaikan fakta itu bisa diubah dan semua ummat manusia punya kesepakatan untuk mengubahnya menjadi satuan-satuan yang bukan Negara, tidak ada salahnya dilakukan. Tetapi faktanya sekarang, perubahan menuju peniadaan Negara-Negara tak akan sanggup dilakukan oleh ummat manusia, kecuali Allah bekerjasama menolong mereka. Jadi untuk hari ini, nasionalisme adalah perwujudan sementara dari kekhalifahan di bumi….”

“Kecuali Allah berkenan untuk membuyarkan semua tatanan sistem dan aturan Bumi sekarang ini melalui revolusi alam seperti di zaman Nabi Nuh, Nabi Hud, Nabi Luth”, Wiyon menyela.

Flashback Patangpuluhan itu terpotong oleh suara Brakodin: “Berpuluh-puluh tahun saya juga memimpikan pertolongan Allah yang modusnya seperti di zaman para Nabi kekasih-kekasih Allah itu. Tetapi akhir-akhir ini pikiran seperti itu reda dengan sendirinya….”

Brakodin berhenti beberapa saat, sehingga Seger bertanya. “Bagaimana jelasnya Pakde?”

“Tahap perubahan total yang dialami oleh Nabi Nuh misalnya, adalah penghancuran hampir total juga terlebih dulu. Air bah memenuhi permukaan bumi. Semua pendurhaka dilumat oleh banjir bandang. Yang tersisa adalah beberapa ratus orang yang diselamatkan oleh Bahtera Nabi Nuh….”

“Belum jelas, Pakde”, Jitul ikut mengejar.

“Untuk keadaan di zaman sekarang ini, kalau tahap penghancuran itu harus kita lewati, apakah perlu pertolongan Allah?”

“Tentu perlu, Pakde”, Toling menyahut juga.

“Kayaknya kok tidak”, jawab Brakodin, “coba sebut faktor apa dari berlangsungnya lalu lintas kekuasaan, penjajahan politik, penjarahan kekayaan bumi, kisruhnya alam pikiran, semakin me-wadag-nya kebudayaan, yang tidak sedang mengarah ke jurang kehancuran?”

“Jangan menakut-nakuti, Pakde”, Junit protes.

“Kepandaian dipakai untuk minteri. Ilmu dipakai untuk membodohi. Kepemimpinan dipakai untuk menunggangi. Kebaikan dipakai sebagai modus untuk mengelabui. Perangkat Agama dipakai untuk memperdaya. Iblis pakai peci bertamu ke rumah manusia memperkenalkan diri sebagai Malaikat. Yang berjuang merasa paling beriman. Yang tidak ikut dalam suatu barisan dikafirkan….”

“Itu yang tadi saya cemaskan, Pakde”, Seger menyela, “di luar sana sedang terjadi konfrontasi yang semakin padat dan tajam. Satuan-satuan pasukannya membingungkan. Hanya tersisa putih melawan hitam, padahal sesungguhnya hitam itu bukan warna. Manusia sedang terpecah dengan dirinya sendiri….”