Ketinggalan Bis, Doni KK, dan Doa Ibu

Dua puluhan tahun lebih terus berjalan menjadikan KiaiKanjeng akrab dengan yang bernama bis. Jenis kendaraan yang mereka sewa ini setia mengantarkannya menyambangi pelbagai kota, daerah, dan desa, khususnya di wilayah pulau Jawa. Itu membuat mereka hafal, kalau bis ini sopir dan keneknya begini dalam membawakan bis dan melayani penumpang, sementara kalau bis yang itu begitu, dan seterusnya, serta seluk-beluk lainnya. Perjalanan berbasis bis ini juga membuat KiaiKanjeng hafal tempat-tempat berhenti yang enak dan cocok bagi mereka, apakah itu warung, pom bensin, atau tempat lainnya.

Bis juga kendaraan yang banyak menyimpan cerita bagi KiaiKanjeng. Salah satunya adalah kejadian Doni sang vokalis. Suatu hari, dalam perjalanan pulang menuju Jogja selepas acara di Jawa Timur, bis berhenti sejenak di sebuah pom bensin di daerah Ngawi. Beberapa personel KiaiKanjeng ada yang ngrokok, atau ngopi, dan sebagian lain tetap berada di dalam bis. Nah, karena terdesak hajat alamiahnya yang tak bisa lain harus segera disalurkan, Doni pergi ke toilet untuk buang air besar. Apa mungkin terlalu lama di dalam toilet itu sambil menggali imajinasi ataukah bagaimana, sampai akhirnya bis telah berangkat lagi melanjutkan perjalanan.

Keluar dari toilet, kok sepi dirasanya. Kemanakah bis? Ia pun mulai sadar apa yang terjadi. Ia coba bertanya dan memastikan pada penjaga toilet. “Mas, bis yang di sini tadi sudah pergi ya?.” “Iya, Mas.” Seratus persen, berdasarkan informasi yang barusan didapatnya itu, kemudian ia haqqul yaqin ‘ainul yaqin, bahwa rombongan telah meninggalkannya. Kok ya ndilalah-nya, nggak ada yang ngecek. Tambah suram lagi, karena HP-nya ditinggal di bis, sehingga nggak bisa segera menghubungi rombongan.

Diam sejenak. Lalu ia dengan sopan mendekat ke penjaga tadi. “Mas, saya boleh pinjam HP-nya?”. Tak tega memandang wajah pemuda yang ketinggalan bis ini, akhirnya penjaga toilet itu pun penuh ringan hati mengulurkan handpone-nya. Doni segera menghubungi istrinya. Untung dia hafal nomor sang istri. Ia minta ke istri entah bagaimana caranya supaya bisa mengontak teman-teman KiaiKanjeng dan ngasih tahu bahwa dia ketinggalan bis. Allah Maha Menolong. Sang istri berhasil menghubungi KiaiKanjeng. Nggak hanya penjaga toilet, satpam pom bensin itu pun baik hati dan turun tangan membantu. Begitu tahu Doni tertinggal, bis segera berhenti, dan menunggu di tempat berhenti. Sebab kalau putar balik akan memakan waktu. Bagaimana supaya Doni sampai ke sana?  Ia diantar naik motor oleh satpam itu. Itu terjadi pada 2014.

***

Tetapi memang bis adalah dunia nyata dan dunia bawah sadar Doni. Pernah Ia bercerita, waktu masih kanak-kanak ia punya cita-cita ingin jadi kondektur — di tengah kebanyakan cita-cita anak-anak kala itu adalah menjadi dokter, insinyur, atau presiden. Alasan dia sederhana dan realistis: senang naik bis karena berarti bisa jalan-jalan. Ternyata sekian tahun kemudian, Allah mengabulkan cita-citanya. Tidak menjadi kondektur, tetapi tetap sering naik bis, dan (jalan-jalan atau) menempuh perjalanan, ke banyak kota-kota, di dalam maupun luar negeri. Bersama Cak Nun dan KiaiKanjeng.

Di dalam perjalanan naik bus pun, Doni termasuk paling akrab dengan sopir dan kenek. Sewaktu mampir pagi-pagi di salah satu pom bensin di Nganjuk saat menuju Sidoarjo 28 Februari 2016 lalu, ia pun terlihat dekat dengan mereka. Ngopi bareng di warung di seberang jalan. “Asik kak ngobrol dengan mereka. Cerita dunia mereka memperkaya wawasan hidup juga,” katanya. Dari situ, ia tahu misalnya kalau salah satu “pantangan” sopir dalam menempuh perjalanan malam dan lanjut siang dan tidak tidur adalah jangan sampai kena air (mandi misalnya) sebelum sempat istirahat tidur, karena menurut pengalamannya itu bisa bikin drop. Ibaratnya, mesin yang sekian lama panas, kalau kena air bisa langsung pet. Dan pengalaman-pengalaman lain seputar dunia per-bis-an, khususnya bis pariwisata, ia dapatkan dari Pak Sopir dan Mas Kenek.

***

Bergabung pada 2010, ia tergolong di antara jajaran muda KiaiKanjeng di samping Sariyanto dan Adit. Sekarang ia dipercaya sebagai koordinator latihan. Masuknya Doni di KiaiKanjeng ini rupanya juga sebuah keterkabulan doa. Bukan doa dia. Tetapi doa sang Ibu. Tahun 1977, Ayah dan Ibunya menyaksikan pentas musik-puisi atau teater Cak Nun. Kala itu Doni masih berada di dalam kandungan sang ibunda. Entah apa yang dihayati dan dipikirkannya saat itu khususnya mengenai Cak Nun, sewaktu usai menonton pentas itu, sang Ibu berdoa sembari mengelus-elus perutnya: “Mugo-mugo mbuh kowe mbuh adi-adimu iso ngewangi Cak Nun (Mudah-mudahan entah kamu atau adik-adikmu bisa membantu Cak Nun).”

Doni, si jabang bayi yang telah dinaungi oleh doa ibunya itu, dan terlahir pada September 1977, tiga puluh tiga tahun kemudian, tepatnya pada 2010, menapaki doa yang menjelma kenyataan. Ia bergabung bersama Pakdhe dan Om-Om KiaiKanjeng. Turut melakoni perjalanan keliling menjumpai masyarakat dan jamaah yang tersebar di pelbagai daerah. Ia membantu Cak Nun dan KiaiKanjeng dengan suara emasnya. Suara yang memperkaya di antara jenis-jenis suara vokalis lainnya. Begitulah apa yang dialaminya saat ini ia baca dalam urutannya dengan doa ibunya tadi. Ia sadar penuh akan hal itu.

Segala yang diperlukan untuk terwujudnya doa itu pun Allah melengkapinya. Sejak kecil, ia sudah dianugerahi suara yang bagus. Sejak kapan ia ingat dititipi suara indah? “Salah satunya sejak saya hafal lagu-lagu di albumnya penyanyi Jamal Mirdad. Juga waktu saya sebel saat mau nonton acara Selekta Pop di layar TVRI tetapi ternyata diselingi acara Laporan Khusus. Jadi harus nunggu lagi,” kenangnya. Ia sendiri mulai tampil di depan umum saat kelas 6 SD nyanyi di Pendopo Kecamatan di Pakualaman Yogyakarta dalam acara 17-an Agustus. Waktu itu ia bawakan lagunya Slank yang berjudul Maafkan.

Tetapi perjalanannya di dunia musik tidak langsung sebagai vokalis. Dulunya ia malah pegang gitar bass. Dan sesudah sekian tahun berkecimpung di dunia band dan pop, di antaranya di Es Nanas (bass) dan Seventeen (vokal), kini Doni memasuki rumah KiaiKanjeng.

“Teman-teman band Jogja yang notabene tahu KiaiKanjeng sangat kaget, kok bisa-bisanya saya masuk KiaiKanjeng. Nggak masuk akal bagi mereka. Mereka menganggap itu kemajuan buat saya, dan mereka mendukung saya”, tuturnya mengisahkan respons kawan-kawannya. Tetapi ada pula beberapa temannya yang tinggal di Jakarta, khususnya yang berkecimpung dan berhubungan langsung dengan dunia industri menganggap itu kemunduran baginya. Kendatipun tak sedikit pula yang mendukungnya.

Baginya KiaiKanjeng adalah sebuah komunitas yang sangat unik dan lain dari pada lainnya dari banyak segi. Tentang musik KiaiKanjeng sendiri ia merasa bahwa musik KiaiKanjeng adalah musik yang lentur. Dan dari KiaiKanjeng, selain musikalitasnya, yang ia terkesan mendalam adalah dimensi hubungan sosialnya, termasuk interaksinya dengan jamaah atau masyarakat yang bersentuhan dengannya. Salah satu nomor KiaiKanjeng yang disukanya adalah Man on the Land. “Aransemennya kaya, kak,” ujarnya.

Ikut berjalan bersama KiaiKanjeng, Doni juga sudah menginjakkan kaki di beberapa negara seperti Malaysia, Maroko, Hong Kong, dan Macau. Di antara empat negara itu, ia paling terkesan dengan Maroko. Perjalanannya sangat lama 16 jam lebih, adalah negara di wilayah Afrika yang kali pertama ia kunjungi, dan sebuah negara yang sama sekali lain dengan Indonesia. Di sana ia mengalami jam tujuh malam masih terang benderang. “Mau tinggal di sana?” “Enggak kak, di Indonesia saja. Indonesia tetap jauh lebih enak. Lagian nanti kalau puasa di sana lama banget berbukanya hehe,” ujarnya sambil tersenyum. Tetapi ia bersyukur bersama KiaiKanjeng ia turut menjadi bagian dari duta-duta keindahan yang menyuarakan kebaikan di berbagai belahan dunia. Sekalipun itu adalah sebuah perjalanan yang sunyi.

Sekali waktu ia ditanya, setelah sekian tahun bersama KiaiKanjeng yang semestanya nonindustri, bagaimana ia memahami jalan hidup nonindustri itu. “Nggak ada kesulitan buat memahami, wong sepertinya saya kan juga bukan tipe orang yang dibutuhkan industri…. Bahkan mungkin sudah dibuang sama industri,” jawabnya. Ia memahami jalan sunyi itu sebagai ridho kepada karepe (kehendak Allah), yang terpenting nandur apik/kebaikan, tidak menyakiti orang lain, dan berani “ora”.

***

Belakangan di banyak acara Maiyahan ia sering diminta Cak Nun untuk membawakan lagu Maroon 5 One More Night yang tentunya sudah mendapatkan sentuhan musikalitas KiaiKanjeng. Tak hanya untuk menciptakan suasana yang asik, nomor ini sejatinya dipakai Cak Nun untuk memberikan gambaran akan kekayaan jangkauan musik gamelan KiaiKanjeng serta segi-segi detail lainnya. Pasalnya, di KiaiKanjeng khususnya saat Maiyahan, setiap lagu dihadirkan dengan terlebih dahulu dipaparkan dan disadari alasan, keperluan, dan konteksnya, sehingga ia bukan sekadar lagu yang diputar begitu saja, melainkan menjadi peristiwa yang bermakna, secara sosial, kultural, maupun spiritual. Sejauh ini, seperti terlihat dari respons dan suasana yang tercipta, Doni berhasil membawakan lagu itu dengan sangat baik. “Apapun lagu yang dipilihkan dan saya bawakan itu adalah bentuk syukur saya,” tuturnya.

Bersama KiaiKanjeng Doni menikmati dan menghayati sebuah perjalanan hidup. Di dalam KiaiKanjeng ia mensyukuri sesuatu yang melebihi apa yang pernah menjadi lintasan cita-citanya, dan bersama KiaiKanjeng pula ia menjalani kenyataan doa Ibunya, dan itu adalah hal yang membahagiakan sang Ibu. Bersama KiaiKanjeng tak hanya tanggal 17 Agustus ia menjumpai publik atau jamaah, tetapi setiap tanggal 17 pada setiap bulan, yakni di Mocopat Syafaat Yogyakarta. Selain tentunya pada maiyahan lainnya bersama KiaiKanjeng.