Ketika Pilot Bertemu Pendalam Al-Qur’an

Cak Fuad saat ini sedang dalam proses pengkajian serius dengan para dosen Kimia, untuk menggali hubungan kimia dengan al-Qur’an.

Merupakan kebahagiaan tersendiri bagi Mas Reiza dapat bertemu dan menemani Cak Fuad di Kuala Lumpur. Ternyata itu pertemuan yang boleh dibilang agak setengah aneh juga. Ceritanya, hari Kamis kemarin Mas Rei — demikian dia akrab dipanggil — sedang dalam perjalanan menuju Kuala Lumpur dari Bali sebagai penumpang setelah selesai tugas terbang dari Sidney.

Dalam perjalanan itu, Mas Rei membatin seraya mengawang pandangan matanya: “Pengajian dan Pengkajian al-Qur’an di rumah saya yang diisi oleh Cak Fuad.” Entah bagaimana gelombang itu bekerja, mendarat di Kuala Lumpur, Mas Rei mendapat pesan dari Mas Gandhie bahwa Cak Fuad sedang berada di Kuala Lumpur. Jadilah, Mas Rei segera menghubungi Cak Fuad, sosok yang barusan dibayangkan mengisi pengajian di rumahnya.

Mas Reiza bersama Cak Fuad.
Mas Reiza bersama Cak Fuad.

Seperti telah dilaporkan dalam news Raja Ahmad di Jakarta, Cak Fuad di Kuala Lumpur, akhirnya Mas Rei bertemu Cak Fuad. Ia ajak Cak Fuad yang datang ke Malaysia ini berempat (bersama istri, anak, dan menantu) berkeliling kota Putrajaya. Tak lupa Mas Rei mengajak mereka mampir menikmati hidangan di restoran Taman Tasik Putrajaya.

Selama bersama Cak Fuad, Mas Rei berbincang dan menyerap banyak cerita atau pesan-pesan. Salah satunya cerita Cak Fuad mengenai Kiai Gontor yang selalu berpesan kepada para santrinya agar setelah lulus dari Gontor mereka boleh masuk NU atau Muhammadiyyah, asalkan mereka bisa dan mampu menjadi perekat umat.

Sebagai seorang pilot yang memiliki pengetahuan tentang penerbangan, Mas Rei tak ingin menyia-nyiakan kesempatan baik bisa ngobrol dengan seseorang yang sejak kecil mendalami dan mencintai al-Qur’an dan bahasa al-Qur’an ini. Ia sampaikan kepada Cak Fuad bahwa ia ingin ada satu tulisan yang mengkaji hubungan, baik tersirat maupun tersurat, antara al-Qur’an dengan Aviation Knowledge, mengenai fenomena cuaca, teknologi logam, angkasa, dan lain-lain.

Mas Rei sendiri merasa sepertinya belum banyak atau belum ada yang menulis tentang hal itu. Baginya, selama ini yang lumrah diketahui, baik menurut orang-orang di dunia penerbangan maupun orang umum, adalah pengetahuan tentang penerbangan tidak ada hubungannya dengan agama. Padahal hubungan-hubungan al-Qur’an dengan tingkat-tingkat pengetahuan tersebut sangat nyata.

Ia memberi satu contoh. Ada seorang ahli oceanografi yang akhirnya menyatakan memeluk Islam karena dia tahu bahwa ada air laut yang tidak menyatu, dan fenomena itu termaktub di dalam al-Qu’an. Juga ada seorang ahli kulit asal Thailand yang takjub dengan penjelasan al-Qur’an yang detail tentang lapisan-lapisan kulit manusia.

Mendengar penuturan dan harapan Mas Rei, Cak Fuad sangat senang dan langsung mengemukakan contoh ayat yang berhubungan dengan ketinggian. Ialah Surat Al-An’am ayat 125. Kurang lebih artinya: “Barangsiapa yang Allah kehendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.”

Dulu orang memahami ‘sesak’ adalah rasa ngos-ngosan. Ternyata bukan hanya itu. Belakangan orang akhirnya mengerti bahwa di gunung atau tempat yang tinggi, jumlah oksigen makin menipis sehingga menyebabkan sesak ketika bernapas karena kurangnya pasokan oksigen dalam darah, yang dalam dunia penerbangan disebut hypoxia. Cak Fuad juga menceritakan bahwa beliau saat ini sedang dalam proses pengkajian serius dengan para dosen Kimia, untuk menggali hubungan kimia dengan al-Qur’an.

Sesudah menyimak penjelasan dan terlibat pembicaraan menarik tentang al-Quran, serta merasakan bagaimana sosok Cak Fuad, Mas Rei yang tinggal di Malaysia ini kembali teringat lintasan “impian batinnya” saat perjalanan dari Bali ke Kuala Lumpur tadi. Sebagai santri yang tawadlu’, Ia jadi rendah hati, mikir-mikir, dan merapikan kembali impiannya, “Menurut saya kalau pengajian rumah, apalagi di rumah saya, rasa-rasanya terlalu kecil untuk maqam Beliau, Mas.” (hm)