Daur (154)

Keruwetan dan Kesederhanaan

Ta’qid : “Tapi kehidupan kami tidak terlalu diruwetkan oleh bodohnya materialisme dan kerdilnya pancaindra sebagaimana yang kamu urusi. Kehidupan kami agak lebih sederhana”

Sambil melirik Markesot, Saimon menahan tertawanya, tetapi tetap kentara juga sehingga Markesot pun menoleh kepadanya.

“Terlalu muluk-muluk lamunanmu itu, Sot”, bisiknya, “teori-teori besar konspirasi, perkembangan formula penjajahan dan strategi imperialisme, penyamaran kolonialisme sedemikian rupa sehingga bangsa-bangsa yang dikoloni justru merasa bangga. Mana paham orang-orang di sekitarmu…”

“Cerewet”, sahut Markesot, “Jin kok cerewet”

“Itu pun kamu penggal hanya dua pertiga milenium”, Saimon tidak peduli, “padahal minimal ukurannya minimal 19 abad. Ketika itu tipu muslihat sejarah sudah dimulai dan mayoritas penduduk Bumi sudah menjadi penganut kepalsuan dan pemalsuan itu, hingga saat ini. Bagian penduduk yang lain di Bumi yang menjadi korban dan melawannya tidak sadar melakukan perlawanan dengan cara berpikir kaum penipu dan penjajahnya…”

Saimon tertawa terpingkal-pingkal meskipun berusaha menahannya supaya tidak terdengar suara ke sekitarnya.

“Orang-orang di sekitarmu yang merasa diri mereka adalah Ulul Albab, Ulun Nuha, Ulul ‘Azmi dan Ulul ‘Ilmi saja terseret arus pola pandang para penipu sejarah. Apalagi masyarakat umum, yang Tuhan sudah nyata-nyata mendefinisikan mereka sebagai aktsaruhum la ya’qilun, aktsaruhum la yatafakkarun

“Saya mendata apa adanya kenyataan sejarah, saya berpikir sebagaimana seharusnya fakta-fakta itu ditanggapi, diteliti, kemudian disikapi oleh ummat manusia”, kata Markesot.

“Tidak akan laku itu”, Saimon terus mengejek, “bukan hanya karena manusia sudah semakin sempurna kerobotannya, kesempitan berpikirnya, kedangkalan pandangannya. Robot hanya bergerak sesuai dengan segala sesuatu yang diprogramkan pada mereka. Kamu tidak akan bisa bicara kepada robot-robot. Satu kalimat pun tidak…”

“Itu tidak menghalangi pelaksanaan tugasku. Tidak ada kaitannya dengan berhasil atau gagal. Tidak ada urusannya dengan mereka paham atau tidak…”

“Ya nggak bisa”, Saimon memotong, “kalau bicara ya harus dihitung akan dipahami atau tidak. Tuhan tidak menciptakan kehidupan untuk memubadzirkan omongan tanpa ada yang bisa mendengarkan”

“Sekurang-kurangnya saya tidak melarikan diri dari kewajiban sebagaimana kamu putus asa sehingga rajin main ke alam manusia, karena sudah tidak berguna di kaummu sendiri”

Saimon semakin tertawa. “Saya tidak bertugas apa-apa. Ya ada sih tugas, karena setiap makhluk diciptakan untuk dibebani tugas. Tapi kehidupan kami tidak terlalu diruwetkan oleh bodohnya materialisme dan kerdilnya pancaindra sebagaimana yang kamu urusi. Kehidupan kami agak lebih sederhana”

“Saya tidak merasa ada keruwetan apa-apa”

“Lha wong saya yang hanya melihat kamu dari kejauhan saja merasakan ruwet, apalagi kamu yang menjalani”

“Manusia”, kata Markesot, “dianugerahi dinamika intelektual dan mental untuk tidak selalu harus merasakan keruwetan sebagai keruwetan, atau menganggap kesederhanaan sebagai kesederhanaan”

“Ah, itu cara psikologis manusia untuk menghindari keruwetan kenyataan hidupnya”

“Tidak”

“Makanya paket pengawasan Kiai Sudrun yang saya dititipi adalah mengamati apakah kamu patuh kepadanya dan memulai kembali semuanya dengan hal-hal yang lebih sederhana”

“Ah”, Markesot menepis, “kamu cari-cari kerjaan kepada Kiai Sudrun. Kamu sok berjasa”

“Yang saya kemukakan ini benar-benar berdasar dan berpedoman pada pesannya Kiai Sudrun kepadamu”, jawab Saimon, “Kan tujuanmu menghilang ke hutan kemarin semata-mata karena mencari Kiai Sudrun?”

“Benar”, kata Markesot, “tapi tak ada hubungannya dengan kamu. Dan kamu juga hidup di alam yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan yang saya urusi”

“Ada dong. Siapa bilang kehidupan kita tidak berkaitan. Berulang-ulang Tuhan menyebut manusia selalu dibarengkan dengan Jin. Ketika Tuhan mengizinkan pintu tembus Bumi Langit, yang ditantang adalah Jin dan Manusia. Nenek moyang kita sama-sama menjadi prajurit dan buruh Kerajaan Nabi Sulaiman, di samping pasukan Burung-burung…”

“Tapi itu tak harus berarti kamu berhak mengaku jadi Asistennya Kiai Sudrun…”.