Reportase Waro’ Kaprawiran Januari 2016

Kerenjang Sampah

Seburuk apapun manusia yang kita lihat adalah pasti memiliki sisi baiknya. Syarat menjadi kerenjang sampah adalah memiliki keihlasan.

Majelis Waro` Kaprawiran dibuka oleh mas Zainul jam 21.30 setelah nderes oleh siswa SMK Nusantara. Alhamdulillah jamaah yang hadir cukup banyak dan memadati halaman SMK Nusantara, tempat diselenggarakannya  Majelis Maiyah Waro’ Kaprawiran. Dibuka dengan sholawat oleh Hadroh Irengan dari TPA Desa Dong Gong dan Grup Musik Djenar dari SMK PGRI Caruban. Kemudian dilanjutkan Gamelan Kiai Iket Udeng (KIU) yang kali ini memberikan nuansa berbeda dengan memasukan irama reogan di dalam sholawatan sebagai bentuk pelestarian budaya Ponorogo.

Mas Zainul Arifin memberikan sedikit pengantar bahwa kondisi saat ini banyak hal membuat komunikasi dan hubungan antar manusia menjadi berkurang. Akibatnya, sebagai makhluk sosial kita membutuhkan tempat untuk curhat, nah tempat curhat inilah yang menjadi kerenjang sampah. Seperti apakah kerenjang sampah yang tepat? Mas Zainul mencoba memancing jamaah untuk mengartikan kerenjang sampah. Ada beberapa celutukan dari jamaah yang hadir ada yang mengartikan bahwa kerenjang sampah itu “mambu” dan ada pula yang mengartikan bahwa kerenjang sampah sebagai wadah. Sebelum para penggiat membahas bagaimana dan apa kerenjang sampah itu, Djenar mengelabori dengan karya mereka yang dibuat khusus untuk Waro’ Kaprawiran dengan judul yang sama pula dengan tema malam ini yaitu Kerenjang Sampah.

Mas Zahrul dari penggiat sendiri memulai diskusi mengenai sampah dan kerenjang sampah. Dengan kerendahan hatinya mas Zahrul merasa bahwa dia belum ahli dan mampu untuk berada di depan. Kemudian mas Zahrul menerangkan beberapa poin tentang kerenjang sampah. Apa itu kerenjang sampah dan apa itu sampah. Mas Zahrul beranggapan bahwa tokoh antagonis yang biasa kita ketahui di materi PAI seperti Namrud, Fir’aun dsb. Itu adalah contoh sampah. Seperti halnya dalam al-Qur’an Wa kholaqtul jinna wal insa illa liya’budun menegaskan bahwa sampah/kerenjang sampah itu adalah tokoh atau watak, beda dengan halnya jin yang tidak berperan kecuali ditugaskan untuk mengganggu manusia dalam hal ibadah. Seperti kata imam Ghazali, apabila engkau melihat seseorang yang menurutmu dalam kadar dirinya 99% adalah kafir dan 1% nya adalah iman. Maka janganlah engkau mengatakan orang tersebut kafir.

Kerenjang sampah merupakan hal yang sangat penting yang dibutuhkan oleh manusia, namun keberadaannya di dalam kehidupan manusia tentu kerenjang sampah tidak berada di depan pintu melainkan di pojokan. Tidak mudah menjadi kerenjang sampah karena dibutuhkan keikhlasan, ibaratnya kerenjang sampah itu sudah diisi sampah masih saja dipinggirkan ditaruh di tempat paling pojok. Sangat sedikit orang yang mampu menjadi demikian, lebih banyak yang menjadi sampah dari pada kerenjang sampah. Yang perlu kita garis bawahi adalah seburuk apapun manusia yang kita lihat adalah pasti memiliki sisi baiknya. Jadi menurut Mas Zahrul, syarat menjadi kerenjang sampah adalah memiliki keihlasan.

Untuk menghangatkan suasana KIU membawakan tembang ilir-ilir. Nyampah adalah melakukan hal-hal yang tidak berguna. Bahkan manusia saat ini secara tidak sengaja  sering menganggap bahwa Tuhan punya akun medsos sehingga berdoa di status update medsosnya. Mas Yohan mengajak interaksi jamaah mengenai hal-hal yang biasa kita lakukan di dalam bersosial melalui media di internet.

Setelah jama’ah diajak untuk sedikit mengungkapkan mengenai apa saja yang berkemungkinan terjadi setelah apa yang mereka kerjakan di dunia internet, mas Yohan menjelaskan tentang data main. Bahwa setiap kita posting sesuatu di internet maka dengan mudah kita di-judge oleh setiap orang dari apa yang kita posting. Sampah itu ketika kita mem-posting di media sosial dengan mengharapkan sesuatu dari apa yang kita posting. Padahal jelas, media sosial tidak bisa menyelesaikan persoalan bahkan mungkin menambah persoalan, artinya di sini media sosial bukanlah kerenjang sampah yang tepat malah menjadi sampah baru. Bullying, pencemaran nama baik atau yang sekarang sedang banyak terjadi yaitu “sop buntut” yaitu memenggal kalimat-kalimat yang diucapkan dan atau menambah kalimat yang tidak sesuai dengan yang diucapkan. Hal itu bisa menjadikan fitnah dan meresahkan. Alangkah baiknya memakai media sosial dengan bijak misalnya untuk berdagang, menyambung silaturahmi, dan hal-hal yang berguna lainnya.

Mas Galuh mengelaborasi keranjang sampah dari puisi yang dibacakan oleh Djenar, apa itu sampah, siapa itu sampah. Bahwa sebenarnya kita adalah binatang yang perlu dididik, baik oleh diri kita pribadi sebagai kerenjang kemudian keluarga berikutnya wilayah pendidikan formal maupun non formal. Dengan adanya masalah yang dialami oleh setiap siswa, maka gurulah yang seharusnya menjadi kerenjang bagi setiap curhatan yang menjadi problema para siswa. Seharusnya pendidikan itu bisa mengubah mindset bahwa kitalah sebenarnya sampah itu sendiri dan kita jugalah kerenjang sampah itu. Maka, kita sendiri yang harusnya mengelola sampah-sampah dalam diri kita dari yang tak berguna menjadi sesuatu yang bermanfaat. Celakanya, dalam dunia pendidikan modern pun kita sering menemukan disorientasi tujuan dari pendidikan itu sendiri. Sekarang dunia pendidikan lebih menjadi dunia perniagaan pendidikan. Di mana para pendidik masuk ke dunia pendidikan untuk mencari pekerjaan, uang dan pengakuan dari sosial bahwa dia adalah guru. Kita hidup pasti menerima benturan benturan dari lingkungan sekitar dan seharusnya kita filter semua itu menjadi lebih baik dengan menyeimbangkan olah pikir, olah roso dan olah rogo sehingga mampu menjadi kerenjang sampah bagi diri sendiri, minimal.

“Sebagai kerenjang sampah kita harus dapat memahami karakter permasalahan yang dihadapi sehingga dapat meyimpulkan dan mendapat solusi atas masalah yang dihadapi olehnya,” menurut Pak Sadirin, salah satu jamaah yang diminta mas Zainul untuk mencoba memaparkan soal kerenjang sampah.

Djenar mencairkan suasana dengan tembang karya pribadinya yang berjudul “Pagebluk Loro Jiwo”. Mas Bombom dari Maospati bertanya mengenai kebingungannya mengenai tema yang dibawa oleh WK, bagaimana esensi dari kerengjang sampah. Bagaimana dia beranggapan ketika pribadinya menjadi kerenjang sampah tentu juga menjadi sampah dengan memberikan contoh sebagai penguat atas apa yang disampaikan. Dia juga menanyakan apa Waro’ Kaprawiran dari Ponorogo?

Mas Zahrul mencoba memberi jawaban dengan menjelaskan bahwa kerenjang sampah adalah suatu hal yang luas dan seperti apa yang telah disampaikan di depan hanya menjelaskan kerenjang sampah dari kapasitas masing–masing pembicara. Tentu apa yang diterima oleh setiap jamaah atas apa yang dipaparkan oleh masing-masing pembicara berbeda antara.

Lek Hamad dari Padhangmbulan mencoba melengkapi pembahasan malam ini. bahwa setiap manusia berpotensi menjadi sebuah kerenjang dan menyimpulkan bahwa sampah merupakan sebuah output. Sampah itu ada dua jenis, yaitu sifatnya adalah jasad dan yang sifatnya rohani. Untuk mengelola itu semua bisa melalui pendidikan dan manusia dapat mengelola mana yang manfaat dan mana yang mudlorot. Ketika anda merasa dicurhati oleh siapapun, cobalah meningkatkan RAM dan melebarkan hati yang kita miliki sebab ketika seseorang curhat kepada kita sedangkan kita pribadi punya masalah juga, jika kita tidak memiliki hati dan pikiran yang jembar maka kita sendiri yang “ngelu”. Naikkanlah kepada kanjeng nabi dan Gusti Allah, memintalah tolong padaNya. Ingatlah bahwa kanjeng nabi adalah kerenjang sampah terbesar dalam kehidupan, dan biarkanlah Gusti Allah yang menyelesaikan semuanya.

Malam sudah menunjukan pukul 23.50, namun jamaah masih setia dan khusyuk menyimak. Lek Hamad mengajak jamaah untuk membacakan Wirid Wabal yang kemarin baru saja di-launching di Komunitas Kenduri Cinta di TIM Jakarta oleh Cak Nun. Sebelumnya Lek Hamad menerangkan bahwa Wirid Wabal adalah wirid untuk meminta balasan bagi kedhaliman manusia agar memberikan keselamatan kelak. Lantunan Wirid Wabal dilanjutkan Doa Tahlukah membuat jamaah larut masuk dalam irama wirid dan khusyuk memanjatkannya. Tidak sedikit yang sampai menitikkan air mata. Setelah selesai melantunkan Wirid Wabal, Lek mengajak jamaah untuk berdiri dan merapat memanjatkan doa bersama. Nomor Shohibu Baiti oleh Gamelan Kiai Iket Udeng menutup Majelis Masyarakat Maiyah Waro Kaprawiran edisi Januari kali ini.