Keponakan Bang Haji

Hanyalah padaMu Yang Maha Kuasa // Kuminta kau sadarkan cinta // Padaku yang diracuni asmara // Janganlah aku dirayu // Janganlah aku kau goda // Tak sanggup ku menahan // Beban kasih asmara // Beban kasih asmara

Suara tinggi mengalun merdu menyayikan awal lagu ini, bersambung menyambut sebuah lagu milik Maroon 5 yang dinyanyikan sebelumnya. Suara itu senyawa dengan lirik lagunya, sehingga terasa jika lagu itu kok sepertinya merupakan jeritan hati sang pemilik suara. Suara yang ingin segera terlepas dari beban-beban yang hanya asmara, untuk segera mewujudkan kasih yang tak memilih, dalam jalinan kehidupan pasangan suami istri yang sudah sangat lama sekali diidam-idamkannya.

Dialah yang dengan percaya diri mengaku sebagai keponakannya Bang Haji, raja dangdut yang masyhur itu. Tentu hanya suaranya saja yang berani diakuinya sebagai keponakan Bang Haji, fisiknya tidak.

Dalam banyak pementasan KiaiKanjeng akhir-akhir ini, setelah ending musik yang cukup menghentak dibawakan berjudul One More Night, seakan tanpa putus dilanjut dengan Beban Kasih Asmara. Sebuah musik dangdut melayu, menjadi persambungan yang menyatu dengan rapi.

Imam Fatawi

Perpaduan dua lagu ini tidak dengan sengaja dibuat menyambung seperti itu, melainkan sebuah keterjadian dari beberapa kali persembahan, yang ternyata menjadi indah bila disambungkan. Jadilah sebuah paket dengan masing-masing lagu berlatar budaya berbeda. Yang satu dari kutub modern Barat, berpadu dengan yang dari Timur. Dua lagu ini tidak pula secara hitam-putih dibawakan dengan baju Barat-Timur itu.

Oleh KiaiKanjeng, entah itu musik Barat, pelosok Afrika, seantero Nusantara, hingga karya-karya Ummi Kultsum yang fenomenal, tiap lagu diolah dengan pengejawantahan Arab digarap, Barat diruwat, dan Jawa dibawa. Termasuk One More Night tidak secara telanjang dibawakan seperti dari ‘sono’-nya, tapi diruwat oleh KiaiKanjeng dengan membawa Jawa-nya, menjadi sebuah aransemen yang Ngiai Kanjeng. Pun dengan dangdut melayu, tidak apa adanya, terlebih dahulu diramu dengan nada-nada gamelan KiaiKanjeng.

Dengan bekal memangku semua jenis lagu dari seluruh dunia itu, KiaiKanjeng diperjalankan Tuhan menyusuri bumi-Nya. Malaysia, Hongkong, Macau, Australia, Eropa, Timur Tengah, hingga pelosok-pelosok kampung dan hutan Indonesia yang tidak pernah terbayangkan dijangkau grup musik lain negeri ini, sudah pernah disinggahi.

Untuk menyapa masyarakat di kota-kota besar dunia, di pinggir-pinggir desa, di pedalaman Nusantara, di tepi-tepi. Juga diminta untuk mendamaikan masyakarat di wilayah konflik horizontal, yang bisa mengancam nyawa mereka. Dan ajaibnya, 22 tahun perjalanan Kiaikanjeng tidak dianggap dalam jagat raya khazanah musik tanah air.

Sudah tentu sang keponakan Bang Haji juga pasti tidak tercatat dalam khazanah itu. Pun tidak patheken baginya tercatat atau tidak dalam daftar penyanyi dangdut tanah air. Yang maha penting buat dia adalah segera tercatat di dalam dua buku kecil berwarna merah dan hijau: Buku Nikah. Satu untuknya, dan satu buat “calon mantan” pacarnya.

Dulu, sebelum bergabung di KiaiKanjeng, keponakan Bang Haji ini punya hobi asyik untuk menyalurkan hasrat menyanyinya, yaitu mengikuti lomba karaoke dangdut. Telinganya sangat tajam jika terdengar ada sebuah lomba karaoke dangdut. Di manapun ada lomba itu, dia akan ikut, hingga ke seluruh Jawa Tengah. Capaian tertinggi hobinya adalah akhirnya bisa menjadi juara lomba karaoke dangdut se-Jawa Tengah & DIY.

Tapi ada kegalauan dalam hatinya. Ia yang sarjana IAIN merasa, menyanyi dangdut jika hanya untuk senang-senang semata, bertentangan dengan nuraninya. Apalagi ia lulusan IAIN, kok menyanyi dangdut. Begitu pikirnya mengikuti pandangan masyarakat di kampungnya.

Kalau melihat perjalanan pendidikan yang dilaluinya, sudah sangat pantas ia menjadi pegawai KUA. Toh bapaknya adalah pegawai Departemen Agama, di Blora tempat kelahirannya. Namun menyanyi dangdut sudah mendarah daging dalam dirinya. Ia merasa dangdut menyatu dalam darah mudanya. Ia tak bisa lepas dari dangdut. Tapi ia Sarjana Agama Islam. Bagaimana ini.

Ia mencoba merenung. Akhirnya ia mendapat pencerahan dengan melihat sosok sang “paman”. Bang haji raja dangdut. Ia terinspirasi mengikuti jejak “paman” yang bisa menyelaraskan nada dan dakwah.

Ya, ia ingin tetap menyanyi dangdut dengan tidak meninggalkan nafas IAIN-nya. Ia ingin, melalui suara merdunya bisa mendekatkan dirinya kepada Tuhan, bisa mengajak orang banyak bersama-sama berbuat kebaikan. Sungguh mulia pikiran pemuda ini.

Tapi ke mana? Bagaimana caranya? Paman yang nun jauh di Jakarta sana tidak bisa digapainya. Ia pun mencari jalan untuk mewujudkan keinginannya itu. Waktu berjalan, hingga akhirnya di akhir abad 20 saat itu, ia merasa menemukan labuhan nada dan dakwahnya.

KiaiKanjeng pada medio 1998-2000 sedang berjuang mengajak masyarakat bersholawat. Belum ada kelompok musik yang bersholawat seperti yang menjamur saat ini. Sholawat tidak sepopuler sekarang. KiaiKanjeng yang saat itu hanya digawangi tujuh orang, berkeliling ke seluruh Indonesia, dengan alat apa adanya, menggunakan minibus hingga menembus daerah-daerah mencekam di masa isu dukun santet saat itu, bersama Cak Nun.

Pernah dalam satu malam menghadiri undangan sholawat di tiga kabupaten, yang tiba di lokasi ketiga menjelang subuh, dan masyarakat tetap bersemangat sholawat bersama mini KiaiKanjeng. Sound system pun hanya sebatas pengeras suara TOA.

Perjuangan kurang lebih tiga tahun itu dilakukan dengan khusyuk. Dan sekali lagi ajaibnya, ketika kini ramai grup sholawat, penduduk negeri ini amnesia dengan siapa yang berjuang memasyarakatkan sholawat.

KiaiKanjeng lah yang akhirnya menjadi niat tujuan keponakan Bang Haji. Di KiaiKanjeng pula ia melihat nada dan dakwah itu terwujud. Maka, ia berniat bergabung dengan kelompok ini. Caranya pun tak tanggung-tanggung, seperti layaknya melamar pekerjaan ke perusahaan.

Surat lamaran ia susun. Ijazah SD hingga IAIN ia lampirkan. Bukti-bukti juara lomba karaoke ia sertakan. Tak lupa pula sebuah kaset yang sudah bersedia ridho ikhlas menampung rekaman suara merdunya dalam pita. Berangkatlah ia menuju Kadipiro, yang ia ketahui KiaiKanjeng ada di sana.

Sebenarnya ini tak lazim bagi KiaiKanjeng, karena tidak pernah ada sejarahnya orang melamar untuk bergabung. Semua dipertemukan dengan alamiah. Bahkan dalam jagat grup musik negeri ini, mungkin belum pernah ada sejarahnya orang melamar untuk menjadi vokalis sebuah grup musik layaknya seperti melamar menjadi pegawai KUA.

Singkat cerita, keponakan Bang Haji menorehkan sejarah di KiaiKanjeng, ia satu-satunya personil yang mengajukan lamaran dan diterima. Ia tetap berjuang bersama hingga kini.

Dengan perjalanan bersama KiaiKanjeng, sebenarnya kini ia berada dalam garis lurus, sejajar dengan sang paman di dunia seni musik tanah air. Hanya bedanya, sang paman bisa berkali-kali beristri, namun sang keponakan ini, hanya satu kalipun sulitnya minta ampun. Atau mungkin saking khusyuknya berjuang bersama KiaiKanjeng, ia memang lupa untuk beristri.

Lupa memang sebuah keajaiban yang dianugerahkan kepadanya, segaris dengan keajaiban bahwa KiaiKanjeng dilupakan dalam catatan alam raya musik negeri ini. Entah sudah berapa banyak telepon genggam yang lupa di mana ia letakkan. Pernah ditaruh di atas bangku sebuah warung di Surabaya, dan ia baru ingat saat bus sudah beranjak masuk Jombang.

Ia seorang pengendara scooter. Suatu ketika, ia berangkat dengan Vespa setianya dari kediamannya di pinggir timur Jogja menuju Kadipiro, untuk latihan rutin bersama KiaiKanjeng. Menjelang Kadipiro ia mampir makan di sebuah warung. Karena jarak yang tidak jauh lagi, ia pun jalan kaki ke tempat latihan.

Usai latihan, ia panik bingung mendapati Vespa-nya tak ada di parkiran. Sontak menggegerkan seantero Kadipiro. Semua gupuh ikut bingung. Selidik punya selidik, akhirnya butuh waktu agak lama baginya untuk menyadari, jika scooternya tertinggal di warung. Duh. Sungguh nasib Vespa setia yang malang.

Telepon selular dan Vespa saja ia lupakan, apalagi hanya sekedar kunci.  Mungkin sudah ratusan kali lenyap. Puncak keajaiban keponakan Bang Haji ini, adalah saat ia pernah diberi kesempatan Tuhan menjalin kasih asmara dengan seorang gadis jelita, yang juga akrab dengan personel KiaiKanjeng lainnya.

Suatu ketika, sepasang cicit Adam ini jalan-jalan mengendarai Vespa malang itu ke Delanggu, Klaten untuk silaturahmi ke kediaman vokalis KiaiKanjeng yang lain. Sebelum tiba di rumah Kiainya KiaiKanjeng ini, mereka berhenti di sebuah jembatan, untuk sekedar menikmati indahnya pemandangan sungai di bawahnya.

Semilir angin menambah asyik obrolan bahagia. Tak lengkap rasanya bila tidak ada cemilan yang menemani. Maka ia pamit sebentar kepada kekasih hati untuk membeli makanan dan minuman ringan di warung sekitar. Berangkatlah ia dengan Vespa-nya.

Setibanya di warung, ternyata ia bertemu sang Kiai. Karena memang niatnya silaturahmi ke beliau, dari yang awalnya sapaan singkat, ternyata berlanjut seru menjadi obrolan berjam-jam. Di tengah-tengah obrolan, sang Kiai bertanya bersama siapa ia ke Delanggu.

Waduh. Seakan petir menyambar di siang bolong, ia teringat jika ke sana bersama kekasihnya. Tanpa pikir panjang, seketika Vespa dipacu melaju ke jembatan.

Sesampainya, sang kekasih sudah tidak lagi berada di sana. Dicari-cari di sekitar tidak ada. Ia pun coba telepon, diangkat. Terdengar suara kesal di ujung sana mengatakan sudah pulang ke Jogja. Alamak. Ada yang lebih malang dari Vespa-nya. Pujaan hatinya ia tinggalkan di jembatan! Dan berakhir pula hubungan mereka. Sang kekasih terlanjur trauma, menjadi beban berat dalam asmara.

Tapi itu dulu. Kini, ia pun masih tetap pelupa. Hanya satu hal yang tidak pernah dilupakannya, bahwa ia masih membujang. Di usianya yang sudah semakin larut ini, kabarnya ia tak lama lagi akan mengakhiri masa lajangnya. Alhamdulillah.

Sebuah berita gembira bagi KiaiKanjeng, yang benar-benar sangat berharap padanya. Semoga ketika saatnya sudah menikah, ia tidak lupa kalau ia sudah punya istri!  Karena kalau lupa, bisa-bisa ia mengikuti jejak sang “paman”.