Daur (255)

Kepemimpinan Tutup Botol

Tahqiq : “...kita tidak bisa menemukan Allah tanpa mengenali makhluk-Nya, tetapi kita juga tidak akan bisa mengenali makhluk-Nya tanpa menyadari-Nya. Demikianlah berikutnya kata ‘mengenali’ itu bisa dikembangkan ke tahap ‘mencintai’, 'menyikapi’, ‘mengelola’, ‘mengkhalifahi’, misalnya....”

“Jadi apa saja lima tahqiq tema usulanmu, Jitul?”, Tarmihim bertanya, “yang tutup-tutup botol tadi beneran atau permisalan saja?”

Jitul menyeringai.

“Dianggap permisalan ya bisa, diresmikan sebagai judul beneran ya mungkin-mungkin saja, Pakde”, jawabnya.

“Bagaimana penjelasannya?”

“Di zaman darurat ini”, jawab Jitul, “atau bahkan memang itu salah satu yang menyebabkan zaman menjadi darurat: banyak botol tidak ada tutupnya, sehingga isinya tumpah-tumpah. Atau banyak tutup tak ada botolnya, sehingga supaya tetap berguna tutup-tutup itu ada yang mencari botol, ada yang membotol-botolkan diri, ada yang mempublikasikan dirinya sebagai botol, bahkan ada yang jualan isi botol padahal yang ia punya cuma tutupnya….”

“Sebentar, Tul”, Tarmihim menginterupsi, “apakah maksudmu adalah bahwa di zaman darurat ini banyak pemimpin, pejabat, wakil rakyat, bahkan Ulama, Kiai dan Ustadz Tutup Botol?”

“Banyak tidaknya harus diteliti. Yang rakyat umum tahu hanyalah kesimpulan rasa dan tadabbur. Sebagaimana soal maling dan korupsi, misalnya. Dulu orang bilang ‘korupsi makin merajalela’ atau ‘makin banyak jumlah koruptor’. Era berikutnya mereka bilang ‘kebanyakan uang yang mengalir pasti dikorupsi’, atau ‘mayoritas pemegang uang rakyat adalah koruptor’. Kemudian puncaknya mereka merasakan ‘susah membayangkan ada uang rakyat mengalir, entah di sebelah mana, yang tidak dikorupsi’. Atau ‘sukar membayangkan ada yang bukan koruptor’. Kalau pakai pengimajinasian atau simulasi: ‘rasanya jumlah koruptor lebih banyak dibanding jumlah penduduk’ Republik ini. Sebab korupsi sudah menjadi spontanitas mental sehari-hari. Korupsi sudah menjadi cara berpikir dan benih niat yang diam-diam tumbuh kembang dalam diri setiap orang. Nggak tahulah, Pakde, yang jelas terlalu banyaknya botol tanpa tutup, banyaknya tutup yang tanpa botol, belum lagi yang ada botolnya, ada isinya dan ada tutupnya, tapi ternyata isinya bukan seperti yang diinformasikan – kenyataan itu sudah sangat darurat…”

“Sudahlah Tul, ayo apa saja usulanmu…”, Junit memotong.

“Ya yang pertama bab Tutup Botol, Isi Botol, dan Merk Botol. Kedua itu berkaitan dengan keperluan generasi muda untuk tidak tertipu oleh beda antara Merk Botol dengan Isi Botol. Ada kepalsuan dan pemalsuan. Ada pemalsuan yang kontan dan ‘ainulyaqin, ada yang retoris, ada yang eufemistik, yang di ranah itu juga rawan untuk memunculkan pemalsuan-pemalsuan berikutnya. Maka saya usulkan agar Pakde Paklik membukakan pintu pengetahuan dan membeberkan kuncu-kunci ilmu, agar kami tidak mudah diperdaya. Misalnya beda-beda dan tingkat-tingkat pendekatan yang kita pakai untuk memahami realitas. Saya pernah mendengar Mbah Markesot menyebut ada Metode Wajhiyah, Wujudiyah, dan Siasiyah….”

“Baik. Catat dan bungkus”, sahut Junit, “berikutnya apa, empat yang lainnya”

“Maaf Nit, katanya kita tidak pakai pembidangan, melainkan komprehensi dengan titik berat bidang-bidang. Mbah Sot membahasakan bahwa kita tidak hidup di bilik-bilik yang berbeda di sebuah ruangan luas. Melainkan kita bersama-sama semua penduduk bumi dan Negara memasuki ruang besar kehidupan yang sama, tetapi melalui pintu-pintu yang beragam”

“Hubungannya dengan usulanmu apa?”

“Tutup Botol tadi itu titik beratnya. Untuk membicarakan itu kita bisa menemukan dan memakai titik-titik berat yang lain: Isi Botol, Merk Botol, Titik Koordinat Letak Sosial Botol, dan banyak sekali titik berat lainnya. Jadi kalau saya mengajukan usulan lima tema, sebenarnya dari Tutup Botol saja terkandung puluhan tema-tema atau titik-titik berat….”

“Jadi usulan kamu cukup Tutup Botol itu?”

“Lho banyak lainnya. Misalnya Pohon. Kenapa Allah memakai simbolisme Pohon untuk menggambarkan kualitas kalimat, komunikasi, silaturahmi, bangunan, keluarga, kebudayaan masyarakat, peradaban ummat manusia, Negara, perusahaan, kumpulan-kumpulan dan apa saja yang merupakan ruang dialektika antar manusia, sesamanya atau dengan alam dan Tuhan….”

“Sebenarnya saya mau usul soal Pohon itu”, Toling menyela, “Pohon yang baik, kata Tuhan. Unsurnya: Akar menghunjam. Tidak sesuai sunnatullah kalau akar hanya menghunjam vertikal ke dalam tanah, tanpa ada support ke sekelilingnya. Jadi pasti akar yang menghunjam juga merambah. Demikian juga daun-daunnya kata Tuhan menjulang ke langit dan merambahi angkasa sekeliling segala penjuru horisontal. Dari titik berat Pohon itu bisa kita temukan titik-titik berat yang lain….”

Kalimat Brakodin berikut, lagi-lagi, seperti mementahkan pembicaraan yang sudah bergulir indah.

“Kalau pakai metode seperti itu, kita bisa sampai ke mana saja dan menyentuh apa saja, sehingga sebenarnya tidak berguna kita mendaftari dan mengurut tema-tema….”

“Nggak gitu, Mas Din”, kata Sundusin pelan, “Setiap itu merisikokan Semua, dan Semua itu memuat Setiap. Makro memuat Mikro, Mikro tak bisa kita temukan sebagai Mikro tanpa perspektif Makro. Tak apa anak-anak memilih dan menyebut yang mikro-mikro, toh dengan kesadaran makro. Awal-awal dulu di Patangpuluhan Cak Markesot sangat sering mengemukakan: kita tidak bisa menemukan Allah tanpa mengenali makhluk-Nya, tetapi kita juga tidak akan bisa mengenali makhluk-Nya tanpa menyadari-Nya. Demikianlah berikutnya kata ‘mengenali’ itu bisa dikembangkan ke tahap ‘mencintai’, ‘mengelola’, ‘menyikapi’, ‘mengkhalifahi’, misalnya. Cak Din, kita kawal saja anak-anak muda ini memproses pencariannya sendiri….”.