Daur (232)

Kepemimpinan Sarung Nglrempek

Tahqiq : “Tuhan tidak mengabadikan jasad manusia. Tuhan tidak menantikan hamba-hamba-Nya membawa kepada-Nya kebanggaan-kebanggaan dunia. Yang Allah menyediakan tempatnya di keabadian adalah istiqamah tauhid hamba-hamba itu, kesetiaan cinta para kekasih-Nya itu”

“Sebenarnya belum tentu penting membicarakan wahyu itu satu tiupan ataukah seperti hujan yang turunnya berkala”, tiba-tiba terdengar suara Markesot langsung. Semua mendengarkan.

“Ketika muncul tema yang membuat Junit bertanya kenapa kita orang-orang tua yang gagal ini seolah-olah mencemburui keistimewaan para Nabi dan Rasul yang dianugerahi wahyu dan mukjizat oleh Allah, sesungguhnya bobot utamanya bukan wahyu. Sebab wahyu sudah cukup. Informasi dan ajaran Allah melalui para Nabi dan Rasul sudah cukup untuk menjadi bahan apapun saja. Sudah tersedia solusi untuk permasalahan-permasalahan zaman yang seberat apapun….”

Markesot berhenti beberapa saat. Semua menunggu.

“Titik berat kerinduan kita adalah ketidakmampuan kita untuk menahan rindu akan ada atau hadirnya Nabi di zaman yang penyakit-penyakitnya kita tak sanggup mengobati sekarang ini. Tingkat keruwetan masalah bangsa kita dan ummat manusia sudah sangat membenturkan kita di tembok kebuntuan yang tak bisa digeser lagi. Ummat manusia saat ini benar-benar butuh Nabi. Butuh pemimpin yang cinta Allah kepadanya sepadan dengan cinta-Nya kepada Nabi-Nabi kekasih-Nya dulu….”

Ternyata Junit ini memang contoh dari anak muda yang benar-benar belajar kepada Mbah Sot-nya maupun Pakde-Pakde dan Paklik-Pakliknya. Kenyataan itu tentu saja sangat membuat Markesot dan teman-temannya bergembira. Rasanya Junit dan kaum muda yang bersamanya inilah salah satu yang akan “melanjutkan hidup” mereka sesudah Tuhan memanggilnya nanti sewaktu-waktu.

Tuhan tidak mengabadikan jasad manusia. Tuhan tidak menantikan hamba-hamba-Nya membawa kepada-Nya kebanggaan-kebanggaan dunia. Yang Allah menyediakan tempatnya di keabadian adalah istiqamah tauhid hamba-hamba itu, kesetiaan cinta para kekasih-Nya itu.

Tuhan tidak menguji hamba-hamba-Nya dengan menuntut tingginya prestasi atau kehebatan perannya dalam kehidupan di bumi. Yang akan dicentang atau dicoret oleh Allah, yang akan ditorehi tinta biru atau merah, adalah ketahanan manusia sampai akhir hayatnya untuk tetap berada dalam pemihakan kepada konsep dan kehendak-Nya atas ciptaan-Nya.

Junit bertanya lebih lanjut. “Saya mendengar beberapa kali dari Pakde-Pakde dan Paklik-Paklik bahwa Mbah Sot pernah menjelaskan konsep bahwa bangsa kita membutuhkan pemimpin Satriyo Pinandito Sinisihan Wahyu. Bersama teman-teman kami melihat bahwa pemimpin-pemimpin yang dipilih oleh bangsa ini semakin jauh kualitasnya dari rumusan itu, karena pertimbangan memilihnya juga memang tidak sedikit pun diwarnai oleh kearifan ilmu itu”

Junit agak melebar sedikit menguraikan bersama dengan pertanyaannya misalnya tentang syarat kepemimpinan yang dirumuskan dengan idiom integritas, akuntabilitas, kapabilitas, dan akseptabilitas. Empat kata itu tidak pernah tumbuh, tidak pernah ada penguraiannya, tidak pernah ada penafsiran dan perumusannya. Ibarat pohon ia hanya benih. Benih yang akhirnya membusuk dan menjadi batu. Karena tidak jelas tanahnya, tidak ditanam dengan benar, tidak disirami. Jangankan lagi bersemi menjadi pohon yang berdahan, berdaun, berbunga, dan berbuah.

Tata kebangsaan dan kenegaraan dijahit tidak menjadi baju dengan kejelasan lengan tangan, kerah leher dan bilahan kancingnya. Melainkan seperti sarung nglemprek, tidak ada disainnya dan bisa diubah-ubah konstruksi dan tonjolan-tonjolannya kapan saja.

Integritas apanya, mana skala nilai-nilainya, pijakannya, persentuhan dialektisnya. Tidak pernah dijelaskan dan tidak pernah ada permintaan atau tuntutan atau kebutuhan untuk dijelaskan. Apalagi keterkaitan empirisnya dengan subjek-subjek sosiologis, antropologis, politologis serta apapun yang terhimpun dalam sistem nilai kebangsaan kita.

Akuntabilitas apa dan bagaimana. Dihitung, diperhitungkan, di-muhasabah-i berdasarkan peta nilai apa saja. Satu-satunya fakta yang dihitung secara faktual adalah akuntansi keuangan, lalu lintas rayuan kepada pemilih, sogokan, grativikasi massal. Tidak ada hitungan mutu, tidak ada pijakan kualitas dan substansi, tidak ada hisab internal para calon maupun eksternal ke masyarakatnya, apalagi ke masa depan zamannya, alih-alih ke nasib di depan Tuhannya.

Kapabilitasnya juga eufemistik, penyamaran, dan pemalsuan. Sebab tidak tersedia pula ilmu yang jelas tentang Negara, Pemerintahan, Birokrasi, Undang-undang dan aturan-aturan mainnya. Tidak jelas pilah-pilah dan anatomi kenegaraan dan kepemerintahannya. Tidak jelas konstruksi bernegara yang bagaimana yang dimaksudkan. Republik bukan, Kerajaan bukan, Khilafah bukan, Tribal bukan, Keluarga bukan, Rumahtangga bukan, persaudaraan bukan, kerjasama bukan, team work bukan.

Disebut Republik tapi penyelenggaraan demokrasinya sandiwara, seperti tukang parkir yang hanya berteriak “terus terus, kanan kanan, stop” kemudian meniup peluit, tanpa ia menyediakan di mana kendaraan parkir, tidak memandu kendaraan agar bisa meletakkan di tempatnya, pun tidak menjaga keamanannya.

Disebut Kerajaan tidak ada Rajanya, tapi manifestasi perilakunya melebihi kuasa Raja, struktur kepatuhannya melampaui alur sendhiko dhawuh dan itu pun dengan tradisi ngapurancang nasional yang berlebihan, tanpa nalar, apalagi martabat. Logika birokrasinya memakai nalar Kerajaan namun tanpa kesantunan dan kemurahan hati Raja, melainkan ekspresi eksploitasi dan penyebaran ketidakamanan ke seantero Negeri.