Daur (235)

Kepemimpinan Orang Sakit

Tahqiq : “Misalnya di zaman sekarang ini jumlah orang sakit tidak hanya semakin banyak, tapi juga seakan-akan bisa dipastikan bahwa akan selalu banyak dan semakin banyak orang sakit”

Pada pertemuan berikutnya di rumah Pakde Kasdu, salah seorang teman Markesot yang menekuni tanaman pohon kemenyan, ternyata Markesot tidak hadir.

“Tidak begitu jelas”, kata Brakodin, “mungkin sedang pergi beberapa lama untuk kuliah atau mungkin malah mengajar”

Junit agak kecewa. Ia datang dengan dua orang temannya, Toling dan Jitul, dua orang pilihan yang sungguh-sungguh ingin banyak belajar dari Mbah Markesot dan para Pakde Paklik dalam pertemuan itu.

“Mbah Sot kuliah?”, Junit heran, “maksudnya?”

Tentulah dia kurang mengerti. Orang setua Mbah Markesot kok kuliah. Memang sih mencari ilmu itu sejak lahir hingga sebelum masuk liang kubur. Tapi Mbah Sot kuliah gimana, sejak muda dulu sekolahnya pun tidak pernah jelas.

“Kuliah itu maksudnya sedang pergi masuk hutan”, kata Tarmihim dengan tertawa.

“Masuk hutan? Kuliah?”, Toling dan Jitul berpandangan satu sama lain. Tentu saja manusia belajar tidak hanya di Sekolah atau kampus. Manusia belajar kepada siapa saja dan apa saja. Sampaipun kepada setan dan iblis, sampaipun kepada rerumputan dan tlethong sapi atau kerbau.

Tetapi bagaimana jelasnya kuliah di hutan belantara itu. Siapa yang kasih kuliah. Dan kalau Mbah Sot mengajar, siapa yang mahasiswa atau murid-muridnya. Hantu-hantu? Kumpulan Jin? Atau orang-orang prasejarah yang tinggal di dalam hutan?

“Apakah kalian pernah mendengar apa kata Mbah kalian Markesot berkata tentang kuliah?”, Sundusin bertanya kepada Junit dan dua temannya.

“Belum, Pakde”, jawab Junit.

“Mungkin memang kalian perlu mendata dan mencatat dari orang-orang tua ini segala sesuatu yang sejak awal dulu dikemukakan oleh Mbah kalian Markesot”

“Memang ada terbersit niat semacam itu dalam hati kami”, Toling menjawab, “kami menyepakati untuk selalu hadir di pertemuan Pakde Paklik ini sekurang-kurangnya selama enam bulan atau setahun berturut-turut, untuk memperoleh kelengkapan pandangan, wawasan dan ilmu dari lingkaran Mbah Markesot dan Pakde Paklik”

“Kok bisa mikir seperti itu?”, Tarmihim bertanya.

“Karena yang selama beberapa tahun ini kami pelajari adalah hal-hal yang justru menjadi salah satu sumber permasalahan yang semakin membelit masyarakat dan membuat bingung kami generasi muda. Rasa-rasanya keadaan dunia ini irama rusaknya bersamaan dengan irama adanya sekolahan-sekolahan”

“Dan tidak mungkin kami mencari bahan untuk menyembuhkan keadaan-keadaan yang semakin rusak itu dari ilmu dan pengetahuan yang justru menjadi sumber kerusakan”, Jitul menambahkan, “sekarang waktu semakin mepet dan mendesak. Kami adalah kumpulan anak-anak muda yang cemas melihat masa depan”

“Bukankah sekarang ini dunia semakin maju, semakin megah, semakin canggih?”, tanya Tarmihim.

“Maksud Pakde?”

“Ya kan cetho welo-welo, terang benderang segala kemajuan itu. Ribuan pesawat berseliweran di angkasa setiap saat. Gedung-gedung besar tinggi berdiri di mana-mana. Cahaya lampau gemerlap menerangi semakin banyak wilayah di permukaan bumi. Ada satelit-satelit pula. Ada komunikasi yang luar biasa canggih teknologinya. Ada demokrasi yang gegap gempita. Ada kreativitas teknologi yang tak pernah berhenti ditemukan kebaruan dan pembaruannya. Setiap orang menggenggam sebatang logam ajaib, yang dengan satu sentuhan di layarnya kalian bisa masuk sorga…”

Tiga anak muda itu berpandangan satu sama lain. “Maaf ya Pakde”, kata Jitul, “itu semua benar. Tetapi ada sisi lain yang kami pelajari dan ketahui dari Pakde dan Paklik. Andaikan kami tidak bersentuhan dengan lingkungan pergaulan Mbah Markesot beserta Pakde Paklik, mungkin kami tidak pernah tahu hal itu….”

“Tahu tentang apa?”, Sundusin mengejar.

“Tentang bahan-bahan yang membuat kami tidak tenggelam dan terpukau hanya oleh kemajuan-kemajuan zaman sekarang, tetapi memiliki bahan-bahan bandingan”

“Bandingan bagaimana?”

“Memang kemajuan kasat mata dalam kehidupan sekarang ini luar biasa. Tetapi ada kenyataan-kenyataan di sisi lain”

“Apa misalnya?”

“Misalnya di zaman sekarang ini jumlah orang sakit tidak hanya semakin banyak, tapi juga seakan-akan bisa dipastikan bahwa akan selalu banyak dan semakin banyak orang sakit. Sedemikian rupa sehingga para pengusaha berani membangun industri pengobatan yang bernama Rumah-rumah Sakit, dengan biaya yang sangat mahal. Mengobati manusia itu pekerjaan kemanusiaan, bahkan kegiatan ketuhanan, tetapi sekarang menjadi bidang usaha ekonomi yang permanen. Pengusaha Rumah Sakit berani menyediakan supply perangkat-perangkat pengobatan, dengan biaya yang tidak mungkin berani dibelanjakan apabila tidak ada perhitungan bahwa demand-nya pun sangat maksimal….”

“Perusahaan Rumah Sakit itu bergerak di atas jalanan perekonomian yang teguh dan permanen, seakan-akan yang diproduksi bukan hanya obat-obatan dan segala maintenance pengobatan. Tetapi seolah-olah mereka juga memproduksi orang-orang sakit. Ada semacam sistem dan kepemimpinan untuk memastikan stabilitas dan progresi jumlah orang sakit”, Jitul menambahkan.