Daur (302)

Kepemimpinan Linglung

Tahqiq : “…Andaikan sorganya Allah diletakkan di Indonesia, insyaallah akan digadaikan dan diobral juga oleh pikiran linglung sang pemimpin.…”

Bangsa dan Ummat ini secara spiritual dibesarkan oleh ketidaktenangan, ketergesaan, dan kegugupan. Secara psikologis dibesarkan oleh suasana yang sangat menghembuskan kebencian dan dendam.

Bangsa dan Rakyat menjalani hari-hari di mana mereka tidak menemukan bahwa mereka memiliki Negara yang lebih merupakan ancaman dibanding melindungi mereka. Pemerintahan yang bukan hanya tidak mewakili mereka untuk membangun keamanan bagi nyawa, martabat, dan harta benda. Melainkan justru merupakan gangguan dan mengepungkan kepada mereka kekisruhan-kekisruhan.

Dulu enak-enak hidup dengan alam, dikumpulkan jadi rakyat Kerajaan-kerajaan. Kemudian datang penjajah, Kerajaan-kerajaan diajak pacaran, mengkawulakan rakyat, merampok bersama. Memang ada Kerajaan yang mau dipacari bahkan digundiki penjajah, dan ada juga yang tidak mau. Tapi ketidakmenentuan itu berlangsung berabad-abad lamanya.

Kemudian katanya penjajah sudah minggat dan kita bikin Negara berdaulat. Tujuan Negara adalah membikin pagar untuk melindungi keamanan rakyat dan harta benda tanah air. Ternyata kemudian Negara malah merobohkan pagar itu, tanah air dijadikan satu di dalam Kerajaan Globalisasi. Iblis dan Setan model apa saja boleh masuk wilayah tanah air, dan para kawula tiba-tiba harus bertanding melawan Setan Iblis. Ada yang bertahan, tapi kebanyakan kalah dan dijadikan jongos, pekatik, buruh, dan bahkan hakikinya budak-budak.

“Pakde Brakodin, saya mencatat beberapa hal mendasar”, kata Seger, “tentang diruntuhkannya kedaulatan bernegara dan bertanah air kita. Yang meruntuhkan adalah pemimpin Negara ini sendiri. Bukannya kalah karena ditodong dengan senjata, meriam atau rudal. Pemimpin kita malah menjadi pengemis yang mempersilakan dan mengharap-harapkan agar kedaulatan rakyat dan tanah air diperkosa oleh para penjajah baru, yang tidak bergaya penjajah tetapi berlaku jauh melebihi penjajah yang dulu”

“Silakan, Seger”, Brakodin mempersilakan.

“Perjanjian utang dengan penjajah baru untuk pembangunan infrastruktur, di mana ini merupakan lanjutan dari era sebelumnya, yang sangat tidak adil dan membodohi diri sendiri serta sangat mencelakakan rakyat”, Seger memaparkan, “pemimpin menambah jumlah utang dan sumber utang. Infrastruktur tadi meliputi pembangunan bandara, pelabuhan, kereta api cepat, reklamasi, dan waduk pembangkit listrik. Jumlah utang Negara kita dalam dua tahun melebihi jumlah utang selama lebih tiga tahun yang dilakukan oleh para pemimpin sebelumnya”

“Dalam perjanjian utang untuk pembangunan infrastruktur, negara kita Indonesia berkewajiban belanja bahan baku dari negeri penjajah berikut tenaga kerjanya. Fungsi utama infrastruktur tersebut adalah menunjang sarana bagi industri atau perusahaan asing. Pembangunan infrastruktur-infrastuktur ini akan selalu diikuti penggusuran-penggusuran yang sangat semena-mena dan ini memicu instabilitas di dalam masyarakat. Ini terlepas dari fakta tentang daya tahan dan ketangguhan rakyat kita yang sangat luar biasa”

“Sang pemimpin melalui kementerian negara yang melingkupi badan-badan usaha milik Negara, serta kementerian komunikasi dan informatika berencana menjual kedaulatan sektor telekomunikasi kepada pihak asing melalui revisi undang-undang tertentu tentang penyelenggaraan telekomunikasi. Di mana operator telekomunikasi asing akan dengan mudah dipersilakan secara sangat terbuka menguasai pasar Indonesia. Di samping itu, kebijakan ini berpotensi mengakibatkan rentannya pertahanan dan keamanan nasional. Negara kita buka aurat hampir total. Telanjang hampir bulat-bulat”

“Sang pemimpin juga membuka peluang bagi perusahaan asing untuk menguasai sektor pertambangan melalui undang-undang penanaman modal asing. Dan ancaman di wilayah pertambangan ini mencakup tambang batubara, minyak, emas, dan lain-lain. Andaikan sorganya Allah diletakkan di Indonesia, insyaallah akan digadaikan dan diobral juga oleh pikiran linglung sang pemimpin”

“Belum lagi, sebagai akibatnya, proyek-proyek pembangunan infrastruktur besar ini akan berimplikasi pada penguasaan tanah Indonesia oleh pihak asing. Reklamasi Teluk Ibukota diperuntukkan bagi pengembangan kawasan Industri properti yang dimiliki oleh pihak asing. Penjajah itu merencanakan imigrasi penduduknya besar-besaran ke tanah air kita, karena bangunan-bangunan yang mereka dirikan mustahil dijangkau untuk dibeli oleh para kawula Negeri ini”

“Dulu Mbah kalian Markesot sangat sering berbicara tentang bangsa kalian yang semakin hari semakin menjadi gelandangan di Negeri mereka sendiri”, kata Brakodin, “rupanya pemimpin kalian peka dan cerdas untuk mewujudkan itu secepatnya”.