Daur (238)

Kepemimpinan Ketapel

Tahqiq : “Allah tidak dilibatkan di dalam pengolahan dan keputusan kenegaraan, hukum, aturan, regulasi, aransemen, kebijakan, pemilihan-pemilihan serta hampir semua langkah kaki dan gerak tangan, getaran hati, dan olah pikiran”

Tidak. Tidak ada acungan tinju bahwa kaum muda akan sanggup merobohkan kedholiman kemudian menegakkan kebenaran, dalam perspektif dan kadar permasalahan yang sedemikian besarnya.

Entah dari mana mereka belajar, anak-anak muda itu secara naluriah memiliki kesadaran untuk bisa mengambil jarak dari dirinya sendiri. Pengambilan jarak itu membuat mereka bisa menakar batas potensinya, mengukur kekuatan dan kelemahannya, kepastian yang bisa dilakukannya maupun ketidakmungkinan yang dihadapinya.

Memang sebelum pamit menghilang, diam-diam Markesot membisiki Tarmihim agar menjajagi Junit dan teman-temannya itu: mempelajari alam pikirannya, aspirasinya, kemauan-kemauannya, cita-citanya, seberapa luas jaringan mereka, dan semua hal-hal yang terkait dengan progresivitas pemikiran mereka.

Kenapa dan untuk apa menjajagi anak-anak muda?

“Apakah Sampeyan sedang merencanakan sesuatu?”, Tarmihim bertanya, “mungkin sesuatu yang konkret, bahkan mungkin yang besar, seperti dulu?”

Terus terang sudah lama Tarmihim, Brakodin, Sundusin, para Pakde Paklik dan semua teman-teman Markesot setengahnya menunggu-nunggu hal-hal besar yang dulu pernah banyak dilakukan oleh Markesot. Sudah cukup lama Markesot menghilang dari peredaran. Ia membiarkan saja kerusakan-kerusakan makin merajalela. Markesot selalu seperti menghindar kalau diajak bicara tentang Fir’aun-Fir’aun yang merajalela merusak kehidupan rakyat. Abu Jahal Abu Lahab merampok kekayaan rakyat. Raksasa Jalut-Jalut oleh Markesot dibiarkan tanpa Thalut dan tanpa Daud. Ada Thalut tapi hanya disuruh memperbanyak peti-peti penyimpan Tabut-Tabut sejarah.

Apakah yang dimaksud menjajagi Junit dan teman-temannya oleh Markesot itu adalah menilai ketapel-ketapel mereka, untuk suatu saat ditentukan saatnya mengambil kerikil dan batu-batu untuk dibidikkan ke jidat Jalut-Jalut? Apakah Markesot sudah menemukan sedikit kelegaan hati bahwa telah lahir generasi Daud, meskipun belum sepadan-sepadan amat dengan kadar kewajiban kejuangannya?

Para Goliath atau Jalut-Jalut di zaman ini tidak menampakkan dirinya. Tidak memimpin langsung di medan perang penaklukan dan penjajahan. Kemana ketapel diarahkan? Yang tampil adalah boneka-boneka, robot-robot, yang display-nya di layar zaman direkayasa oleh animasi-animasi media massa dan media sosial.

Wajah-wajahnya dimanipulasi dengan menempelkan topeng wajah-wajah Satrio Piningit, Imam Mahdi, Ratu Adil, Juru Selamat. Yang hadir dengan pidato janji kesejahteraan akan dilejitkan, namun kenyataannya yang melejit adalah utang-utang yang makin ditumpuk dan harus ditanggung dan tak kan sanggup terbayarkan oleh generasinya Junit.

Kebobrokan diumumkan sebagai kebangkitan. Kerusakan diiming-imingkan sebagai kemajuan. Kehancuran logika, keterjungkiran akal pikiran, memproduksi keterpurukan mental, keambrukan moral dan keputusasaan spiritual. Neraka sedang dipercepat datangnya dan diperkenalkan sebagai sorga.

Tetapi apa yang bisa dilakukan oleh anak-anak itu? Raksasa-raksasa bertiwikrama tanpa bisa dihalangi oleh kekuatan manusia, masyarakat, dan bangsa. Tuhan sepertinya juga membiarkan semua itu merajalela, dan Markesot masih saja terus sibuk dengan dunia kebatinan intrinsiknya. Apalagi Junit dan teman-temannya, mereka hanyalah beberapa gumpal kegelisahan dan hamparan kerikil-kerikil kecemasan.

Ke mana Daud-Daud kecil itu akan mencari Jalut? Di mana istana Fir’aun-Fir’aun sebenarnya? Tidak di tanah air ini pula gudang-gudang harta Abu Lahab disimpan. Dan pasukan gajah-gajah Abrahah berderap tiap saat, menginjak-injak perkambungan, menendang rumah-rumah, mengusir penghuninya, meremuk sisa harta kemiskinan mereka.

Mana burung-burung Ababil kiriman Allah. Orang-orang yang menderita di zaman ini mungkin belum memenuhi syarat untuk mendapat kiriman burung Ababil. Padahal kebanyakan mereka mengaku pengikut manusia sempurna yang lahir tatkala burung-burung Ababil itu menghancurkan pasukan Taipan Konglomerat yang menaiki gajah-gajah raksasa.

Allah mengirimkan pasukan Ababil itu karena melindungi Ka’bah rumah-Nya, sedangkan di zaman ini, di Negeri ini, Allah tidak menemukan Ka’bah di kalbu bangsa Indonesia. Mulut mereka tiap hari melontarkan kesaksian dan pernyataan bahwa mereka adalah penyembah Allah dan pengikut insan kamil yang dilahirkan oleh momentum hancurnya gajah-gajah konglomerat oleh jutaan kerikil-kerikil yang dijatuhkan dari cengkeraman kuku kaki ribuan Ababil.

Tetapi ternyata Allah ditolak oleh kehidupan mereka. Kalbu bangsa ini, terutama para pemimpinnya, dipenuhi oleh Latta dan Uzza, sehingga Allah terlempar keluar. Allah tidak dilibatkan di dalam pengolahan dan keputusan kenegaraan, hukum, aturan, regulasi, aransemen, kebijakan, pemilihan-pemilihan serta hampir semua langkah kaki dan gerak tangan, getaran hati, dan olah pikiran.

Firman-firman Allah dikumandangkan tiap malam dan siang, pagi dan sore, tetapi muatan maknanya diabaikan. Bagaimana mungkin burung-burung Ababil akan datang membayang di angkasa. Bagaimana mungkin ketapel-ketapel generasi Junit Toling Jitul akan mampu melemparkan batu-batu dari ketapelnya. Sebab Jalut-Jalutnya beralamat di keremangan sebagai Raja-Raja Siluman. Kalau generasi ketapel itu meluncurkan batu-batu pelurunya, mungkin malah dimarahi oleh para penduduk di sekitarnya.

Jangankan anak-anak kemarin sore itu. Sedangkan Markesot sendiri seperti sesosok bayangan yang duduk jongkok di pojokan zaman. Seperti orang bertapa yang tanpa mengerti kapan akan mengakhirinya. Seperti Godot yang menantikan sesuatu yang tak jelas akan datang atau tidak kepadanya.

Itulah sebabnya Tarmihim penasaran ketika diminta Markesot menjajagi Junit dan teman-temannya.