Daur (268)

Kepastian Untuk Hancur

Tahqiq : “...bahwa Negara dan Bangsa yang kita punakawani ini tidak menempuh jalan lain kecuali menuju kehancuran. Sistem yang ditempuh, tatanan yang dibangun, pola perhubungan yang dijalani, jenis moral dan mental yang dipilih, dialektika sebab akibat yang dikendarai, skala prioritas nilai yang diimani, dan hampir semua hal – tidak melangkah ke mana-mana melainkan menuju jurang kehancuran....”

“Saya tadi juga bermaksud Pakde Paklik dan teman-teman mendengarkan dulu ujung pembicaraan saya”, Jitul membantah Brakodin.

Brakodin melanjutkan apa yang sebenarnya ia maksudkan. “Ujung yang saya maksud adalah menunggu Mbah kalian Markesot. Dia datang, nyuruh apa, kita lakukan. Kalian yang masih muda-muda dan segar silakan menuntaskan ilmu dengan pedoman tidak boleh setengah-setengah dan tanggung-tanggung. Tapi saya menunggu Markesot….”

“Lho, Pakde”, kata Jitul, “semua yang saya omongkan tadi kan berdasarkan pesannya Mbah Markesot lewat surat tadi itu”

Brakodin tertawa. “Itu untuk kalian”, katanya, bukan untuk orang-orang tua udzur seperti Pakde Paklik. Kami sudah ratusan kali mengenyam sulapan-sulapan seperti itu, surat atau pesan-pesan siluman dan liar seperti itu. Yang saya tunggu adalah pesan pamungkas Mbah kalian Markesot. Sudah puluhan tahun kami menunggu”

“Pesan pamungkas maksudnya bagaimana, Pakde”, terdengar suara Seger.

“Kan segala sesuatunya sudah sangat jelas. ‘Ainulyaqin, haqqulyaqin, udzunulyaqin, ‘ilmulyaqin, ‘aqlulyaqin, ruhulyaqin bahwa Negara dan Bangsa yang kita punakawani ini tidak menempuh jalan lain kecuali menuju kehancuran. Sistem yang ditempuh, tatanan yang dibangun, pola perhubungan yang dijalani, jenis moral dan mental yang dipilih, dialektika sebab akibat yang dikendarai, skala prioritas nilai yang diimani, dan hampir semua hal — tidak melangkah ke mana-mana melainkan menuju jurang kehancuran”

“Waduh…”, sahut Seger.

“Ini adalah era kepastian untuk hancur. Bahkan kehancuran masa depan itu dibukakan pintunya lebar-lebar oleh mereka yang memimpin. Panglima zaman di tanah air yang kita temani ini mengundang makhluk-makhluk penghancur Negara dan Bangsa dengan penuh kerendahan hati seakan-akan sedang mempersilakan datangnya Nabi-Nabi yang membawa kebahagiaan….”

“Kok mengerikan gitu, Pakde…”, Toling bersuara.

“Kan kalian sendiri juga sudah menyimpulkan bahwa keadaan sudah semakin darurat. Rakyat dan manusia-manusianya mungkin akan tidak sehancur Negara dan Bangsanya, karena mereka dianugerahui Tuhan fadhilah ketangguhan mental, kecerdasan akal, kreativitas hidup serta semacam kenakalan dan keisengan terhadap penderitaan yang mereka tanggung….”

“Kalau yang itu menarik, Pakde”, sahut Toling lagi, “meskipun tetap mengerikan juga”

“Makanya Pakde menunggu kalimat khusus dari Mbah Markesot kalian”, Brakodin meneruskan tanpa peduli pada respons keponakan-keponakannya, “sebenarnya saya tidak tega melihat hidup orang tua renta yang kita takdhimi bersama itu”

“Tidak tega bagaimana, Pakde”, Toling mengejar terus.

“Nanti kalian akan tiba pada perasaan dan momentum kejiwaan itu pada saatnya. Saya memfokuskan diri menantikan kalimat Mbah kalian, tetapi saya tidak menutup pintu bagi keperluan-keperluan ilmu dan pengalaman kalian sesuai dengan tahap hidup kalian”

“Keperluan ilmu dan pengalaman?”, kali ini Junit yang bertanya.

“Saat-saat sekarang, berdasar usia dan jam terbang pengalaman, kalian masih pada tahap memerlukan semacam pijak pandang….”

“Pijak pandang?”

“Ya. Pijak pandang”, jawab Brakodin, “kalian berada pada fase di mana kalian segara harus siap untuk bertandang, berjuang, dan mungkin berperang. Dalam tandang perjuangan dan peperangan zaman itu kalian memerlukan pijakan yang tepat untuk memandang segala sesuatu yang harus kalian pandang agar kalian kuasai dengan kebenaran.

“Siap, Pakde”, kata Jitul.

“Kalau tidak tepat pijakan kalian, kalau meleset titik koordinat posisi zaman kalian, maka kalian akan salah tembak, akan salah memahami lawan dan kawan, akan tidak bisa tepat memperhitungkan jarak, posisi, sudut, sehingga resolusi pandang yang kalian dapatkan juga akan tidak menolong keperluan perjuangan kalian….”

“Itu maksudnya pijakan nilai, Pakde?”, Junit bersuara.

“Bukan”, jawab Brakodin.