Daur (50)

Kelas Sufi Bolot

Sebaiknya jangan ada yang berpikiran bahwa Mr. Bolot ini tokoh fiksi, figur khayalan, atau pelakon karangan sebagaimana dalam drama atau novel.

Saya berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa semoga Ia mendatangkan makhluk jenis Bolot ini ke rumahmu. Ikut mendidik anak-anakmu. Sesering mungkin. Syukur tinggal di rumahmu. Alhamdulillah kalau ndungsel-ndungsel dan menguntitmu ke mana saja. Ya Tuhan kabulkanlah harapanku. Apabila ada yang tidak setuju dan menolak doaku, saya tingkatkan permohonan saya kepada Tuhan agar mendatangkan kepada tokoh lain yang lebih kumuh, lebih gila dan liar dibanding Bolot.

Terus terang yang paling urgen bagi ummat manusia zaman sekarang ini adalah membongkar kembali konstruksi pikiran dan pola pandangnya terhadap kehidupan.

Supaya besok tidak kaget, ketika saatnya tiba.

***

Sesudah Bolot pergi membawa sangu patungan Tonjé dan Kasdu, dua teman Markesot ini berpikir apakah gelandangan perlente ini nanti akan balik lagi ke Patangpuluhan sebagaimana dulu ketika bertamu kepada Markesot?

Ternyata iya. Kasdu langsung bilang, “Markesot tidak ada. Sejak kamu datang tadi Markesot juga tidak ada. Kan kalau saya tanya kenapa kamu balik lagi ke sini, alasanmu pasti karena masih kangen kepada Markesot, to?”

Karena sudah pakai celana dan kaos dan berpenampilan normal, Bolot menjawab lebih gagah dibanding ketika pertama datang tadi.

“Apa bedanya ada Markesot atau tidak?”, katanya, “Apakah untuk bertemu Markesot harus ada Markesot?”, dan berkepanjangan, “Hidup ini arahnya cuma satu, yakni bertemu dengan Tuhan. Tapi apakah untuk berjumpa dengan Tuhan maka Tuhan harus ada di depan kita, tampak di pandangan mata kita, duduk di sini ngopi bersama?”

Benar-benar berkepanjangan.

“Apakah untuk naik haji harus naik kapal atau pesawat ke Mekah? Orang gila keturunan siapa yang mengharuskan saya beli tiket ke Arab? Sedangkan celana dan kaos saja belum tentu ganti tiga tahun sekali. Siapa bilang untuk berthawaf saya harus berada di Masjidil Haram dan mengelilingi Ka`bah dengan kaki jasad saya? Siapa tahu Pemilik Ka`bah terharu melihat gelandangan seperti saya lantas suatu saat membawa Ka’bah ke saya untuk saya thawafi? Atau bagaimana kalau ternyata sebelum saya berthawaf malahan Ka`bah itu sendiri yang duluan menthawafi saya?”

Tonjé dan Kasdu berpandangan satu sama lain dengan tersenyum dan penuh kesabaran.

“Hajar Aswadnya ikut sekalian bersama Ka`bah mendatangi kamu apa nggak?”, Kasdu menyela.

“Itu hak asasi dia”, jawab Bolot, seolah-olah ia seorang Sufi agung campur cendekiawan modern, “Kan Tuhan menyatakan bahwa kalau saya mendatanginya selangkah, Ia menghampiri saya sedepa. Kalau saya setengah meloncat kepada-Nya sedepa, Ia merapat ke saya sepenggalah. Hajar Aswad mungkin sudah dibisiki oleh beberapa Malaikat tentang sialnya hidup saya. Orang dari negeri jauh secara ruang maupun waktu. Jauh dari Kanjeng Nabi. Tempatnya sangat di seberang, waktu kelahiran saya juga sangat terlambat dibanding masa hidupnya Kanjeng Nabi. Bukankah karena itu maka rasa sayangnya Kanjeng Nabi kepada saya berlipat-lipat dibanding kepada para sahabat yang hidup bareng beliau waktu itu di Mekah atau Madinah? Lha saya kan di Blitar…”

***

Tonjé menyela, “Kamu ini sedang senang atau sedih? Sedang merayakan keadaanmu atau meratapi?”

“Apa bedanya perayaan dan ratapan untuk orang seperti saya. Kesenangan tidak mau mendatangi saya, maka kesedihan pun saya usir dari hidup saya. Kalau kesedihan mau tinggal bersama saya, harus nikah dulu dengan kesenangan di dalam diri saya. Kalau tidak, saya tolak kedua-duanya. Jangan main-main dengan Pendekar dari Blitar”

“Memangnya kenapa kalau main-main dengan Pendekar dari Blitar?”, Kasdu bertanya.

“Ya ndak apa-apa. Pokoknya jangan gitu aja. Tidak pakai sebab atau karena atau maka. Hidup cuma sekali kenapa direpotkan oleh sebab dan karena dan maka. Tiap hari, tiap minggu, bulan, tahun, tiap siang dan malam saya berjalan, berjalan, berjalaaan, menthawafi dunia. Orang-orang itu cuma mengelilingi Ka`bah tujuh kali saja bangga dan merasa berprestasi. Kalau diukur dengan pencapaian orang menthawafi sorga, berapa ratus ribu kali saya sudah menthawafinya”

“Tapi kan bukan Ka`bah”, celetuk Tonjé, “yang kamu lakukan selama ini kan berjalan ke mana-mana di jalanan, alasannya karena tidak punya tempat tinggal. Sedangkan orang berthawaf kan beribadah”

“Jadi melangkahkan kaki dan menggerakkan badan siang malam ini bukan ibadah? Apa namanya kalau bukan ibadah? Tuhan kasih kaki, saya pakai untuk berjalan. Tuhan kasih saya badan, saya gerakkan. Bukan ibadah bagaimana? Kalian pikir saya berjalan kaki ada tujuannya selain mensyukuri bahwa saya punya kaki dan badan? Kalian pikir saya melangkahkan kaki untuk mengejar uang, harta, cita-cita, karier, pangkat, jabatan, kemasyhuran, atau apa saja yang menghina kaki dan badan? Saya berjalan karena Tuhan menciptakan saya berkaki, maka Tuhan senang hatinya kalau saya berjalan. Saya berjalan di dunia, tapi tidak menuju dunia. Saya berjalan di atas bumi, tapi tidak untuk memiliki bumi. Saya berjalan menyusuri alam semesta, tanpa pernah saya punya pikiran untuk menguasainya, apalagi menaklukkannya. Saya berjalan karena hidup adalah terus berjalan sampai saatnya nanti saya tidak lagi bisa berjalan”

***

“Yaaa tapi bumi dan alam semesta kan tidak sama dengan Ka`bah”, Tonjé menyela lagi, “Beda dong orang berjalan menyusuri jalanan seperti kamu dengan orang mengelilingi Ka`bah”

“Memang beda”, jawab Bolot, “tapi tidak berbeda. Sudah sangat jelas bahwa itu berbeda. Yang satu halaman dalam Masjidil Haram dengan Ka’bah di tengahnya. Yang saya jalani ini ya mana saja yang mungkin saya melangkahkan kaki. Tapi kalau kalian memakai alasan bahwa Ka`bah itu rumah Tuhan, memang sebelah mana dari jagat raya ini yang bukan rumah Tuhan. Memang ada bedanya rumah Tuhan yang ini dengan rumah Tuhan yang itu. Tidak sama rumah Tuhan yang di sana dengan rumah Tuhan yang di sini. Tapi kan semua rumah Tuhan. Bahwa Tuhan menyebut Ka`bah sebagai rumah-Nya, itu kan strategi geografis untuk mempersatukan ummat manusia yang mencintai-Nya. Tetapi kenyataan hakikinya ‘semua’ dan ‘setiap’ adalah rumah Tuhan. Bahkan Tuhan juga berumah di dalam dada saya..”

“Sejak kapan Tuhan berumah?”, Kasdu menggoda.

“Tuhan menyebut Ka`bah sebagai rumah-Nya itu kan cara untuk menyesuaikan diri dengan batas pengetahuan dan ilmu yang Ia sendiri tentukan bagi manusia. Bahasa jelasnya, adaptasi terhadap kedunguan manusia, meskipun Tuhan sendiri yang mentakdirkan manusia itu dungu, berilmu hanya sangat sedikit”

“Termasuk kamu?”

“Pasti lah. Karena saya sangat tahu betapa dungu dan tak berartinya saya, maka saya tidak sudi menghiasi hidup saya dengan keindahan dunia. Saya terima celana dan kaos dari Sampeyan tadi bukan karena saya memerlukannya, tapi sebagai kewajiban menjalankan sopan santun kepada sesama manusia. Aslinya saya pengin-nya telanjang bulat seratus persen. Cuma saya kasihan kepada orang-orang sekitar yang melihat saya. Saya tidak tega kepada anak-anak kecil dan siapa saja yang nanti pasti menyangka saya orang gila, sehingga merendahkan dan memain-mainkan saya. Saya suka dianggap gila, saya merasa nikmat untuk dimain-mainkan. Tetapi saya kerepotan berdoa kepada Tuhan agar mengampuni mereka”

“He”, Kasdu memotong, “Kamu kok tidak jadi Dosen saja to? Kok malah nggelandang seperti ini. Padahal rasa-rasanya kamu layak bikin Kelas Sufi lho. Atau apa saja lah. Yang penting hidupmu berguna”

“Lho siapa manusia di dunia ini yang menginginkan ada manusia berguna? Yang mereka maui adalah orang yang memberikan keuntungan kepada mereka, terutama keuntungan dunia, uang, harta, jabatan, akses dan yang sejenis itu. Yang dimaksud guna atau manfaat sekarang ini adalah keuntungan dunia. Sangat memalukan. Jadi saya tidak mau terlibat sedikit pun. Nol. Total”.