Kecepatan Mengalahkan Kekuatan
Waktu Mengalahkan Kecepatan

Siang hari minggu yang lalu Simbah berteriak-teriak di dalam kamarnya, sehingga semua anggota keluarga di rumah mendengarnya. Beberapa cucunya berlari masuk kamar, Simbah sedang berdiri melompat-lompat, mengacung-acungkan tinjunya. Simbah bergembira ria. Sangat bergembira ria.

Tentu saja semua anak cucu senang melihat Simbah bergembira ria. Tetapi baru sekali ini mereka jumpai perilaku Simbah seperti ini. Selama bertahun-tahun hidup bersama, mereka mengenali Simbah sebagai seorang tua yang relatif pendiam. Sangat penyayang kepada semua, tetapi belum pernah terpancar emosinya, apalagi secara berlebihan seperti siang itu. Tidak pernah-pernahnya beliau berekspresi sampai seperti anak-anak.

“Ada apa sih Mbah?”, salah seorang cucunya bertanya keheranan.

“Kok aneh sampai melonjak-lonjak”, sambung cucu lainnya.

Ternyata Simbah sedang nonton teve. Ada siaran langsung pertandingan Mix Martial Art (MMA) dari Las Vegas, dengan partai utama Connor MacGregor dari Irlandia melawan Nate Diaz, laki-laki Latin yang hidup di Amerika Serikat.

Singkat cerita, sejak mudanya dulu Simbah bersimpati kepada rakyat Irlandia yang selalu tertekan oleh kekuasaan Inggris. Simbah pernah lama di Amerika Serikat dan salah satu sahabat akrabnya adalah seorang dari Irlandia Utara. Dua sahabat Simbah lainnya dari Israel dan Palestina.

Melihat apapun saja, Simbah selalu meletakkan pemihakannya pada yang inferior, tertindas, yang rendah atau direndahkan. Ketika Mike Tyson sangat dominan di awal kariernya sebagai Raja-KO, Simbah kurang bersimpati. Tapi sesudah Tyson dicurangi oleh politik rasisme mainstream media, pemerintah dan banyak masyarakat Amerika Serikat, Simbah berbalik simpati kepada Tyson.

Tyson diporoti oleh istrinya, dicari-cari kesalahannya oleh petualang-petualang hukum, dipenjara, kemudian masuk Islam, dan nasibnya semakin terpuruk. Demikian jugalah yang menimpa petinju pendahulunya, Muhammad Ali, juga Michael Jackson. Simbah selalu menjatuhkan hatinya kepada siapa saja yang madhlum, yang dianiaya, dalam hal apa saja.

Demikian juga sikap beliau kepada Connor MacGregor. Cinta Simbah kepada rakyat Irlandia kalah besar dibanding amarah dan kebencian Simbah kepada Connor MacGregor yang sombong, merasa paling hebat, selalu menghina setiap calon lawannya dengan kata-kata yang sangat merendahkan. Petarung yang merasa dirinya adalah pelopor pembaharuan teknik dan strategi pertarungan MMA.

“Saya bisa mengalahkan semua lelaki di muka bumi”, sesumbarnya. Ketika ada yang menanyakan apakah dia bisa juga mengalahkan Yesus, Gregor menjawab “Dia sudah tidak ada. Saya hanya bertarung melawan orang yang hidup. Tapi kalau memang Yesus datang kembali ke kehidupan dan menantang saya, akan saya tendang juga pantatnya”.

Pernyataan ini sangat membuat seorang legenda MMA dari Brazilia, Wardelei Silva. “Kalau ada kemungkinan bertarung melawan si pongah itu, saya akan hancurkan wajahnya sehingga dia bukan lagi dia”, kata Silva.

Legenda Brazil yang lain, Jose Aldo, yang bertahan sebagai Juara MMA sepuluh tahun penuh, terpengaruh secara mental oleh sikap adigang adigung adiguna MacGregor. Ia bertanding dengan kemarahan, dan itu menjadi bumerang. MacGregor memukulnya KO dalam 13 detik. Shock besar bagi masyarakat bela diri Brazilia dan dunia. Terutama bagi kalangan yang meskipun memahami bahwa setiap petarung butuh mempromosikan dirinya, karena utamanya ini urusan bisnis, namun sangat tidak terpuji untuk menghina-hina sesama manusia sebagaimana yang dilakukan oleh MacGregor, meskipun alasannya adalah sensasi promosi.

Sesudah menang dan mengambil sabuk juara dari pinggang Aldo, Dana White direktur Ultimate Fighting Championship (UFC) melihat peluang bisnis itu dan langsung membuka peluang bagi Gregor untuk naik kelas melawan Rafael Dos Anjos. Karena yakin akan mengeruk keuntungan berlipat-lipat. Don Anjos cedera kaki 11 hari sebelum hari-H, maka White menawari adik dari Diaz dua bersaudara. Kakaknya, Nick, terakhir melawan legenda terbesar UFC Anderson Silva. Adiknya, Nate, yang mblunat dan cueg, dengan enteng mengambil kesempatan untuk tempur melawan MacGregor yang merasa dirinya maha-gladiator.

Hanya ada kesempatan 11 hari untuk mempersiapkan diri, sangat minimal untuk standar 4 bulan persiapan siapapun petarung biasanya. Bukan hanya soal progresi stamina dan kardio, tapi juga tak ada peluang untuk menyusun irama fisik maupun mentalnya menuju peak-time. Semua peramal, pengamat, kritikus, penjudi, pegang MacGregor akan meng-KO Diaz di ronde pertama atau paling lambat ronde kedua. Gregor sendiri ‘berdoa’ mudah-mudahan Diaz bertahan agak lama, supaya penonton lebih terhibur.

Kemudian akhirnya bertarunglah mereka Minggu menjelang siang itu, atau Sabtu malam waktu Amerika. Tidak panjang kata. Gregor jelas tidak bisa grappling. Striking tinjunya ternyata juga kalah dari keanehan strategi Diaz. Memang Diaz terluka berdarah-darah wajahnya, tapi daya tahannya dengan hanya 11 hari persiapan, jauh di atas MacGregor yang yakin sanggup mengalahkan Yesus.

Gregor goyah oleh hook kiri Diaz, kombinasi dari jab kanannya. Diaz took him down. Membantingnya. Menindihnya. Ground and pound. Gregor ditunggangi Diaz dalam posisi telentang. Dipukuli. Gregor membalik badannya menjadi tengkurap. Leher Gregor dijaring oleh tangan kanan Diaz. Gregor jelas nol gulat. Sambil dagu Gregor dipiting, tangan kiri Diaz pelan saja memukul wajah Gregor sebelah kiri. Tentu Gregor naluriah mengelak dengan menggerakkan kepalanya. Dan itu momentum untuk tangan kanan Diaz masuk ke lehernya. Mencekiknya. Gregor tak punya inisiatif apa-apa untuk rear naked choke defense. Hanya dua tiga sekon kemudian Gregor tap out.

Konstelasi perbotohan judi terjungkir. Dunia MMA shock berat. Hampir semua pengamat ngaplo karena terbukti kerasukan virus mitologi yang diciptakan oleh Gregor yang berhasil mendongeng kepada seluruh dunia tentang dirinya. Ramalan mereka Diaz di-KO satu dua ronde terbukti omong kosong. Hanya juara kelas berat ringan Daniel Cormier yang sejak awal meyakini Diaz akan menang.

Ini baru lawan Diaz. Gregor belum sampai bertarung melawan Yesus yang atasannya Ratu Adil atau Imam Mahdi. Dan Diaz juga tidak melonjak-lonjak merayakan kemenangan. Hampir semua penonton mendukung Gregor. Sehingga ketika Joe Rogan mewawancarainya, “apakah Anda terkejut oleh kemenangan ini?”, Diaz menjawab dengan teriak kepada penonton: “Silahkan kalian telan kekagetan kalian. Saya tidak kaget”.

Hancurnya Connor MacGregor si pongah itu rupanya yang membuat Simbah jingkrak-jingkrak kegirangan. Ternyata beberapa tetangga juga mendengar keanehan itu dan datang menghampiri.

“Kok tumben Simbahmu…”, seorang tetangga bertanya kepada salah seorang anak Simbah yang usianya segera menuju setengah baya.

Si ‘anak’ itu menjawab, “Simbah gembira karena merasa punya harapan. Simbah sebenarnya sedih juga karena di co-main event Holly Holm kalah dari Meisha Tate. Tapi tak apa. Kemudharatan kecil Simbah relakan demi datangnya kemudharatan besar yang menimpa orang-orang yang sombong”.

Para tetangga itu tidak paham, tetapi mendengarkan dengan seksama.

“Ketika Gregor mengalahkan Aldo, ia bikin rumus yang memang benar: bahwa kecepatan bisa mengalahkan kekuatan, tetapi waktu mampu mengalahkan kecepatan. Dan Gregor dimakan oleh teorinya sendiri. Petarung sekuat apapun kans-nya tinggi untuk dikalahkan oleh petarung yang lebih punya kecepatan pukulan. Tetapi kecepatan sedahsyat apapun, bisa dipotong oleh petarung lain yang mampu memperhitungkan dan menciptakan momentum, untuk menonjok sela-sela di antara kecepatannya”

Seorang tetangga bertanya, “Apakah Simbahmu lelah oleh keadaan-keadaan masyarakat dan negara kita, sehingga sekarang cari kompensasi ke MMA?”

“Justru karena Simbah tidak pernah lelah memikirkan negara dan rakyat, maka Simbah kadang bilang ke saya bahwa dia selalu mencari apa maunya Tuhan, bagaimana irama yang sedang ditempuh oleh waktu. Simbah khawatir Tuhan sudah tidak peduli pada kita, sehingga membiarkan kekuatan-kekuatan sombong yang menjajah rakyat terus menerus merajalela”

“Kekuatan sombong itu maksudnya siapa tho?”

“Kalau itu sebaiknya tanya Simbah langsung. Yang jelas siang tadi Simbah merasa diberi harapan dan keyakinan bahwa Tuhan tidak meninggalkan seekor cacing pun di muka bumi untuk terus menerus diinjak-injak oleh kaki kejam manusia”

“Simbahmu sering pulang ke desa ya, kok masih ada cacing”

“Mafia kapitalis-kapitalis raksasa yang melakukan tipu daya dan penguasaan-penguasaan yang tak kentara sekarang ini, bukan tidak ada kemungkinan akan dicekik oleh orang-orang yang mereka rendahkan, mereka bodoh-bodohkan dan mereka tipu dengan segala cara”

“Tapi kekuatan mereka bisa dikalahkan oleh kecepatan para Malaikat supporter para pejuang. Wa ma romaita idz romaita walakinnalloha roma. Dan kecepatan para penjajah dikalahkan oleh momentum dari Tuhan. Kalah oleh waktu. Oleh sa’ah. Dan Tuhan menyatakan fantadzirissa’ah

Para tetangga itu berpandangan satu sama lain. Di antara mereka memang sering terjadi rerasanan bahwa Simbah sudah semakin pikun. Dulu beliau lumayan tokoh kampung yang disegani. Tetapi akhir-akhir ini rasanya ada sesuatu yang hilang pada diri Simbah. Sekarang suka filsafat dan mistik.