Epilog buku Ngelmu Iku Kelakone Kanthi Laku: Proses Kreatif Sastrawan Yogyakarta

Kebun Sastra Yogya, Peradaban Lampahing

1.

Buku ini, “Ngelmu Iku Kelakone Kanthi Laku” 2016, adalah mata air kawruh, ngelmu, dan akar keyakinan-sejarah bagi masyarakat Yogya maupun bangsa Indonesia hari ini, serta bagi generasi-generasi masa depan.  Anak-anak cucu yang kelak lahir, yang saat ini menjadi janin pun belum, sudah dibekali oleh Simbah-simbah mereka butir-butir rohani dan karya-karya seni budaya yang akan mereka pakai untuk membangun peradaban.

Buku ini merupakan semacam Lawang Kawruh, pintu ilmu dan gerbang pengetahuan bagi generasi-generasi yang akan kita lahirkan. Para anak cucu kelak akan memasuki gerbang itu, dan akan mencari Buku yang lain yang berisi ‘woh’ atau buah lelaku susastra yang berupa kumpulan berbagai ragam karya-karya sastra: puisi, cerita pendek, novel, naskah teater, serta banyak kemungkin bentuk atau wujud karya susastra lainnya.

Lembaga Bahasa DIY telah membuka lebih lebar lagi ‘Kebun Sastra Yogya’ yang dengan penerbitan Buku ini akan meng-abadi ke masa depan, dengan kawan-kawan yang menulis di buku ini berperan sebagai penanam pohon-pohonnya, sekaligus ber-lelaku sebagai perawatnya, pemasang pagar-pagar perlindungannya, penjaga titik-titik hakiki perannya, serta penggores prasasti atau perlambang-perlambang kesejarahannya.

2.

Mereka para penulis di Buku ini, di dan dari wilayah lelaku-nya masing-masing yang beragam, adalah pengkarya-pengkarya berbagai bentuk sastra, sekaligus apresiator, pemangku, pemelihara, perawat dan penjunjung kebudayaan sastra. Mereka adalah benih yang bersemai menjadi tetanaman dengan bunga dan buahnya, juga adalah tanah subur yang menumbuhkannya dan mengairi kelestarian pertumbuhannya — baik dengan air dari kedalaman Bumi maupun yang mencurah dari Langit.

Yogya adalah selingkaran alam semesta yang memerdekakan para penghuninya untuk menggagas dan mengeksplorasi Bumi dan Langitnya sendiri-sendiri atau inter-relasi di antara semua kemungkinannya. Bentangan atau rentangan antara Langit dan Bumi yang bebas dihulu-hiliri, diulang-aliki, melalui khazanah kebudayaan, kebatinan, keagamaan, kontinuitas kesejarahan dengan pola-pola pandang tersendiri, atau melalui kesendirian dan kesunyian lelaku.

Semua ini juga sebuah Buku tersendiri. Setiap manusia-lelaku yang menulis di Buku ini adalah semesta kreatif sendiri-sendiri, yang bisa tetap sebagai masing-masing, tapi bisa juga interaktif dan berjodohan satu sama lain. Langit dan Bumi mereka masing-masing maupun bersama-sama atau berkaitan satu Bumi dengan Bumi serta satu Langit dengan Langit lainnya, merupakan kawruh yang juga perlu dihamparkan untuk kepustakaan nilai dan marja’ kreativitas generasi-generasi di masa datang.

Beliau-beliau para pe-lelaku ini sangat penting posisi sejarahnya. Yakni di perempatan jalan sejarah Bangsa Jawa dan Indonesia, yang diguyur hujan deras Globalisasi, yang di satu sisi sangat menyediakan bahan-bahan untuk pematangan diri dan kebudayaan masyarakatnya. Tapi di lain sisi Globalisasi juga menyelenggarakan berbagai jenis pembunuhan nilai, kepribadian diri dan keyakinan hidup.

Proses pergulatan di perempatan jalan sejarah itu, meletakkan para penulis Buku ini sebagai tokoh-tokoh pengambil keputusan tentang wujud, wajah dan muatan sejarah peradaban anak-anak cucu mereka kelak. Barangsiapa membaca dengan sabar dan teliti lembar demi lembar Buku ini, akan menemukan, mendata dan mendaftari banyak pointers keputusan-keputusan sejarah yang mereka wariskan sebagai semacam jariyah masa depan.

Proses kreatif para penulis di Buku ini membabar kekayaan nilai dan informasi dari berbagai wilayah pergulatan. Ada yang tekun di rumah otodidaknya. Ada yang gemi-titi di ruang kuliah kedosenannya. Ada yang bergulat di ranah media, cetak tayang maya. Ada yang ma’syuk di sanggarnya. Ada yang berkutat di wilayah pencetakan dan penerbitan. Ada yang memproses kreativitas dari penglihatan makro kebudayaan. Ada yang berangkat dari mikro kata. Ada yang menekuninya di rentang antara Bahasa yang ‘dari belakang’ maupun yang ‘dari depan’. Ada yang memproses kreativitasnya melalui lalu-lalang lelaku “dadio wali kang ngumboro” atau yang dikenal umum sebagai Malioboro. Serta berbagai semesta, horison, cakrawala, mataangin lainnya.

3.

Gagasan untuk menghimpun catatan-catatan proses kreatif setengah abad dari 51 pelaku sastra Yogya yang berasal dari beragam wilayah lelaku-nya — lahir dan berangkatnya sangat unik.

Secara resmi ia muncul dari iklim birokrasi Negara dengan ‘Pemerintah’nya. Tetapi ‘bayi’ yang dilahirkan akan berbeda jika tidak juga terutama berasal dari ‘manusia lelaku’ juga yang berada di dalam dinding birokrasi Lembaga Bahasa DIY.

Saya sangat menggembirai itu, dan saya yakin: Negara, DIY, Yogya, dalam konteks Yogyakarta maupun Ngayogyakarta Hadiningrat maupun ‘Pemerintah’, berposisi wajib untuk sungguh-sungguh berterima kasih kepada Balai Bahasa DIY secara offisial, maupun terutama kepada ‘manusia lelaku’ itu secara substansial.

Juga pengambilan keputusan untuk menetapkan judul “Ngelmu Iku Kelakone Kanthi Laku” – wajah ‘bayi’ yang saya maksud di atas: bukan output dari Peradaban Adopsi, misalnya Timur yang nyusu Barat, melainkan ungkapan karya indah dari Peradaban Kontinuasi.

Setiap pe-lelaku susastra di Buku ini masing-masing merupakan ‘alam semesta’ dengan cakrawala tak terbatasnya masing-masing. Proses kreatif mereka terkadang merupakan pembabaran ‘keindahan sorga’ estetika dan kecerdasan zaman. Di saat lain merupakan semacam Padang Kurusetra, tempat berlangsung peperangan, pergulatan, perbenturan atau bisa juga tawar menawar antara Peradaban Kontinuasi melawan Peradaban Adopsi.

Dan sebagai penggembira saya ikut ‘menjamin’ bahwa output dari mereka adalah kemenangan Peradaban Kontinuasi, dengan sejumlah ganjalan dan kelemahan yang pasti akan dibereskan melalui tahap-tahap pergulatan berikutnya. Karena hakiki alam absolut (disebut juga dengan kesadaran yang menggunakan kata ‘Tuhan’) tidak memungkinkan Peradaban Adopsi bisa mencapai kesempurnaannya, bisa sampai ke ujung eksplorasinya.

Sekuat-kuat harimau berkuasa mengharimaukan gajah atau beruang, tak kan sampai pada kenyataan bahwa gajah dan beruang akan pernah menjadi benar-benar harimau. Serendah-rendah hati gajah dan beruang mengakomodasi kesombongan harimau, tak kan pernah sanggup tiba pada fakta alam kecuali gajah dan beruang tetaplah gajah dan beruang.

4.

Sebenarnya sama sekali tidak mudah menjelaskan secara otentik perbedaan antara Peradaban Adopsi dengan Peradaban Kontinuitas. Sesukar mengurai urat saraf, otot, daging dan darah yang berasal dari proses kontinyu dari tubuh kita sendiri, dengan yang berasal dari adopsi, donor, cangkok, atau apapun namanya dari luar tubuh kita.

Posisi bangsa Jawa atau Melayu atau Indonesia pada umumnya sekarang ini sudah “bukan dirinya sendiri” lagi, pada kadar dan tingkat yang tidak bisa diremehkan. Timur adalah pasti asal-usul dan orisinalitas antropologis-sosiologis-kultural-historis (???!!!, pen.) kita bangsa Jawa dan Melayu dan Indonesia, tetapi jelas hari ini kita bukan benar-benar ‘Orang Timur’, meskipun dalam beberapa hal kita juga menolak menjadi ‘Orang Barat’.

Dan andaikan pun dalam konteks dan nuansa tertentu kita “adalah orang Barat”, tidak pasti salah juga, apalagi dosa. Pada para pelaku sastra yang juga memakai acuan firman, Tuhan membuka pintu: “Tanda manusia yang Ku-anugerahi petunjuk adalah ia mendengarkan segala macam perkataan, kemudian memilihnya dan mengikuti yang baik darinya”. Tentulah semua manusia sewajarnya mengerti bahwa yang dimaksudkan oleh firman itu bukanlah “terpesona oleh kokok ayam, maka ia menjadi ayam”.

Harus dengan besar hati diakui bahwa bangsa Indonesia memiliki kecenderungan semacam itu pada tingkat yang serius dan bahkan mendasar. Pada hampir seluruh aktivitas kehidupannya. Dari perilaku sehari-hari, wacana karya budayanya, khasanah pengetahuan dan mesin ilmunya, sangat banyak faktor pada kebudayaan dan peradabannya, bahkan landasan pikiran dan kemauannya atas eksistensi dirinya sendiri.

Saya pun mengalami kesulitan. Harus memakai idiom Peradaban Adopsi atau Peradaban Kontinuasi. Demi komunikasi Indonesia modern harus dipakai istilah yang diadopsi dari Barat, apalagi semakin banyak anak-anak generasi sekarang mengigau dalam tidur pun pakai Bahasa Inggris. Saya coba men’diri-sendiri’ dengan memakai istilah, umpamanya: Peradaban Nyusu dan Peradaban Lampahing.

Itu pun tetap ada yang mengganjal, karena per-adab-an, ‘aadaab’, juga hasil nyusu dari Bahasa Arab. Bahkan kosakata ‘ngelmu’ pada judul buku ini merupakan bagian dari adopsi juga. Ia berasal dari ‘ilm atau ‘ilmun, yang dimelayukan dan diindonesiakan menjadi ilmu, dan dijawakan menjadi ngelmu.

Kita meneguh-neguhkan keyakinan bahwa kita menolak proses sejarah bangsa di mana “kebo nyusu gudel” – karena pada dasarnya kita mengerti dan meyakini bahwa kita adalah kerbau, bukan gudel. “Matahari terbit dari Timur”, takkan pernah tuntas kita memproses lelaku di mana “Barat menerbitkan Matahari”.

5.

Kita andhap asor dan ngapurancang bahkan mengagumi Ronggowarsito, Yosodipuro atau Mentaraman, tetapi beliau-beliau bukan sumber lelampahing atau lampahing lelaku susastra kita. Bukan mataair utama sungai kesusastraan kita. Sebab lelaku sastra modern kita berangkat dari Shakhespeare, Victor Hugo, Charles Dicken, Oscar Wilde, Samuel Becket hingga Robert Frost, Emily Dickinson atau bahkan Manuel Bandeira.

Kita ber-lelaku teater dengan sangat menghormati Ketoprak, Wayang atau Ludruk, tetapi tidak berangkat dari itu semua. Kita adalah cicit-murid Shakhespeare yang bertamu ke Indonesia dan Jawa, kemudian belajar memedhok-medhokkan logat lidah kita di panggung. Pentas teater kita sangat bagus membawakan semua naskah yang berasal dari alur peradaban Yunani Kuno. Kemudian tetap cukup canggih juga melakonkan Mega-Mega, Penggali Intan atau Bui. Tetapi belum pernah akurat untuk men-Semar Gareng Petruk Bagong. Karena aktornya berangkat dari Barat berusaha mengapresiasi dan ‘menjadi’ Semar, atau Nggareng, Metruk dan Mbagong.

Sampai hari ini kesadaran sastra dan teater modern belum mampu memerdekakan diri dari proses nyusu khazanah Yunani Kuno, kemudian berhijrah dan meneguhkan diri sebagai pelalu peradaban lelampahing Jawa Kuno atau Melayu Kuno.

Itu semualah yang membuat saya riang gembira menyambut dan mengapresiasi 51 tulisan dari 51 pelaku sastra Yogya, yang rentang waktunya setengah abad lebih. Dari beliau Rachmat Djoko Pradopo yang aktif sejak era 1960-an hingga puluhan pelaku-penulis lainnya yang tetap lelaku hingga saat ini.

Judul “Ngelmu Iku Kelakone Kanthi Laku” sangat membukakan gerbang optimisme bahwa masa depan susastra Yogya terang benderang. Teman-teman pengisi Buku ini menghamili masa depan sastra, teater, kebudayaan dan peradaban yang sudah mulai bersemi. Mereka men-janin-ni rahim Ibuda Sejarah Yogya dan Indonesia.

Pe-lelalu sastra tetap saja dari zaman ke zaman merupakan ‘makhluk asing’ di tengah masyarakatnya sendiri. Mereka seperti bukan bagian yang normal dari habitat budaya masyarakatnya, meskipun mereka dikenal baik oleh tetangga dan publiknya. Mereka seperti dikategorikan sebagai Golongan Jin. Karena tidak patuh kepada masyarakatnya, tidak taat kepada materialisme, tidak kompatibel dengan kapitalisme, industrialisme serta isme-isme lain dalam Perusahaan Besar yang bernama Negara.

Mereka terlalu rohaniah. Terlalu nilai. Terlalu software. Lelaku mereka tampak lebih sebagai rohaniawan. Bukan selayaknya manusia sebagaimana umumnya manusia. Mereka agak Jin. Tetapi tidak saya sebut agak Dewa. Sebab wacana tentang Dewa tidak menyatu antara sangkan dengan parannya. Dewa hanya hasil ijtihad dan simbolisme yang berlaku gaib, tidak bisa dibumikan.

Berbeda dengan Janin, Jin dan Jannah. Sangat terang benderang hulu dan hilirnya. Sastrawan adalah perawat sejarah, Bidan Ibunda Zaman, penjaga rahimnya, menyemaikan janin di rahim, kemudian menjalani ngalam kajiman yang di Buku ini disebut “Ngelmu Iku Kelakone Kanthi Laku” — mereka akan mengantarkan ummat manusia ke Jannah.

Para sastrawan adalah pelatih dan pengolah manusia rohani. Materi, jasad, tubuh, badan manusia segera dikubur men-tanah, menyatu dengan bumi. Tetapi sastra mereka mengalir hingga keabadian. Janin ummat manusia yang bersentuhan dengan sastra akan men-Jin menuju Jannah. Sorga. Dan sorga itu dijanjikan oleh Pencipta dan Pemiliknya memiliki Dua Keabadian: kholidina fiha, juga abada. Alangkah indah dan beruntung keabadian hidup 51 teman-teman kita ini.

6.

Tak apa seandainya sampai setahun dua tahun sesudah Buku ini diterbitkan, cukup banyak jumlah orang di masayarakat yang sudah kehilangan perangkat-perangkat rohaniah untuk bisa merasakan ketersentuhan oleh isi Buku ini. Terbitan karya Lembaga Bahasa DIY ini tetap menyentuh dan membuat mongkog hati sejumlah kaum tua, meskipun kebanyakan kaum tua dalam Peradaban NKRI yang malang ini sudah terlalu lelah dan putus asa terhadap semakin sirnanya Peradaban Rohani.

Dua-tiga era mutakhir Peradaban NKRI ini sangat bangga menjadi penyembah tuhan-sekularisme, yang menyangka sastra dan seni adalah selingkaran hutan rimba yang tidak terkait dengan kota teknologi, gedung materialisme, istana demokrasi dan mal-mal hedonisme. Yang berpikiran bahwa Sastra adalah sesuatu tersendiri, sementara Ilmu dan Agama adalah sesuatu yang lain. Yang tidak menemukan puisi pada matematika, tidak menjumpai estetika pada orang bersujud, atau tidak ada penghancuran sastra dan kebudayaan dalam politik.

Tidak masalah dengan semua itu. Sebab Buku ini mengabadi hingga generasi masa depan yang tak terjangkau panjang dan jauhnya, yang tetap akan menemukan Buku ini sebagai mataair Peradaban yang mereka bangun. Buku ini lahir dari tengah keremangan senjahari yang segera memasuki kegelapan, tetapi diperuntukkan bagi bayi-bayi fajar hari yang sudah disiapkan untuk diperjodohkan dengan kebangkitan.

Asalkan masih ada lelaku dan karya sastra, Hari Kiamat akan terus ditunda.

Kalau ada di antara kita para pelaku Agama yang merasa dan meyakini bahwa segala hal mengenai Hari Kiamat adalah milik dan hak mereka, hendaklah diperdengarkan kepada mereka lelaku dan lelampahing susastra menyediakan peluang untuk lebih direct dan akurat menembus inti rohani manusia. Kalau seseorang melakukan sembahyang dengan syariat di ritus rakaat-rakaatnya: mereka baru berjumpa dengan kata dan kalimat. Tatkala mereka memasuki dan berada di dalam kekhusyukan, dan kekusyukan menjadi satu-satunya muatan jiwa mereka – maka itulah susastra.

Kapan masuk Sorga kalau Kiamat selalu ditunda gara-gara lelaku para sastrawan?

Sorga bukannya terdapat pada atau berlangsung di masa depan, di jangka nun jauh di ujung waktu. Waktu tidak linier. Waktu bukan rentangan garis lurus. Sastra itu sendiri sudah, dan adalah Sorga.