Catatan Ngaji Bareng Bersih Deso Gogodeso, Blitar 13 November 2016

Kebulatan yang Dibawa Pulang

Tetapi keutuhan dan kebulatan dalam mengitari suatu titik kecil pun dari apa-apa yang terjadi dan dialami bersama dalam Sinau Bareng ini.
Foto: Adin.
Foto: Adin.

Keutuhan atau kebulatan itulah yang diupayakan oleh Cak Nun untuk selalu bisa dibawa pulang para jamaah. Keutuhan bukan saja dalam arti kelengkapan dimensi dalam Sinau Bareng meliputi ilmu, musik, dialog, dan tema-teman. Tetapi keutuhan dan kebulatan dalam mengitari suatu titik kecil pun dari apa-apa yang terjadi dan dialami bersama dalam Sinau Bareng ini.

Dan di antara yang sangat berkontribusi mengantarkan pada kebulatan itu adalah semangat spiritual yang ditanamkan Cak Nun kepada para jamaah. Seperti di bagian akhir ini. Cak Nun berpesan agar jamaah ingat bahwa dunia dan akhirat bukan dua hal, tetapi satu hal, yaitu dunia adalah bagian dari akhirat. Karenanya segala sesuatu harus dibawa ke akhirat, diakhiratkan. Caranya dengan merohanikan segala seuatu. Merohanikan sesuatu ditempuh dengan jalan mensholehkankanya, yaitu mendayagunakannya untuk kemashlatan banyak orang.

Jamaah juga diajak untuk memandang banyak hal, apakah itu sesuatu yang kita pandang baik atau buruk, dengan sikap selalu memohon hidayah kepada Allah yang dilambari dengan keikhlasan. Dan di penghujung acara ini, segala yang telah dijalankan dan dialami dalam pertemuan malam ini dipuncaki dengan kekhusyukan melalui lantunan shalawat: Pembuka Mawlid Simtud Duror, Assalamu alaika Zainal Anbiya-i, Sholatun minallah wa alfa salam, dan Sidnan Nabi. “Selama dan dengan shalawatan ini, kalian telah mendapatkan tiket syafaat dari Rasulullah,” Cak Nun mengajak jamaah untuk yakin pada kebenaran syafaat Rasulullah bagi hidup mereka.

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Para jamaah khusyuk, asyiq, masuk ke dalam diri dan membawa semua hajat kepada Allah dengan gondelan kasih sayang dan syafaat Kanjeng Nabi. Proses-proses spiritual melalui doa, shalawat, musik maupun melalui kalimat-kalimat kesadaran Cak Nun membulatkan jiwa, membulatkan motivasi, membulatkan kesadaran baru, dan menjadi perolehan jamaah untuk bisa dibawa kembali ke rumah masing-masing. Usai shalawatan ini para jamaah berdiri mengamini doa yang dibawakan Kiai Muzammil, dan bersiap untuk salaman dengan Cak Nun dan Bapak-bapak yang lain. (hm/adn)