Daur (279)

Kebudayaan Rupadatu

Tahqiq : “…tidak hanya urusan merampok kekayaan tanah air kalian, tidak hanya menempuh cara memecah belah suatu kaum, memandulkan nilai-nilai kebenaran suatu Agama, tetapi juga penghancuran yang sangat kejam terhadap kemanusiaan…”

Seger meneruskan. “Padahal semua itu dimensi-dimensi yang merupakan kelengkapan muatan dalam diri manusia. Manusia adalah pengelola liberalitas, radikalitas, fundamentalitas, dan berbagai macam fenomena kejiwaan pribadi, yang keluaran sosialnya ditata berdasarkan beda-beda konteks, dimensi, dan nuansanya…”

“Sewaktu-waktu Tuhan memanggil kita”, kata Tarmihim, “tapi sekarang kita akan lebih legowo karena ungkapan anak-anak kita itu mengurangi lumpuhnya jiwa kita”

Seger meneruskan seolah tidak mendengar apa yang diungkapkan oleh Tarmihim.

“Seolah-olah manusia itu mungkin liberal seluruh dirinya, atau radikal seluruh hidupnya, atau fundamental seluruh perilakunya. Manusia adalah pengelola Ideologi, bukan ternak di dalam kurungan ideologi. Atau justru didorong untuk tak sadar bahwa diri manusia sendiri tidaklah plural, sebab ia bagian dari pluralitas….”

“Berarti”, Sundusin memotong Seger, “Musim Gugur Nusantara itu tidak hanya urusan merampok kekayaan tanah air kalian, tidak hanya menempuh cara memecah-belah suatu kaum, memandulkan nilai-nilai kebenaran suatu Agama, tetapi juga penghancuran yang sangat kejam terhadap kemanusiaan?”

“Saya dan kami semua bukan mendramatisir”, jawab Seger, “bukan melebih-lebihkan, juga tidak menseram-seramkan. Tetapi apa yang sebenarnya berlangsung dewasa ini kalau bukan itu perumusannya, Pakde?”

Tarmihim mengkonfirmasi. “Seger dan anak-anak semua”, katanya, “saya berharap dan ingin meyakinkan bahwa semua pikiran yang kalian ungkapkan itu bukanlah ajaran kami orang-orang tua. Bukan hasil dari pengaruh Mbah Markesot dan Pakde Paklik kepada kalian. Melainkan lahir dari proses pengamatan, penelitian, dan perenungan kalian sendiri – meskipun boleh saja sejumlah bahan untuk itu kalian dapatkan dari kami”

Terdengar suara tertawa Jitul.

“Pakde”, katanya, “kami merapat ke Mbah Markesot dan Pakde Paklik ini justru karena kami bukan tipe anak-anak muda yang membebek. Kami bukan pengikut yang anut grubyug, muqallidin atau rubuh-rubuh gedhang. Kami ke sini justru karena kami mandiri. Berusaha memerdekakan diri dari pengaruh-pengaruh mainstream. Yang arus utama saja kami tidak terseret. Apalagi arus minoritas dan tersembunyi seperti Mbah Markesot dan Pakde Paklik”

“Sebentar…”, tiba-tiba Toling memotong, “kalau tidak salah sebenarnya tadi Seger mau menanyakan sesuatu, sehingga menginterupsi Pakde Brakodin yang akan menjelaskan tentang kepandaian dan kebodohan”

“Begitu, Ger?”, tanya Brakodin.

“Ya, Pakde”, jawab Seger.

“Tanya apa”

“Nggak tahu kenapa kok saya dan teman-teman berpikir agak sama sehingga ingin menanyakan hal yang sama pula”

“Apa itu”

“Mbah Markesot kan pergi sudah cukup lama dan tidak ada kabar beritanya. Apa Mbah Markesot terselip di antara mereka yang berhimpun di Ibukota itu?”

Tarmihim, Brakodin dan Sundusin berpandangan satu sama lain.

“Maksud kalian, Mbah Sot ada di tengah jejalan-jejalan itu?”, Tarmihim bertanya.

“Nggak tahu, Pakde. Hanya terpikir seperti itu”, jawab Seger.

“Siapa tahu Mbah Sot bagian dari yang bikin itu…”, Toling menambahi.

“Ah lucu itu”, Sundusin tertawa, “Mbah Markesot kalian itu bukan siapa-siapa. Bukan tokoh nasional. Bukan pemimpin Agama. Juga tidak dikenal oleh mereka. Penampilannya pun sama sekali tidak mencerminkan warna keagamaan. Pakaiannya campuran preman dan gelandangan…”

“Apakah pakaian itu penting, Pakde?”, Toling bertanta.

“Penting”, jawab Tarmihim, “pakaian sangat penting. Celana atau sarung putih, baju koko putih, peci putih atau surban putih, semua itu sangat penting. Bahkan itu perangkat utama ekspresi massa yang berhimpun…”

“Yang penting adalah yang tampak dan yang terdengar”, Sundusin menambahi, “yang tidak tampak dan tidak terdengar juga mungkin penting, tapi tidak bisa menjadi yang utama. Yang sedang berlangsung sekarang ini adalah kebudayaan hardware, casing, simbolisme, formalisme. Rupadatu. Bukan arupadatu…