Daur (283)

Kebenaran dalam Kemuliaan

Tahqiq : “...Kita tidak berorganisasi, kita belajar membangun organisme sebagaimana Allah membangun alam semesta. Kita belajar dan meniru rerumputan, mengalirnya air, bergantinya siang dan malam. Akal sehat dan pemikiran kita modulasikan dengan sunnatullah....”

“Kalau kalian sudah bisa sampai ke substansi yang Pakde maksudkan, jembatan itu boleh dibuang. Kalau sudah ditemukan titik kesepakatan tentang hulu dan hilir suatu persoalan, maka perbedaan terhadap kata dan bahasa sudah terlewati”, Sundusin menjelaskan.

“Mudah-mudahan Pakde”, kata Junit, “intinya ada tahap kenal sesuatu, kemudian mengetahuinya, memahaminya, lantas mendalami sampai mengerti. Benar begitu Pakde?”

“Itu kalau keduanya sama-sama mencari kebenaran”, Seger menyahut, “yang sekarang sedang gaduh dan ribut di luar sana pada permenungan dan sublimasi saya bukan dinamika mencari kebenaran. Memang mungkin semua merasa sedang memperjuangkan atau mempertahankan kebenaran. Itu pun kebenarannya masing-masing. Tetapi sekarang semua pihak sudah terperosok ke dalam situasi dan posisi menang atau kalah. Bukan benar atau salah lagi….”

“Itu luasannya, Ger, nanti dulu…”, Sundusin memotong, “coba sekarang pelan-pelan, belajar Alif Ba Ta dari awal lagi. Meneruskan yang tadi saya kemukakan tentang tadris ta’lim tafhim ta’rif tarbiyah ta`dib dan seterusnya itu. Kalian ikut berduyun-duyun dengan ratusan ribu orang untuk menggugat sesuatu tak apa. Sewaktu-waktu berangkatlah dengan keputusan dan keyakinan kalian masing-masing. Sebab hubungan kalian dangan Mbah Markesot dan Pakde Paklik bukan pola hubungan komando, bukan garis instruksional atau mobilisasi. Kami tidak mengikat kalian untuk soal apapun, karena kelak di depan Allah kami juga tidak mampu mempertanggungjawabkan apapun kecuali kelakuan kami sendiri masing-masing. Kami tidak bisa menolong kalian atau siapapun, bahkan tidak juga keluarga kita masing-masing, kecuali klausul-klausul khusus, misalnya doa anak yang shaleh….”

Junit memotong. “Ke mana arahnya ini, Pakde. Kami bukan anak-anak muda yang menunggu perintah Mbah Markesot atau Pakde Paklik. Kami merapat ke sini untuk belajar matang dalam mengambil keputusan. Begitu suatu saat untuk suatu hal kami mengambil keputusan, itu adalah keputusan kami sendiri”

“Ya paham, Junit”, jawab Sundusin, “Pakde hanya mengulang kesadaran sambil memperingatkan kepada diri Pakde sendiri. Mbah Markesot dan Pakde Paklik ini bukan Muballigh atau Da’i, apalagi provokator. Jangankan lagi Ulama, Kiai atau Habib Habaib….”

Jitul tertawa. “Memangnya siapa Pakde yang menganggap Panjenengan-Panjenengan ini, termasuk Mbah Markesot, adalah Muballigh Da’i Ulama Kiai Habib Habaib. Dianggap ada aja enggak kok Pakde. Negara ini tidak menganggap Mbah dan Pakde Paklik ini ada. Dan Pemerintah pun andaikan pernah mendengar nama-nama dan siapa Mbah Markesot dan Pakde Paklik, tidak pernah memperhitungkannya sebagai faktor apapun….”

Tarmihim tertawa lebih keras. “Ya tapi jangan terlalu meremehkan orang-orang tua tho, Tul. Sesuatu yang kecil tak perlu dikecil-kecilkan, orang yang tiada jangan ditiada-tiadakan….”

“Tidak bermaksud begitu saya, Pakde”, jawab Jitul, “kami tidak mentertawakan Mbah Sot dan Pakde Paklik. Kita sedang mentertawakan diri kita semua….”

“Cukup, cukup”, Sundusin memotong, “saya teruskan. Kita ini tidak berorganisasi, kita sekadar belajar membangun organisme sebagaimana Allah membangun alam semesta. Kita belajar dan meniru rerumputan, mengalirnya air, bergantinya siang dan malam. Akal sehat dan pemikiran kita modulasikan dengan sunnatullah, supaya tidak pinter dan keminter….”

Jitul tertawa lagi. “habisnya Pakde Paklik ini kadang-kadang lebay…”, katanya, “tapi hal pinter keminter itu penting untuk kami”

“Apa pinter itu salah, Pakde?”, Seger bertanya.

“Kan sejak kecil semua orangtua di antara mereka selalu saling mendoakan putra-putrinya agar menjadi anak pintar…”, Junit menambahi.

“Nggak selalu dong”, Jitul membantah, “doa orang-orang tua kepada anaknya sekarang kan semoga menjadi anak sholeh….”

“Sholeh itu alatnya adalah pinter”, kata Seger, “kata Mbah Sot dulu sholeh itu ilmu yang dilandasi kearifan, kasih sayang, dan tujuan yang mulia untuk rahmatan lil’alamin. Sholeh itu kepintaran yang arif, mulia, dan penuh pengayoman kepada semua manusia yang menjadi subjeknya. Kebenaran berada dalam kemuliaan, kemuliaan belum tentu dikandung oleh kebenaran….”

“Itulah yang mau kita rumuskan bersama”, potong Sundusin, “mengukur jarak setepat-tepatnya antara pinter dengan baik, antara baik dengan mulia, kemudian antara pinter baik mulia dengan sholeh”

“Wah, detail dan lembut sekali hidup ini ya Pakde”, sahut Junit.