Daur (146)

Katak Tak Paham Tempurung

Ta’qid : “...Musuh sekuat apapun di luar diri manusia, masih kalah daya penghancurannya dibanding musuh yang berada di dalam diri manusia sendiri...”

Kalau engkau adalah satu dari sekian orang yang berjajar berbaris menjadi shaf-shaf di Masjid, musuh utamamu bukanlah orang yang berhimpun di Gereja, Synagog atau Kuil. Bahkan pun bukan gerombolan lain yang tampak seolah-olah mengingkari Tuhan — sebab mereka sama sekali tidak pernah belajar mengenali sesuatu yang kemudian seolah-olah mereka musuhi.

Musuh sekuat apapun di luar diri manusia, masih kalah daya penghancurannya dibanding musuh yang berada di dalam diri manusia sendiri. Dan salah satu musuh utama yang terkuat pada manusia adalah rendahnya naluri dan kesanggupannya untuk menemukan kesalahan-kesalahan pada dirinya sendiri.

Salah satu tugas hidup manusia di dunia adalah diuji untuk lulus dan lolos dari kepungan musuh-musuh dari luar dirinya. Tetapi tetap saja musuh utama manusia adalah dirinya sendiri.

Musuh utama manusia bukanlah manusia lain. Musuh utama kelompok manusia bukanlah kelompok yang lain. Dan musuh utama sebuah bangsa bukanlah bangsa yang lain. Melainkan diri manusia, diri kelompok, dan diri bangsa itu sendiri.

Kesempitan memenjarakan mereka di dalam ketidaktahuan tentang keluasan, yang di dalamnya terkandung berbagai kemungkinan yang mereka perlukan untuk bercermin dan membandingkan diri.

Kenyataannya mereka mengalami fenomena-fenomena kehidupan yang sebenarnya penuh keluasan, tetapi mereka memandangnya dengan kesempitan.

Mereka tidak pernah mengerti atau merasakan dialektika antara keluasan dengan kesempitan, karena meskipun mereka hidup di semesta keluasan, cara mereka memahami dan menikmati hanya dengan kesempitan.

Orang yang hidupnya hanya mengalami kesempitan, tidak pernah memahami kesempitan, hampir tidak punya peluang untuk mengerti bahwa yang ia alami dan dan jalani adalah kesempitan.

Orang yang menikmati dan mempertahankan kesempitan sampai menjadi ‘iman’nya, tidak kuat hatinya mendengar kata sempit dan kesempitan jika dikaitkan dengan dirinya.

Orang yang siang malam dan bangun tidurnya menyatu dengan kesempitan, selalu marah jika dirinya dihubungkan dengan kesempitan, karena akalnya tidak pernah dilatih untuk dinamis memahami kemungkinan lain di luar kesempitan.

Orang yang kesempitan merupakan darah dagingnya, menjadi rohani dan jasmaninya, merentangi hulu hilir usianya, tidak punya kemampuan sunnah untuk mengerti hakiki dunia, apalagi yang lebih luas dari itu, karena atas dirinya sendiri pun ia tidak pernah mencapai pemahaman.

Orang yang di sepanjang pengalamannya dengan siang maupun malam, kalau melihat ke atas hanya melihat atap rumahnya, tidaklah bisa bertemu langit.

Orang yang hidup sebatas atap, tak akan pernah memiliki pengetahuan bahwa hidup tak sebatas atap. Kesimpulan bahwa hidup sebatas atap lahir dari orang yang hidupnya tak pernah mempertanyakan atap.

Adapun orang yang membiasakan dan melatih diri terbang ke langit, bisa melihat bahwa orang yang di bawah atap selalu menganggap dan meyakini bahwa atap adalah segala-galanya. Bahwa seluas atap itulah dunia.

Sebenarnya masyarakat itu sudah lama, sejak nenek moyang mereka, punya peribahasa indah yang berbunyi “katak dalam tempurung”. Tetapi katak di dalam tempurung mustahil memahami katak dalam tempurung.

Pemahaman dan kesimpulan tentang katak dalam tempurung lahir dari luar tempurung.