Daur (288)

Kartu-Kartu Sejarah

Tahqiq : “...bermain kartu kasat matanya, tetapi sesungguhnya mereka sedang membaca sejarah, mengidentifikasi peran manusia dan kelompok-kelompok dalam peta kekuasaan sejarah, kecerdasan, dan kecanggihan keputusan-keputusan yang diambil....”

“Seorang pelaku dalam sebuah lakon bisa terlihat sedang mengiris bawang”, Seger menjelaskan, “itu tidak berarti yang disampaikan adalah urusan bawang. Mungkin informasinya terletak pada kalimat yang diucapkannya sambil mengiris bawang itu, atau bisa juga menunjukkan bahwa ia sedang berada dalam kehidupan normal di rumah, di tengah peta lakon keseluruhannya”.

Mungkin ada adegan Ibu mengiris brambang dan sibuk di dapur, padahal sebenarnya ia sedang menonton berita di teve yang cukup ia dengarkan suaranya. Kemudian salah satu putrinya datang dan bermanja kepadanya. Si Ibu menggendong dan bermain mesraan-mesraan dengannya, tiba-tiba televisi berbunyi: “Tersangka”.

Bukan dapurnya, bukan brambang dan pisaunya, bukan putri kecil yang bermanja, yang merupakan substansi adegan itu. Melainkan satu kata dari televisi itu. Tapi kenapa disamarkan dengan menonjolkan adegan di dapur? Mungkin untuk mengurangi atmosfir tegang dari adegan itu, atau justru menciptakan paradoks suasana sehingga satu kata itu lebih menonjok.

Atau mungkin ada konsep di pikiran penulis skrip dan sutradaranya yang menganggap perlunya keseimbangan kejiwaan dalam hidup manusia. Seseorang tidak baik untuk tidak memfokus, tetapi juga berbahaya kalau hanya terpaku pada fokus dan kehilangan kemenyeluruhannya. Hidup itu suka-sukar mudah dan sekaligus mudah-mudah sukar. Manusia harus terus bergerak pikirannya, bergetar pengelanaan pandangnya, mengalir perhatian dan pendalamannya atas kenyataan diri dan kehidupan di luarnya.

Substansi kata “tersangka” itu juga bukan segala-galanya. Kalau kalah dalam suatu pertempuran, tidak boleh kaget karena masih ada peperangan yang panjang. Sebaliknya kalau menang di satu pertempuran, tidak boleh terlena dan terlalu bangga, karena masih akan ada tahap pertempuran demi pertempuran berikutnya.

Karena sukar-sukar mudah dan mudah-mudah sukar itu Seger sudah sangat kewalahan sekadar mencatat buah-buah dan alur pikiran yang bertaburan dalam pertemuan-pertemuan mereka. Tidak mungkin memintanya untuk menggambarkan secara lengkap, tak hanya isi atau muatannya, tapi juga segala sisi adegan dan perangkat-perangkat kejadian di tempat pertemuan mereka.

Seger tidak harus mencatat rundown diskusi-diskusi mereka, jadwal hari tanggal jamnya, apa yang dilakukan ketika jeda, siapa yang sedang bergiliran menyiapkan konsumsi, ide kuliner Tarmihim lebih nyamleng dibanding gagasan Sundusin ataukah suguhan Brakodin yang istimewa. Seger tidak perlu mencatat Pakde ini pakai baju warna apa, Paklik pakai sarung atau celana, atau Brakodin sedang agak demam masuk angin atau kenapa kok lebih banyak mendengarkan daripada berbicara, kecuali yang menyangkut Markesot langsung.

Ayam yang berkokok tidak perlu mengumumkan bahwa ia berkokok. Ayam yang sayapnya mengembang karena rasa penasaran, tidak perlu menginformasikan pengalamannya itu. Seger tidak perlu mencatat kenapa ia agak berkepanjangan kuliahnya di kampus, kenapa Toling yang tidak secerdas Junit malah lebih lancar studinya, atau kenapa Jitul lebih sibuk bekerja cari nafkah dibanding jadwal belajarnya.

Bahkan ketika main gaple berpasangan di sela-sela intensitas diskusi, dan pertandingannya berpasangan antara generasi muda melawan generasi tua, pada praktiknya bukan gaple itu sendiri yang sedang dilakukan. Lalu lintas kartu yang dibanting, deretan kartu-kartu di tangan mereka berempat, konsentrasi masing-masing untuk memastikan kartu apa saja di tangan kawan dan lawannya, sesungguhnya urusan mereka bukanlah kartu dan gaple itu sendiri.

Arus berpikir pada Pakde Paklik maupun anak-anak muda itu sedemikian intensifnya, serta sudah selalu sangat mereka nikmati, jauh lebih kuat dari sekadar urusan konstelasi kartu-kartu domino. Kartu-kartu dan mekanismenya, pertarungannya, desakan dan telikungannya, selalu mereka perlakukan sebagai simbolisme bagi substansi pemikiran-pemikiran di belakangnya. Mereka bermain kartu kasat matanya, tetapi sesungguhnya mereka sedang membaca sejarah, mengidentifikasi peran manusia dan kelompok-kelompok dalam peta kekuasaan sejarah, kecerdasan, dan kecanggihan keputusan-keputusan yang diambil.

Bermain gaple, remi, mendengarkan lagu-lagu, atau bernyanyi-nyanyi sendiri, sesungguhnya hanya semacam minyak pelumas bagi arus pemikiran yang sedang mereka dialektikakan bersama dalam pertemuan-pertemuan itu. Bahkan ketika mereka menikmati mie godog panas, atau beli lotek siang-siang, atau menyeduh kopi tengah malam, serta apapun, tidak pernah terlepas dari pengandaian-pengandaian sejarah yang terkandung dalam diskusi dan pemikiran mereka.