Catatan Sinau Bareng Jogja Gumregah, Yogyakarta 4 Oktober 2016

Karena Indonesia Sedang Diculik Naga Raksasa

Sunyi berbisik lebih dekat lagi di telingaku. Karena Indonesia Raya anak mereka. Diculik oleh Naga raksasa. Yang datang dari Utara.

Momentum seperti ini, di mana kesadaran sejarah, budaya, dan martabat bangsa dibangun kembali, adalah momentum penting. Sementara Indonesia sedang tidak berdaulat dan terkeping-keping, Yogyakarta melalui Festival Jogja Gumregah justru melakukan ngukupi alias menyambung apa yang diprotol-protoli. Ada tiga perspektif yang ditawarkan Cak Nun kepada hadirin dan khususnya para penggagas acara ini. Pertama, peespektif sangkan paraning hidup manusia. Kedua, perpektif sejarah Jawa. Ketiga, perspektif yang lebih pendek lagi yaitu perspektif sejarah Indonesia sejak prakemerdekaan di mana UUD 45 dibuat dan pada 2002 diamandemen. “Untuk memahami Jogja Gumregah ini kita juga perlu melihat kembali ke UUD yang awal atau yang asli itu,” kata Cak Nun.

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Tetapi, untuk semangat Jogja Gumregah ini Cak Nun menulis puisi dan membacakannya di tengah sudah lama sekali tidak pernah baca puisi. Puisi itu berjudul “Yogya Gumregah”. Para hadirin, bapak-bapak, dan semuanya mendengarkan suara Cak Nun berpuisi. Dengarkanlah…

….
Sunyi sangat lirih berbisik
Itu Yogya wedang gumregah
Menggeliat terbangun dari tidurnya
Karena jiwanya dibikin pengap dan jengah

Aku meneruskan bertanya
Kenapa mereka mendadak bangun
Ada apa di balik urat-urat wajah mereka
Kenapa ada amarah yang memancar dari sorot mata mereka

Sunyi berbisik lebih dekat lagi di telingaku
Karena Indonesia Raya anak mereka
Diculik oleh Naga raksasa
Yang datang dari Utara

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Masyarakat Warungboto dan para hadirin lalu mendengarkan nomor Medlei Jogja KiaiKanjeng yang menyambung langsung puisi Cak Nun. Sebuah medlei yang sudah sama-sama dimengerti oleh jamaah bahwa komposisi ini bukan Jawa sentris, melainkan sebagai wujud setia kepada Allah yang menjadikan orang Jawa ebagai orang Jawa, sebagaimana orang Madura sebagai orang Madura, dan itu adalah dogma yang harus diterima karena Tuhan yang menjadikannya demkian. Dengan keotentikan dogmatis itu yang terpenting adalah out put-nya untuk Indonesia, seperti acara ini yang titik beratnya sebenarnaya bukan hanya Jogja melainkan Indonesia. (hm/adn)