Catatan Ngaji Bareng Sedekah Bumi, Bojonegoro 21 Oktober 2016

Karena Anda adalah Kekasihnya Kekasih Allah

Anda harus senang, karena Anda semua adalah kekasihnya kekasih Allah. Hal sederhana yang kerap luput dari ingatan kita, dan jarang ada yang mengingatkannya.

Dari ketenangan, kematangan, dan hati yang topo, senantiasa muncul beragam metode komunikasi dari Cak Nun. Uluk salam yang dilagukan, dan mendapatkan jawaban yang dilagukan pula. Satu langkah awal yang langsung memangku hati para jamaah yang sudah sangat ingin segera bertemu dengan Cak Nun. Sebuah bangun percintaan yang telah mulai terbentuk, membuka hubungan batin antara Cak Nun dan seluruh jamaah.

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Kemudian Alfatihah dilantunkan dan diuraikan maknanya. Nama dusun Bandar, nama desa Batokan, dan nama kecamatan Kasiman coba ditemukan makna dan artinya oleh Cak Nun. Pengulasan yang membuat warga menyadari pandangan baru atas nama-nama yang sesungguhnya punya sejarah dan arti yang dalam. Ini merupakan langkah membawa masyarakat pada jalur sadar kontinuasi sejarah. Hal yang sangat sering dilakukan Cak Nun setiap kali Maiyahan di berbagai pelosok desa di Indonesia.

Ribuah orang yang duduk rapi, sebagian berdiri di pinggir sawah, atau di pojok-pojok, semuanya menerima energi cinta Cak Nun. Setiap kalimat pembicaraan Cak Nun mendapat respons. Pola ngobrol yang menjelma jauh dari ceramah. Semua merasa diajak berbicara oleh Cak Nun. Merata semuanya. Semerata Cak Nun melebarkan pandangan mata ke setiap sudut, ke setiap belahan wilayah di depannya. Cak Nun pun tak hanya duduk. Lebih sering Beliau berdiri bergerak mendekatkan diri kepada Jamaah.

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Satu lagi gerakan yang membesarkan hati masyarakat adalah saat Cak Nun menguraikan hubungan cinta antara Allah, Kanjeng Nabi Muhammad, dan kita semua (tentu termasuk yang hadir malam ini). Cak Nun mengingatkan dan meyakinkan, “Anda harus senang, karena Anda semua adalah kekasihnya kekasih Allah.” Hal sederhana yang kerap luput dari ingatan kita, dan jarang ada yang mengingatkannya. Cak Nun lalu menjelaskan bagaimana Rasulullah mencintai dan memikirkan umatnya. (hm/adn)