Daur (93)

Kapitalisme Khawit
Dan Ekor Balkadaba

Setelah Markesot dibikin sedikit kaget dan terpana oleh Markesot jauh di kedalaman dirinya, sekaligus yang bertempat tinggal jauh di sebuah koordinat langit, ia memandang sekeliling. Pepohonan yang samar di tengah kegelapan, gerumbul daun-daun, satu dua bintang yang mengintip di antara dahan-dahan. Air yang bergemericik di sungai. Kepungan suara cengkerik di sana-sini, lintas suara sejumlah unggas.

Markesot merasakan tempat dan lingkungan seperti inilah yang lebih memantulkan nuansa sorga. Bukan perkotaan yang gaduh. Bukan desa-desa yang tak percaya dirinya sendiri sehingga sibuk merindukan agar menjadi kota. Sehebat-hebat metropolitan di zaman ini tak ada sekuku-hitamnya kemewahan kota Sulaiman. Bahkan tidak bisa sekadar dibandingkan dengan Iram kota Hud yang bagaikan festival raksasa cahaya-cahaya.

Mungkin dalam rangka menaklukkan kota Sulaiman itulah Baginda Kharmiyo bertapa di tempat-tempat sebagaimana yang dijelajahi oleh Markesot saat ini. Bukan menaklukkan kota itu sebagai kota, tetapi menaklukkan gagasan dan fakta metropolitan di dalam diri Baginda Kharmiyo sendiri.

Ia harus berikhtiar agar Tuhan menganugerahkan semacam kebesaran dan keluasan wawasan di dalam jiwanya, agar tidak terpukau dan tenggelam di dalam kebesaran kota dan Kerajaan yang dibangun oleh Baginda Sulaiman Bapaknya. Kharmiyo sangat menyadari Tuhan tidak menganugerahkan kepadanya kebesaran yang dahsyat sebagaimana Bapaknya yang komplit: Lelaki perkasa, Raja teragung yang berdunia akhirat dan berakhirat dunia, atau yang dunianya akhirat dan akhiratnya dunia. Serta Nabi dan Rasul pula.

***

Tetapi ia manusia. Sebagaimana Bapaknya adalah juga ‘hanya’ manusia, sebesar dan sehebat apapun ia.

Manusia lebih besar dari dunia, sehingga manusia pantang kalah atau ditenggelamkan oleh dunia. Dunia berterima kasih kepada Tuhan yang telah berkenan menempatkan manusia untuk bertempat tinggal sementara di atas tanahnya. Dunia menangis berkepanjangan andaikan keputusan Tuhan tidak demikian. Dunia memohon-mohon agar manusia diletakkan padanya, sementara manusia tidak menangis andaikan Tuhan tidak menempatkannya di dunia.

Manusia adalah ciptaan terbaik Tuhan, dan Ia bahkan tidak pernah menyatakan ada makhluk lainnya yang Ia sebut terbaik sebagaimana manusia. Baginda Kharmiyo tahu bahkan seandainyapun ia bukan putra Sulaiman, ia tetap makhluk terbaiknya Tuhan sebagaimana semua manusia yang lain.

Tetapi ia punya kemungkinan untuk menjadi lebih baik apabila ia meluangkan waktu untuk bertapa di tempat yang nuansanya mendekati sorga: sungai-sungai yang mengalir, pepohonan yang berwarna hijau tua, berbagai macam keindahan, cahaya dan mata tajam sebagaimana yang dimiliki oleh para Huur, yang oleh manusia di dunia secara sembrono diterjemahkan dan dipahami sebagai Bidadari.

Baginda Kharmiyo merasakan bahwa Nabi Nuh kakeknya pada generasi terdahulu yang jauh, mestinya di tempat-tempat seperti ini mencari kayu untuk membangun Kapal besar yang menggerbangi zaman dan segala sejarah ummat manusia.

Baginda Nuh mestinya agak mustahil menjumpai kayu-kayu besar untuk bahteranya kalau tidak di kiri-kiri kanan Sabuk Bumi yakni Khatulistiwa. Beliau menjumpai satu kayu raksasa yang dikelilingi oleh tiga ratus kayu lainnya, yang berkerubung seakan-akan mereka adalah putra-putri kayu raksasa itu.

***

Markesot tersenyum geli mengingat Khawit, putra Nabi Nuh, yang meminta bayaran kepada Bapaknya ketika disuruh oleh Nabi Nuh menebang dan memotong-motong kayu-kayu itu.

“Bahkan anak seorang Nabi besar”, kata Markesot, “bisa melakukan sesuatu tanpa pikiran kejuangan. Mas Khawit malah menjadi salah satu pelopor kapitalisme”

Nabi Nuh sangat sedih hatinya karena itu. Baginda Nuh hanya punya tiga biji makanan semacam apem untuk mengupah anaknya. Tentu saja Mas Khawit tidak terima, mana pantas kerja besar menebang dan memotong kayu-kayu raksasa hanya diupah tiga apem. Tetapi Bapaknya tidak punya apa-apa lagi dan hanya mengatakan bahwa apem itu tak akan pernah habis dimakan oleh Mas Khawit.

Malaikat Jibril menyaksikan adegan itu dan tak tega hati kepada Baginda Nuh, sehingga memohon kepada Tuhan agar kalimat Baginda Nuh kepada Mas Khawit itu diwujudkan oleh-Nya. Bahkan Nuh seakan-akan direkrut oleh Allah sendiri untuk menjadi bagian terdekat dari ruh-Nya.

Nuh ruh Allah, sebagaimana Isa. Musa juru bicara Allah. Ibrahim sahabat karib-Nya. Ismail sembelihan kesayangan-Nya. Dan tentu saja semuanya itu adalah dimensi-dimensi dari Muhammad kekasih-Nya.

Bukankah beratus tahun Baginda Nuh disakiti oleh masyarakatnya dengan dituduh sebagai orang gila karena ajakan-ajakannya untuk memusatkan diri pada Tuhan yang Maha Tunggal. Sampai-sampai ia berdoa memohon adzab bagi para penghinanya itu, dan Tuhan mengabulkannya.

Ketika segala sesuatunya dipersiapkan oleh Baginda Nuh untuk menyongsong adzab banjir bandang terbesar sepanjang sejarah itu, dan berhasil menemukan kayu-kayu yang diperlukan — anaknya sendiri bukannya bangga untuk bersama-sama berjuang. Malah me-malak Bapaknya.

***

Mungkin anak turun Mas Khawit ini yang kelak berimigrasi ke dua tempat. Satu di wilayah Timur-Tengah, lainnya ke daerah Timur-Utara. Karena kondisi alam dan cuaca, anak turun Mas Khawit berkembang menjadi kumpulan masyarakat yang berbeda besar badannya, lebar sempit matanya, tetapi sama keserakahannya terhadap dunia.

Meskipun beliau seorang Nabi dan Rasul, tetapi sifat kemanusiaan Baginda Nuh justru dipelihara oleh Tuhan: sakit hati, sesekali seperti putus asa, marah, sampai-sampai memohonkan adzab untuk para pendurhaka di sekitarnya. Bahkan kalau ada kisah-kisah bahwa setelah Bahtera mendarat seusai banjir, kabarnya Nabi Nuh sempat mabuk-mabuk, saking lega hatinya sesudah perjuangan yang teramat berat — rasanya itu manusiawi belaka.

Belum lagi tatkala Kapalnya mulai siap, masyarakat sekitar beberapa malam melemparinya dengan tinja dalam jumlah yang sangat banyak, dan benar-benar membuat Kapal itu berbau sangat busuk. Belum lagi Iblis diam-diam ikut masuk kapal dengan berpegangan di ekor binatang Balkadaba. Dan tatkala banjir terjadi, Bahtera Baginda Nuh melaju, Iblis mengejek Baginda Nuh dengan sangat sinis.

“Berapa orang yang ikut di kapalmu, Nuh?”, katanya.

“Yaaah sekitar tiga ratus orang”, jawab Nabi Nuh ogah-ogahan.

“Yang tidak ikut dan terkubur mati oleh banjir kira-kira berapa?”

“Berpuluh kali lipat jumlahnya dibanding yang selamat di kapal ini”

“Padahal 900 tahun kamu mengajak mereka untuk menyembah Tuhan, sayang sekali cuma dapat beberapa ratus orang”

Baginda Nuh tersinggung kepada Iblis. “Itu jumlah yang sangat lumayan, kalau dilihat bahwa kamu sudah memasuki setiap janin di rahim para Ibu jauh sebelum aku bertugas”

Kemudian Baginda Nuh mengusir Iblis dari hadapannya, meskipun tahu bahwa Iblis hanya bisa diusir dari dirinya, tapi tidak dari Kapalnya.