Daur (207)

Kacamata Kegelapan

Ta’qid : “Tapi kebiasaan kritismu itu terpeleset untuk hanya melahirkan kecengengan, rasa tidak terima terus-menerus, ketidakikhlasan yang karena berlebihan maka bisa melahirkan kebencian dan keputusasaan”

Memang semalaman Markesot diserbu berturut-turut oleh sosok orang tua yang kemarin yang ternyata tak pergi-pergi juga. Bahkan oleh Saimon yang nyelonong tiba-tiba. Dan oleh Kiai Sudrun yang marah-marah.

Desakan kepada Markesot yang berasal dari dalam dirinya, yakni permenungannya dengan orang-orang tua itu, maupun yang dari luar, yakni teman-temannya, sebenarnya sama substansi dan arahnya.

“Yang bermasalah sebenarnya bukan dunia dan ummat manusia, bukan Negara dan Pemerintahnya, bukan rakyat, masyarakat atau ummat. Yang bermasalah itu kamu sendiri”, Kiai Sudrun berkata keras dan agak menghardik.

Markesot tidak menjawab. Diam. Memejamkan mata. Melipat kedua tangannya di dada.

“Sejak pertemuan kita terakhir beberapa waktu yang lalu ketika shalat berjamaah di sana, saya sudah memberi tanda-tanda kepadamu”, Kiai Sudrun meneruskan, “Tapi tidak ada tanda-tanda perubahan di dalam dirimu. Kemudian saya pesankan melalui Saimon agar kamu memulai kembali dari kesederhanaan, yang kecil-kecil, yang membumi…”

Markesot tetap mengatupkan bibir dan memejamkan matanya. Tak bersuara menanggapi. Tetapi mesin berpikir di dalam batinnya tidak bisa dihalangi untuk bekerja secara alamiah. “Memang tidak ada perubahan”, pikiran Markesot berkata, “Ke manapun saya melangkah, kaki saya membentur dinding. Semua arah adalah kebuntuan. Saya yang lebih memerlukan perubahan dibanding Kiai, tetapi ke mana arah perubahan itu kelihatannya terbalik di antara kita. Kiai memaksudkan saya berubah ke arah dalam arti mengambil jarak beberapa langkah mundur ke belakang. Sementara saya justru ingin berubah menuju kesanggupan untuk berlari lebih cepat dibanding percepatan masalah-masalah beserta berbagai jenis pembengkakan dan komplikasinya, yang mengepung Negeri dan Bangsanya”

Kiai Sudrun meneruskan, Saya yakin kamu bukan tidak memahami tanda-tanda dari saya, tapi kamu memang terlalu yakin pada hutan rimba perenunganmu sendiri, yang sudah kamu lakukan berpuluh-tahun lamanya…”

“Apa ada kemungkinan saya menegakkan dan merapatkan keyakinan yang bukan keyakinan saya?”, pikiran Markesot menyergah. Mana mungkin pikiran Markesot tidak membantah. Sedangkan Markesot sendiri selalu merasa sangat kelelahan dibantah terus-menerus oleh pikirannya sendiri.

Tetapi mulut Markesot tetap terkatup rapat. Sederas-derasnya serbuan Kiai Sudrun atau siapapun kepadanya, masih lebih deras serangan dan tangkisan pikirannya sendiri. Apalagi sejak zaman dahulu pikiran-pikiran Sudrun sudah menjadi bagian yang tak terurai dari air bah pikiran Markesot sendiri. Maka salah satu sisi kejiwaan Markesot merasakan serbuan Sudrun itu hanya bagian kecil dan normal dari peperangan internal di dalam dirinya sendiri.

“Saya bisa memahami tidak mudahnya bagimu untuk mengubah diri, menggeser cara pandangmu”, terdengar suara Kiai Sudrun lagi, “Tetapi tampaknya kamu terlalu menderita oleh berbagai macam kegelapan dalam kehidupan manusia, sehingga akhirnya kamu sendiri menjadi lebih gelap dari yang kamu prihatinkan.”

Sebelumnya Saimon juga tak kalah ganasnya menyerang Markesot. “Yang gelap itu kacamatamu. Caramu melihat kehidupan manusia bukan hanya ibarat kacamata hitam, tapi kacamata kegelapan. Apapun saja yang kamu lihat, tampak gelap. Andaikan ada cahaya terang benderang pun menjadi redup oleh kacamata kegelapan yang sudah menyatu dengan penglihatan jasadmu, penglihatan pikiran maupun penglihatan batinmu”

Sosok orang tua yang kalau Markesot memejamkan mata pun orang tua itu tetap tampak di benak kegelapannya, menuding Markesot sebagai orang yang semakin kehilangan rasa syukur. “Kamu sangat pandai bersedih, sangat ahli memprihatinkan segala sesuatu, sampai akhirnya kehilangan kemampuan untuk menemukan hal-hal yang sebenarnya patut disyukuri. Kamu sangat kritis, sangat mengerti ketidakbenaran, sangat memahami secara detail kedhaliman, kejahatan, kebobrokan dan yang buruk-buruk dari kehidupan manusia di dunia. Tapi kebiasaan kritismu itu terpeleset untuk hanya melahirkan kecengengan, rasa tidak terima terus-menerus, ketidakikhlasan yang karena berlebihan maka bisa melahirkan kebencian dan keputusasaan. Kamu ini mau apa sebenarnya?”

Kehadiran Saimon hanyalah angin bertiup yang melewati dan menyapu kening Markesot. Sedangkan kehadiran sosok tua itu ibarat bayangan yang sesekali melintas.

Sampai menjelang Subuh Markesot dicecer.

“Kamu pikir kamu ini Nabi, sehingga kamu panggul seluruh nasib ummat manusia di muka bumi?”, sosok bayangan itu menembak lagi.

Markesot tertawa dalam hati. “Pertanyaan itu senada dan seirama dengan pertanyaan batin Markesot kepada bayangan itu: ‘Sampeyan ini Rasulullah atau Rasul atau Malaikat atau Nabi Khidlir atau Malaikat lain entah siapa yang disuruh oleh Tuhan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang memenuhi hidup saya selama ini? Ataukah Iblis yang menyamar?’”

“Kamu pikir kamu ini penggembala yang diturunkan oleh Tuhan ke bumi yang diamanati tanggung jawab untuk menjaga keseimbangan nilai-nilai kehidupan domba-domba manusia?”

“Lha Sampeyan ini utusan Tuhan atau orang usil yang sengaja mengganggu-ganggu saya?”