Yogya, 27 Pebruari 2007, epilog buku ‘Email dari Tanah Suci’

Jurnalisme Isro`

Doa saya: Erwin naik haji lima kali dan minimal lima kali menaikkan haji orang lain.

Haji Dauriyah (jurnalisme) sudah, bukunya sudah Anda baca. Nanti Haji Fikriyah (intelektual, ilmiah), lantas Haji Ruhaniyah (spiritual, rohaniah), Haji Tsaqafiyah (kultural) dan Haji Kamaliyah (menyeluruh, ‘sempurna’).

Syariat haji tentu tetap utama, lima perspektif itu output sosialnya, sebab haji (juga shalat, puasa dll) itu input. Ibarat warung: shalat puasa haji itu dapur tempat memasak, output-nya adalah makanan suguhan untuk pelanggan, yakni aplikasi sosial melalui perilaku (keseharian, kultural, sosial, politik dan semuanya) para Hujjaj, para Haji, alumnus Makkah al-Mukarromah.

Doa saya Erwin menaikkan haji minimal lima orang. Tidak harus karyawannya, sanak famili atau tetangganya. Parameter yang terbaik adalah menaikkan haji orang yang memang secara aqidah dan akhlaq memenuhi syarat, dan secara ekonomi tidak punya kemungkinan rasional seumur hidup untuk mampu menerbangkan dirinya dari kampung ke Arab Saudi.

Haji bukan prestasi sosial, juga output berupa buku, sepanjang keduanya belum aplikatif dalam kehidupan sosial yang kongkret. Akan tetapi percayalah bahwa doa saya mungkin saja tidak memerlukan “qobul” dari Allah, karena saya mengerti ketangguhan hidup Erwin dan wilayah kesucian niat di kandungan qolbunya sebagai hamba Allah. Dengan kata lain, saya tidak sedang memberi saran apapun kepadanya, karena pada usianya sudah jelas dia sanggup melakukan apa yang pada usia sebegitu dulu saya jauh dari mampu melakukan apa-apa yang ia lakukan.

Bung Erwin, tatkala naik haji dan menulis buku ini, belum genap 30 tahun usianya. Ia tidak memerlukan pujian saya bahwa dalam usia semuda anak sulung saya ia telah mencapai multi-prestasi jauh melebihi apa yang bisa saya lakukan dalam kehidupan yang hanya satu kali di muka bumi ini. Alangkah dungunya kita generasi tua yang sukses utamanya adalah merusak bumi, menghancurkan negara, menyengsarakan rakyat, membangun sistem-sistem penumpah darah — dan berjalan tertatih-tatih menuju hari stroke tanpa iman dan tawakkal yang mencukupi, kemudian masuk neraka kesakitan sangat amat dan dilarang mati oleh Allah.

Sekitar 8 tahun sebelum Erwin lahir, saya sudah menjadi wartawan, dan sekarang — 37 tahun kemudian: saya hanya menjadi “tukang kentrung” mengamen keliling, yang tidak memiliki kehormatan modern, tidak penting ada tidaknya saya (wujudi ka’adami) bagi bangsa dan negara, tidak dicari dan dinantikan oleh siapapun, kemudian jika mati: berharap boleh dikuburkan diam-diam tanpa diketahui oleh siapapun kecuali anak istri dan keluarga terdekat, demi rasa malu hidup sekali tak berprestasi. Kata Chairil Anwar “Sekali Berarti, Sesudah itu Mati”. Bapakmu ini tak pernah berarti dan sudah mati sebelum benar-benar mati.

Di usia sangat muda tatkala anak-anak muda lain masih bertele-tele dalam kecengengan mengeluhkan kemiskinan dan tidak adanya pekerjaan, Erwin menjadi Grand Manager dari sebuah kampeni besar mandataris fungsi “Al-Khabir”nya Allah: menyalurkan pengetahuan, ilmu dan informasi, menyambung silaturahmi jutaan hamba-hamba Allah, membukakan lapangan kemashlahatan regional bagaikan hamparan “Al-Kautsar” yang digelar di bumi. Dan Erwin sangat tangguh menyangga mandatnya itu, sukses memerdekakan diri dari rasa bangga diri, tubuhnya tinggi tegak bagai huruf “Alif”, namun mentalnya merunduk bak huruf “Wawu”.

Itulah kunci hijrah, transformasi, penaklukan diri, pengelolaan moral mental spiritual dari peradaban “Nar” (nun alif ro`, lambang neraka: kemenangan api atas pemegangnya) menuju “Nur” (nun wawu ro`, simbol sorga: kemenangan pengelola api atas neraka). Jurnalisme adalah kendaraan hijrah masyarakat dari Nar menuju Nur. Dari tidak tahu menjadi tahu. Dari disinformasi menuju informasi. Dari kegelapan menuju cahaya. Dari tidak paham menjadi paham. Dari tak mengerti menjadi mengerti. Dari tertinggal menjadi mendahului. Dari dekaden menuju garda depan. Dari kehinaan menuju kemuliaan. Dari bebatuan menuju Tuhan.

Pada tahun 1427 H Erwin menunaikan apa yang saya mengistilahkannya dengan Haji Dauriyah, atau melalui perspektif lain – berdasarkan proses ia menuliskan buku ini – saya menyebutnya Jurnalisme Isro`.

Tentu saja diambil dari fenomenologi Isro` Mi’roj Nabi Kekasih Allah dan kita semua Muhammad SAW. Peristiwa sepertiga malam yang menakjubkan itu dipahami Ummat Islam selama berabad-abad berhenti sebagai semacam ‘dongeng’, dan belum cukup memadai penyadaran untuk melakihatnya sebagai peristiwa ilmu pengetahuan.

Email dari tanah suci: pasti kandungan utamanya adalah pintu ilmu. Email, salah satu aplikasi dari cyber technology. Di sela-sela perjalanan syariat hajinya Erwin ketak-ketik di PDA-nya dengan software HTC Windows 2005 di Dopod-900nya atau MDA-Pro T-Mobile-nya atau i-Mate atau Qtek; atau barangkali ia memakai laptopnya, mengaktifkan WIFI atau GPRS, beberapa detik menggiring informasinya ke pintu “isro”, kemudian “send” dan dalam satu dua detik menjadi “sent”, dan sebenarnya satu sekon sesudah itu sudah “received” di Banjarmasin, kemudian kalau detik itu berada pada menit terakhir deadline dan layout di dapur koran, maka setengah jam kemudian sudah bisa diterima oleh semua penduduk Banjarmasih dan dibaca sambil minum kopi, jongkok di WC atau tidur-tiduran.

Tidak mungkin memahami Isro` Mi’roj tanpa mempelajari fisika, berterima kasih kepada Einstein, Newton sampai Bill Gates dan Steve Jobs, syukur menghadiahi mereka al-fatihah setiap kali hendak memakai benda-benda ajaib hasil ijtihad nenek moyang yang dahsyat itu. Kalau Anda seorang Habib, Syekh, Maulana, Ustadz atau Ulama yang suci dan alim saleh dan mengkafirkan Einstein, maka jumlah al-fatihah yang dihadiahkan oleh para santri pensyukur kalah sangat jauh dibanding yang diterimakasihkan kepada para ilmuwan itu. Anda berjasa menyuruh Erwin sembahyang dan naik haji, tapi jasa Anda tak bisa dibandingkan dengan jasa Einstein dan anak cucu ijtihad keilmuannya yang telah mensilaturahmikan ummat manusia sedunia sedemikian dahsyat melalui teknologi internet, mobile phone, sound system di gedung-gedung, tata lampu, listrik, motor, pesawat dan segala macam yang sudah menjadi tali gantungan hidup semua manusia di muka bumi sehari-hari.

Kalau dengan teknologi transportasi udara bikinan “orang kafir” jumlah jamaah Haji dari seluruh dunia meningkat secara radikal dan kemudahan-kemudahan lain menjadi diperoleh: maka sebenarnya siapa yang menang kadar jariahnya — kita-kita yang berpeci bersurban ini dibanding “orang-orang kafir”?

Kelak akan terbit bukunya Erwin pulang naik haji tahap Fikriyah di mana ia memasang konsentrasi radar ilmiahnya, sesudah kadar tourisme jurnalistik pada buku yang kali ini Anda baca. Kemudian buku dengan kekhusyukan spiritual haji, buku dengan keluasan dan kecerdasan kultural. Dan puncaknya adalah buku “haji madu”: ibadah haji adalah tahap puncak dari proses penghayatan dan lelaku keberagamaan seseorang. Dari kesaksian Syahadat, air hujan Shalat, Khamr puasa, Susu zakat…orang tidak mungkin membangun rumah dengan mahkota cungkup atasnya terlebih dahulu. Orang tidak mungkin mendadak naik haji, meskipun sangat biasa terjadi pada kewajaran sejarah setiap orang. Tetapi bagi para pecinta, penghayat dan pensujud Allah, haji adalah puncak tangis bahagia, puncak ilmu, puncak segala pencapaian jasmani rohani.

Dengan takaran jurnalistik Erwin telah menceritakan setiap pandangan mata plus sedikit persepsi sekedarnya atas segala sesuatu selama ia menjalankan proses berhaji.

Kelak kalau ia bercerita tentang air zamzam ia akan menggalinya sampai ke penelitian fisika oleh para ilmuwan Jepang tentang kandungan molekuler air zamzam, berubahnya komposisi dan aransemen proton electron neutron hingga quark pada setiap molekul sesudah dihembus oleh hawa dari mulut manusia dan ditembuskan ke dalamnya gelombang energi elektro-magnetik oleh olah rohani “khalifatullah fil-ardl” sehingga ia bersifat zamzam: menyesuaikan diri dengan kehendak orang yang meminumnya, sebagaimana yang disabdakan oleh Allah kepada sel-sel air zamzam.

Air zamzam juga akan membawa Erwin ke kurun-kurun peradaban kekuasaan, politik dan modal. Mekkah yang tanpa rumput, tanpa sungai, tanpa kandungan tambang, tanpa kekayaan bumi apapun, kering kerontang: penduduknya hanya melihat zamzam sebagai satu-satunya akses ekonomi. Abu Jahal, Abu Sofyan sampai Muawiyah, menghalangi dakwah Islam Muhammad antara lain juga atas pertimbangan kapitalisme. Copyright sumur zamzam jangan sampai jatuh ke tangan marga-nya Muhammad. Meskipun memang Muhammad secara adat merupakan pewaris sah, karena sesudah Ibrahim AS, hak cipta sumur zamzam dipegang oleh Abdul Muthallib, kakeknya Muhammad bin Abdullah.

Begitu banyak dimensi sejarah, ilmu, pengetahuan dan hikmah yang bisa digali di Mekkah. Tinggal terserah orang yang naik haji: akan melaporkan Islamnya kepada Allah dengan sujud menangis ke sana, akan menunjukkan aplikasi akal fikirannya dengan kecerdasan penghayatan ke semua segi nilai selama naik haji, dan outputnya adalah kematangan kejuangan yang baru melayani dunia yang semakin rusak dan menantang. Ataukah naik haji untuk memperoleh ‘wisuda’ status sosial, atau cukup naik haji dengan niat menemui “Dukun Maha Agung” sehingga dagangannya di kampung menjadi laris.

Pendekatan jurnalistik, intelektual, kultural, spiritual, dan kaffah (multi-spiral-siklikal) akan menghasilkan berbagai macam ‘madu’ sepulang naik haji. Membatasi diri dengan pandangan jurnalistik saja pun sesungguhnya sudah lumayan bisa kasih oleh-oleh “madu” kepada khalayak di kampung halaman. Erwin secara naluriah mengkritisi segala sesuatu yang dijumpainya. Ia memilih referensi berdasarkan insting kritisismenya itu. Misalnya soal mencium Hajar Aswad, dengan mengutip statement Khalifah Umar bin Khattab.

Saya ‘fans berat’nya Hajar Aswad. Kepada jamaah calon haji yang akan berangkat, sering saya katakana: “Kalau Anda mencium hajar Aswad, apakah yang Anda cium adalah batu? Kalau Anda gemar mencium batu, anytime silahkan datang ke rumah saya, insyaallah bisa saya sediakan bongkahan batu kecil maupun besar masing-masing lima biji, silakan mencium, mengulumnya, mengunyahnya….”

Tentu yang dicium adalah Allah, hajar Aswad hanya salah satu pintu simboliknya, sebagaimana celana dalam istri kita masukin koper kalau pergi jauh dan lama, tapi jangan tuduh saya sebagai pecinta celana dalam. Dan kalau untuk mencium Allah Anda tempuh dengan menyikut orang di kiri kanan kita, dengan menyingkirkan orang di depan kita, dengan menyakiti siapa saja yang menghalangi jalan kita ke Hajar Aswad: percayalah Allah akan menolak ciuman kita sehingga, insyaallah Ia malah menghampiri orang-orang yang kita sikut, kita singkirkan, kita sakiti –dan kita benar-benar hanya mencium batu.

Saya sendiri punya jenis kejiwaan spesial berkaitan dengan Hajar Aswad. Salah satu kata-kata mutiara hidup saya, salah satu falsafah dasar hidup saya, adalah kesadaran bahwa “saya ini tidak bisa diandalkan”. Jangankan di Indonesia, sesama manusia dan bangsa. Apatah lagi di depan Tuhan. Berdoapun saya tidak merasa pantas. Saya selalu merasa terlalu hina untuk menghadap Tuhan. Ibarat perjaka, wajah saya terlalu buruk dan kondisi hidup saya terlalu tidak mememenuhi syarat untuk pantas melamar seorang perawan. Andalan saya jika bertamu kepada Tuhan adalah rasa hina, rasa malu, kebodohan, dosa bertumpuk, wan prestasi kehidupan…kalau masih ada yang tersisa, modal saya menghadap Allah hanya katresnan, rasa cinta….

Maka jika thawaf, saya memilih wilayah lingkar yang jauh dari Ka’bah. Pada suatu sore, ketika semua orang berebut menuju Hajar Aswad, saya merasa takut ketahuan oleh batu hitam itu bahwa saya ada di sekitar dia. Saya cenderung menghindar. Tetapi celaka tubuh saya tidak cukup kuat menahan gelombang ratusan ribuan di sekitar saya. Saya terseret terus ke arah yang saya tidak sanggup mengendalikannya. Saya sungguh-sungguh tidak berdaya. Saya memejamkan mata. Entah ke mana arus membawa saya, sampai akhirnya bagian kiri badan saya tersandar dan terbentur benda keras….

Spontan saya membuka mata, dan ternyata saya tertempel di Hajar Aswad. Seperti orang gila langsung saya ciumi dia tanpa rasa malu bertubi-tubi…. Pada tahun yang lain saya agak sedikit sombong dan memberani-beranikan diri agak melangkah cenderung mendekat ke Hajar Aswad. Saya terjebak pada sekelompok orang tinggi besar yang menang desakan, tapi itu menguntungkan saya sehingga bisa mengarah ke Hajar Aswad. Tetapi hanya sekitar dua meter sebelum mencapainya, Polisi Arab menertibkan dan mengusir kami ke sebuah arah dalam rangka menata ruang dan lalulintas manusia di situ. Saya pukuli diri saya sendiri, saya kutuk diri saya sendiri sebagai makhluk yang memang tidak punya kepantasan untuk berada di situ.

Mendadak, kejadiannya sedemikian cepat, seorang Polisi menggerakkan tangannya ke bahu saya dan berteriak “Tafadhdhal! Tafadhdhal!”. Silakan, silakan. Jalan terkuak, saya melompat ke Hajar Aswad dan dengan sangat rakus saya menciuminya. Teman thawaf saya yang melihat dari agak kejauhan kemudian bertanya: “Apakah Cak Nun kenal Polisi itu?”. Saya jawab: “Tidak. Tapi kayaknya dia kelahiran Jombang…”

Maafkan saya menceritakan privacy ini sedikit. Tujuannya sepenuhnya untuk mengiming-imingi Erwin agar kembali ke sana: diam-diam membawa teropong bintang ketika di Arafah, curi waktu untuk turun ke luangan bawah tempat jatuhnya batu-batu yang dilemparkan oleh para jamaah Haji, jangan shalat di Masjid yang sama selama di Mekkah dan Madinah kecuali Masjidil-Haram dan Masjid an-Nabawi, jangan tidak memejamkan mata membuka al-Qur`an setiap habis shalat di Masjid manapun, bersila yang lama dan memejamkan mata di Jabal Rahmah, jangan tidak pernah tidur biar semalam saja di entah sisi manapun dari Masjidil-Haram, sekali kesempatan membiarkan air zamzam di mulut tanpa ditelan sampai nanti mau muntah baru ditelan, cari makam Sayyidatina Khadijah, di Roudloh nyatakan cinta totalmu kepada Rasulullah SAW jangan kurang dari 63 kali, di Pasar Seng salami anak-anak dari kampung kita yang ikut jualan, di Madinah sambangi bekas perkampungan Yahudi untuk meneguhkan kembali jiwa at-Tsaqafah al-Madaniyah di dalam diri kita: Piagam Madinah, piagam tertulis yang pertama di muka bumi. Satu-satunya konstitusi yang tidak dibikin oleh kumpulan orang pandai, tetapi murni oleh rakyat, selama enam tahun….