Daur (96)

Jin di Sidang Kabinet

“Kamu Jin dimemonon lengeng, kamu setan sontoloyo”, Markesot memaki Saimon dengan wajah tertawa sendiri, “Kamu sok tahu, sok terpelajar, sok menyebut-nyebut Pancawara, Sadwara, Saptawara, Padewan, Padangon…tapi setahu-tahu kalian masih lebih tahu manusia yang paling tidak tahu, karena kalian bukan manusia”

“Tapi Tuhan menyaksikan dan para Malaikat mencatat dengan saksama”, jawab Saimon, “bahwa kaum saya lebih apresiatif atas dunia manusia, sementara ummat manusia bersikap negatif kepada saya, hampir selalu merendahkan, menghina, mengutuk. Kalau kami sesekali mencoba bertamu dalam rangka silaturahmi dan bebrayan sesama makhluk Tuhan, Kiai-Kiai manusia selalu datang dengan pikiran kejam, kemudian selalu mengusir kami dan mengutuk-ngutuk kami”

“Apakah saya pernah berlaku seperti itu kepada kalian?”, Markesot bertanya, “Saya selalu bersikap santun kepada Jin”

“Anak-anak buahmu yang sok hebat. Juga umumnya para orang pinter di antara kalian”

“Mereka bermaksud menolong sesama manusia”

“Menolong dari apa?”

“Dari gangguan kalian”

“Kami bertamu baik-baik, bermaksud silaturahmi sebagaimana anjuran Tuhan, tapi kalian manusia yang tidak siap bersilaturahmi, karena kalian bisanya melihat benda-benda, uang, materi, sehingga merasakan kehadiran kami sebagai gangguan. Padahal kami niat bergaul baik-baik sesama hamba Allah, asalkan tidak saling merugikan”

Rupanya Saimon serius memprotes manusia.

***

“Tapi kalian suka bikin manusia pingsan-pingsan, kesurupan, kangslupan, teriak-teriak seperti orang gila”

“Bukan kami yang bikin gila. Kalian manusia yang memang sudah gila. Menyembah materialisme. Tidak berlatih batin. Tidak punya pembiasaan software yang dari Allah. Kalian merasa sudah sangat meningkat tinggi dalam menjalankan Agama, padahal praktiknya kalian sangat menyembah berhala”

“Manusia tidak mau menyia-nyiakan waktu untuk berhubungan dengan hal-hal yang tidak bisa disentuh oleh panca indera mereka”

“Panca indera?”, Saimon tertawa terpingkal-pingkal, “benar-benar kalian ini penyembah berhala, terlalu kagum kepada yang kasat mata, padahal materialisme sudah berabad-abad yang lalu kami tinggalkan”

“Tapi kan kalian tetap makmum manusia”

“Tidak ada masalah. Muhammad adalah Nabi kami juga. Semua Nabi dan Rasul manusia juga junjungan kami semua. Kami tidak mengunggul-unggulkan harga diri Kaum Jin. Kami sumeleh. Kali ikhlas. Kami rela bermakmum di belakang Rasulullah, karena Allah memang menskenario demikian. Kami tidak melawan kehendak Tuhan, meskipun banyak juga di antara kami yang durhaka kepada Tuhan dan meremehkan para Nabi dan Rasul manusia”

“Tapi jangan lupa sebenarnya banyak juga di antara kalian yang memasuki jiwa manusia dengan maksud untuk mengganggu, unjuk kekuatan, atau mempermainkan”

“Pasti ada yang demikian”, jawab Saimon, “Tapi jumlah Jin kacau seperti itu sangat sedikit, tidak seperti jumlah manusia durhaka yang sangat banyak dan semakin banyak”

***

Markesot menarik tangan Saimon, membawanya duduk di sampingnya di bawah pohon.

“Jin yang baik tidak memamerkan dan menjelentreh-jelentrehkan kebaikannya”, kata Markesot perlahan.

“Ini bukan pameran kebaikan”, jawab Saimon.

“Kebaikan yang dipamerkan”

“Ini diskusi ilmiah”

“Gayamu. Jin kok omong ilmiah-ilmiah”

“Memang daya intelektual Jin dibikin Tuhan kalah dibanding kecendekiawanan manusia. Tetapi justru karena keterbatasan kadar kecerdasan itu yang membuat kaum saya bekerja lebih keras. Sebaliknya manusia, justru karena merasa unggul intelektual, maka mereka cenderung menjadi malas. Akhirnya, maaf-maaf, kalau pencapaiannya kalah dibanding rekannya para Jin”

“Jadi kamu mau diskusi ilmiah sama saya?”

“Bukan di situ empasisnya. Yang pasti kita memerlukan pembabaran data dan fakta apa adanya”

“Data apa dan fakta apa?”

“Sekarang coba bayangkan kalau mayoritas Jin itu nakal dan usil seperti yang sesekali ngangslupi jiwa manusia. Kalau cukup banyak teman-temanku yang seperti itu, kenapa tanggung-tanggung?”

“Maksudmu?”

“Kenapa kami tidak memasuki jiwa Presiden manusia ketika memimpin Sidang Kabinet? Kenapa kami tidak merasuki jiwa Menteri-Menteri dan sebanyak mungkin Pejabat Negara kalian, kemudian kami bikin mulut mereka meneriakkan sendiri jumlah korupsi mereka, niat-niat jahat mereka, sindikasi dan konspirasi mereka? Kenapa tidak kami perbudak jiwa-jiwa para Taipan, para aktivis, para tokoh politik, untuk mempercepat kekacauan kehidupan Negara kalian?”

***

Markesot tersenyum. “Sebenarnya kan kamu tahu bahwa saya pinginnya seperti itu. Maka saya mengambil jarak dari kehidupan manusia sampai ke tepian hutan ini”

Saimon menjawab. “Tapi kami mempertahankan toleransi dan otonomi. Kami tidak mau sejauh itu mencampuri urusan manusia. Bagaimanapun Tuhan menanamkan cinta di dalam jiwa kaum Jin, termasuk kasih sayang kepada ummat manusia. Kami tidak tega”

“Kamu tahu saya menyepi ke sini justru untuk menghitung-hitung kemungkinan membuka peluang seperti itu. Itulah sebabnya kamu datang menemui saya di sini, kan?”, kata Markesot.

“Nggak sih”, jawab Simon, “saya ke sini iseng-iseng saja”

“Bangsat kamu. Saya sangat sedih dan tertekan, kamu iseng”

“Apa yang menekan kamu dan membuatmu sedih”

“Ah, pakai tanya lagi”

“Saya sering mengikuti pembicaraanmu di Patangpuluhan. Kamu sangat sering mengajarkan kepada teman-temanmu bahwa jiwa dan iman manusia lebih besar dan lebih kuat dibanding segala tekanan dan penderitaan”

“Itu kan strategi psikologis di antara sesama manusia untuk saling menguatkan satu sama lain”

“Kamu bilang keadaan dunia tidak boleh menekan jiwa kalian, keadaan Negara tidak boleh menjajah hati kalian….”

Markesot memotong, “Kalian kaum Jin jangan terlalu jauh memasuki wilayah diskusi dengan manusia, karena perspektif dan komprehensi pemahaman kalian tidak mungkin menyamai manusia, karena bagaimanapun kalian tetap bukan manusia”

Saimon juga memotong, “Mindset seperti itu yang membuat diskusi kehidupan manusia jadi selalu mandul…”.