Catatan Boyolali Ngangsu Tepa Selira, Alun-Alun Boyolali 26 November 2016

Jenis dan Konteks Tepa Selira

Tepa selira adalah cara antar hati supaya tidak terjadi keguncangan atau ketidakseimbangan.
Foto: Adin.
Foto: Adin.

Sesungguhnya hidup sangat sederhana asalkan kita setia pada kewajaran dan nilai-nilai hakiki kehidupan bersama. Tepa Selira atau tenggang rasa adalah salah satunya. Dalam semangat yang sama, Cak Nun membangun alur kebersamaan malam ini. Sesudah mengemukakan sejumlah prinsip di bagian awal, Cak Nun mengalirkan jalannya acara ini dengan meminta Pak Wakil Bupati Muhammad Said memperkenalkan setiap Bapak-Bapak yang ada di panggung. Naik panggung ngaji bareng ini, Cak Nun ditemani Wakil Bupati, Pemuka Agama Islam, Kristen, dan Katolik, Kapolres, dan beberapa yang lain. Malam ini Pak Kapolres mengajak 200 polisi termasuk polwan untuk duduk bersama sebagai jamaah untuk mengikuti Ngaji Bareng ini.

Beliau-beliau yang hadir ini menyiratkan kesadaran akan tepa selira itu sendiri. Setiap kali bapak-bapak itu memperkenalkan diri dan mengungkapkan pandangan, dari situlah Cak Nun merespons, mengemukakan ilmu dan analisis, termasuk lagu-lagu dihadirkan melalui pintu ini. Suasana keakraban, kerukunan, dan keseimbangan tepa selira hadir tidak saja secara pikiran tetapi rasa dan kenyataan.

Salah satu keindahan kebersamaan itu hadir melalui kolaborasi antara vokalis KiaiKanjeng dengan Polwan Boyolali. Mereka menyanyikan lagu Sebelum Cahaya-nya Letto, membawakan lagu Padhang Bulan, dan ikut menambah rasa kebersamaan itu pada nomor One More Night bersama Mas Doni dan Mas Jijid. Keindahan itu sedikit berbeda dari biasanya pada nomor Maroon 5 ini, eksplorasi dialog dan permainan Cublak Cublak Suweng lebih kaya dan padat pesan kerukunan dan tepa selira melalui improvisasi Mas Jijid.

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Hal tepa selira ini sebenarnya sudah menjadi pemahaman masyarakat, dan tak sulit bagi Cak Nun untuk mendapatkan poin-poinnya, sebab masyarakat bisa menyumbangkannya. Dari mereka didapat lima jenis tepa selira: tepa selira antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam, manusia dengan Tuhan, pemerintah dengan rakyatnya, dan polisi dengan pengendara atau pengguna jalan raya. Semuanya disertai contoh yang konkret. Cak Nun sendiri melengkapinya dengan mengatakan ada hubungan yang diatur oleh norma dan ada yang diatur dengan roso tepa selira. Tepa selira adalah cara antar hati supaya tidak terjadi keguncangan atau ketidakseimbangan.

Cak Nun sempat mencontohkan, masuknya banyak tenaga kerja asing di tengah warga negara sendiri banyak yang butuh kerja adalah salah satu contoh kondisi tidak tepa selira. Tepa selira juga berlangsung antar pemeluk umat beragama, misalnya antara umat Islam dengan umat Kristiani. Di dalamnya ada soal mayoritas-minoritas. Cak Nun memberikan banyak contoh dan pengalaman yang dialaminya bersama KiaiKanjeng dalam membangun tepa selira ini. Salah satu pesan yang disampaikan, “Jangan ada perasaan bahwa umat Islam akan membikin negara Islam, dan karena itu juga jangan ada meng-Katolikkan Keraton Jogja atau Papua misalnya. Yang terjadi sesungguhnya adalah elit-elit di Jakarta dengan segala kepentingannya yang bermacam-macam…,” urai Cak Nun yang kemudian menggambarkan bagaimana ketidakadilan yang dialami umat Islam termasuk oleh media massa.

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Poin-poin tentang tepa selira ini rasanya cukup padat malam ini. Sesungguhnya nilai ini bukan hanya dibutuhkan oleh warga Boyolali, melainkan seluruh bangsa Indonesia, atau bahkan umat manusia semuanya sebab demikianlah hakikat hidup bersama dan bersandingan satu sama lain. Memuncaki Ngaji Bareng ini, Cak Nun meminta pemuka agama Islam, Kristen, dan Katolik untuk menyampaikan kalimat-kalimat penegasan yang dipungkasi oleh Cak Nun dengan melantunkan surat Al-Insyiroh dan An-Nashr. Semuanya mendoakan untuk Boyolali yang lebih baik, penuh kekompakan, dan kerukunan. Lagu Kemesraan kemudian dilantunkan untuk menggambarkan iktikad baik semua pihak untuk bergandeng tangan membangun kasih sayang bersama. (hm/adn)