Daur (113)

Jenderal Gajah Putih

“Saya lihat-lihat kamu juga mulai mengalami degradasi kesadaran nilai dan degradasi terhadap disiplin irama waktu”, kata Saimon,  “kemungkinan besar karena kamu terlalu cinta kepada manusia. Kamu tertular penyakit mereka: kelalaian dan kesembronoan”

“Terbalik”, jawab Markesot langsung, “kamu yang lalai dan sembrono”

“Saya tidak ada urusan apa-apa dengan yang kamu kerjakan”

“Tadi kamu kan bertanya ‘Kenapa kamu repot-repot menemui Dukun itu, kenapa tidak langsung saja kamu kerjain si Raja’. Itu pertanyaan bodoh yang lahir dari kelalaian dan kesembronoan”

“Karena hati saya tidak tahan melihat yang kamu lakukan….”

“Kenapa tidak sekalian kamu tuntaskan saja pertanyaanmu: Sot, mbok sudah kamu saja yang jadi Raja, daripada muter-muter memproses tahap-tahap perubahan suatu Bangsa yang toh hanya basa-basi. Sekalian kamu bilang ke Raden Sahid: Kanjeng Sunan Kalijaga, kenapa ruwet-ruwet hampir seratus tahun mengatur-atur transformasi kekuasaan, kenapa tidak langsung saja Panjenengan yang memimpin, terserah pakai kostum Raja atau Sultan? Bukankah Panjenengan tidak bisa dikalahkan di bidang apa saja? Di wilayah semua keilmuan dan keterampilan, kematangan pengelolaan sosial budaya, dukdeng kasekten, teknologi hingga tasawuf, cangkul hingga pedang dan keris, pementasan gelar panggung hingga subversi safat-saraf otak dan kelembutan hati, antiwacana, sihir, katuranggan, dan semuanya. Kenapa tidak menjadi Raja saja, kok melingkar-lingkar melalui peran King Maker?”

Saimon meneruskan kalimat Markesot, “Sot, kenapa tidak sekalian saja kamu bilang ke Baginda Nabi Muhammad Kinasih Allah. Mbok langsung saja pegang dan kendalikan kekuasaan resmi. Entah dengan formula Khilafah atau Imamah atau Ro’iyah atau terserah monggo. Supaya ada contoh langsung yang bersifat padat dan bisa dipahami dengan panca-indera. Supaya para penerus tidak usah bertengkar di Tsaqifah. Memperdesakkan kebenaran melawan kebenaran. Kemudian melantik penerus paling senior dan yang paling dekat ke Panjenengan, membaiatnya, men-jumeneng-kannya. Kemudian tersimpan dendam. Kemudian bara menjadi api. Kemudian berbenturan. Kemudian perang dahsyat. Kemudian ummat Panjenengan terbelah. Kemudian sekam dipelihara berabad-abad hingga sekarang….”

Markesot bersabar dengan sindiran Saimon. Kemudian ia menegakkan punggung.

“Kenapa tidak lebih ke belakang lagi”, katanya, “usul kepada Tuhan agar mempertimbangkan kembali bantahan Buyut Iblis: ‘untuk apa menciptakan manusia, yang toh pekerjaannya adalah merusak bumi dan berbunuh-bunuhan satu sama lain’?”

Saimon malah juga meneruskan. “Kenapa tidak sekalian bikin resume dari riset empiris, yang merekomendasikan agar Buyut Iblis tidak usah diberi tenggang waktu hingga kiamat, karena toh saat ini sudah sangat terbukti bahwa peradaban manusia memang sangat-sangat merusak bumi dan sibuk bunuh diri secara fisik maupun nilai. Sejak Masa Penggelapan yang disebut Masa Pencerahan dua abad yang lalu, semua rakyat manusia di Bumi digiring masuk kandang-kandang peternakan yang disebut Sekolah. Dan hasilnya adalah sarjana-sarjana yang meningkatkan secara sangat pesat segala jenis perusakan dan kerusakan di seantero permukaan Bumi, bahkan di perutnya serta di angkasa….”

Markesot tidak langsung menanggapi. Ia menarik napas panjang. Beberapa saat kemudian baru berkata pelan: “Kedatangan kamu ini, Mon, membuat keadaan menjadi terang benderang…”

“Tumben kamu memuji”, sahut Saimon.

“Terang benderang bahwa kamu bukannya sedang menolong menenangkan saya, melainkan sebaliknya: memperluas keruwetan….”

“Lho, kamu sendiri yang memang tidak efektif”, kata Saimon, “kamu bertele-tele. Pakai acting kepada Dukun segala. Itu pun salah pilih. Tidak update pengamatanmu terhadap Raja manusia di Lingkar Perdelapan Khatulistiwa itu….”

“Tolong jangan melebar-lebarkan keruwetan wilayah pembicaraan”, Markesot memotong, “kamu buka lahan keruwetan baru, dengan menyebut Lingkar Perdelapan Khatulistiwa…. Apa itu”

“Itu bahasamu sendiri”, kata Saimon.

“Saya tahu kamu sedang menanam tambahan konflik gagasan dengan saya tentang ironi penguasaan Satelit, Raja Dunia Maya yang diperbudak oleh tetangga yang sebenarnya bisa mati cukup dengan dikencingi, timbunan Piring-piring Terbang warisan Baginda Sulaiman, beserta Masyarakat Semut beliau yang punah ilmunya karena beranak Sapi….”

“Kamu yang melebar-lebar”, Saimon ganti memotong, “kamu mencoba menutup-nutupi kisah kekonyolanmu dengan si Dukun”

“Itu bukan kekonyolan. Saya hanya kecolongan oleh tokoh jaringan Daulat Rakyat yang sok progresif mau mengubah Negara”

“Kamu juga. Bahkan berputar-putar. Mestinya jangan Dukun yang itu yang kamu garap. Memang dia paling dekat dengan Raja, tetapi sebenarnya yang sedang mengisi hati Raja saat itu adalah Jenderal yang mempersembahkan Dukun Gajah Putih dari ujung pulau barat-utara. Kalau itu yang kamu datangi, kamu bisa sekaligus mengolah si Jenderal yang berkuasa atas seluruh prajurit dan tentara darat, laut maupun udara”

“Saya tidak pernah melangkah dengan pertimbangan pragmatis”, jawab Markesot, “Saya selalu menghitung segala sesuatu secara mendasar dan dalam perhitungan waktu yang panjang”

“Itu yang membuat kamu tidak pernah bisa tembak langsung. Apalagi Dukun yang kamu pilih untuk kamu datangi itu sebenarnya masih agak pemula, meskipun ia pandai mendekat dan menyentuh hati Raja kalian….”

“Raja kalian Raja kalian”, potong Markesot, “Kalian siapa. Itu Raja mereka. Dan saya hanya menemani mereka”

“Tapi sudah sangat lama kamu menjadi bagian dari mereka”

“Tapi saya bukan mereka”

“Cukup soal itu. Tidak perlu bicara tentang siapa”

Saimon tertawa.

“Kamu tahu hanya ada Satu Siapa”, Markesot melanjutkan, “Satu yang sebenar-benarnya Siapa. Semua yang lain hanya cipratan-cipratan dari Satu Siapa, yang memang diberi waktu sejenak untuk merasa siapa-siapa, meskipun kebanyakan mereka lantas terjebak untuk meyakini bahwa mereka benar-benar siapa…”

Saimon memotong. “Katanya tak perlu bicara tentang siapa, malah kamu jelentreh-jelentrehkan siapa siapa siapa”

Markesot menjawab, “Karena saya tidak krasan kalau sampai pada titik koordinat di mana saya sebenarnya adalah juga kamu. Dan sebaliknya. Mana mau saya mengingat bahwa kamu sebenarnya adalah juga saya”

Saimon tidak mau kalah. “Kamu pikir saya bangga ketika ingat bahwa saya adalah kamu dan kamu adalah saya, meskipun kalau diteruskan siapapun saja adalah hanya Satu Siapa. Berapapun jumlah siapa, tetaplah hanya Satu Siapa yang sejatinya ada”

Markesot tertawa. Pelan, tapi agak panjang.

“Memang tidak enak ya bertugas menjadi siapa, padahal sebenarnya bukan siapa-siapa”, katanya lirih, “Puncak tidak enaknya adalah terlalu banyak siapa, padahal sebenarnya yang benar-benar ada hanya Satu Siapa”

“Terkadang bisa kita nikmati, terkadang tidak”, Saimon menyahut, “Tuhan bilang ini permainan dan senda gurau, tapi kita selalu cemas….”