Wedang Uwuh (3)

Jejak Mbah Kayam dan Mbah Bakdi

Kedaulatan Rakyat, 1 November 2016

Waji’an tenan. Saya repot-repot angkat mereka jadi anak saya, malah nranyak mengejek dan meremehkan kemampuan Bapaknya. Kalau saya orang Solo, saya semprot “Bajinguk kowe Le”. Kalau saya pakai bahasa asal usul kampung halaman saya di Jawa Timur, saya slentik mereka dengan “Jangkrik Meduro, koen”.

Tapi karena sudah 48 tahun saya menjadi orang Yogya, maka spontan saya ucapkan “Waji’an kowe”. Mereka pasti tahu kata-kata orisinalnya. Dan kalau mereka suka ambil sangka buruk atau negative thinking, mereka sebenarnya lebih merasa kesakitan oleh kata-kata yang disamarkan. Lebih baik diomongin apa adanya dan sama antara isi hati dan mulutnya, daripada isi hati dihalus-haluskan di mulut.

Tetapi anak-anak angkat saya itu terbiasa untuk mengambil baiknya dari apapun yang mungkin buruk. Itu lebih selamat dibanding mengambil yang mungkin buruk dari suatu kebaikan. Aslinya saya ucapkan kata-kata aslinya kepada Pèncèng, tetapi di tulisan ini, karena dibaca banyak orang, wajib saya haluskan. Sebab mungkin banyak di antara pembaca yang tidak terbiasa dengan budaya kemesraan model keluarga kami.

“Kamu yakin saya tidak bisa memenuhi dawuh untuk meneruskan Mbah Kayam dan Mbah Bakdi?”, saya negeske kepada Pèncèng. Yang tentu berlaku untuk Beruk dan Gendon juga.

“Ndak mungkin bisa, Mbah”, jawab Pèncèng.

“Mbah Kayam adalah Mbah Kayam, Mbah Bakdi adalah Mbah Bakdi, dan Simbah adalah Simbah”, Gendon mendukung saudaranya.

Sebenarnya lucu juga anak-anak kok memanggil ‘Simbah’ kepada Bapaknya. Tetapi memang alamiahnya begitu. Secara usia mereka cocoknya memang menjadi cucu saya. Dulu saya angkat mereka jadi anak ini tidak seperti anak yatim yang ditampung. Semua alamiah saja. Dorongannya mungkin kecocokan gelombang, ketersambungan nilai, atau semacam formula kejodohan hidup yang entah bagaimana menjelaskannya.

“Kamu juga sependapat dengan Pèncèng dan Gendon, Ruk?”, saya konfirmasi ke Beruk.

“Lha bagaimana lagi, Mbah, memang demikian adanya”, Beruk menjawab dengan nada yang sangat menusuk hati. Waji’an.

Akhirnya saya sendiri melakukan konfirmasi: “Benar sekali kalian. Jujur, obyektif, jernih. Simbah memang mustahil melakukan apa yang dilakukan oleh Mbah Kayam maupun Mbah Bakdi. Karena Simbah memang bukan Mbah Kayam maupun Mbah Bakdi. Simbah hanya mampu menelusuri jejak beliau berdua, tetapi mustahil bisa membuat jejak seperti beliau berdua. Latar belakang hidup dan pengalaman kami tidak sama. Pergesekan sosial yang kami alami, luas sempitnya pergaulan, jam terbang perjuangan, jenis-jenis pergolakan yang kami alami, bidang-bidang yang kami geluti, benar-benar tidak sama. Apalagi beliau berdua adalah scholars yang sukses sampai ke puncak secara akademis dan intelektual. Sementara Simbah kalian ini orang kampung yang belajar hanya kepada kehidupan. Pengelana yang berguru kepada kesepian dan keterpinggiran…”

“Lebai, Mbah!”, Pèncèng berteriak memotong.

“Cengeng, melankolis dan remaja anak Mami banget”, Beruk nambahi.

“Ayo lengkapi, kamu, nDon”, saya menoleh ke Gendon.

Gendon tertawa. “Itu model ungkapan anak-anak yang pacaran dan belum pernah nikah dan berumahtangga. Atau gaya seniman yang kesepian, atau sastrawan yang gagal bersosialisasi, atau aktivis yang belum pernah jadi pejabat…”

Thothok kerot. Druhun kabeh”, saya merespon, “untung ini di Merapi. Bukan di Luweng Ombo Parangtritis…”.