Catatan Sinau Bareng Masjid Wisanggeni, Sukoharjo 15 Oktober 2016

Jawaban Kepada Kekisruhan Dunia

Dunia sedang dikuasai sekelompok orang yang mengendalikan keluar-masuknya uang global. Kebencian yang berlangsung di Indonesia disebabkan oleh adu domba.

Dunia sedang dikuasai oleh sekelompok orang yang mengendalikan keluar-masuknya uang dunia atau global. Kebencian-kebencian yang berlangsung dan bertarung di Indonesia disebabkan oleh adu domba. Pemerintah pusat bukanlah pemerintah pusat melainkan alat untuk memecah-belah.

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Demikian Cak Nun mengingatkan jamaah dan meminta agar masyarakat Sukoharjo tidak ikut menyulut apa-apa. Cak Nun membabarkan, Masjid Wisanggeni ini diberi nama Wisanggeni karena tokoh ini ternyata karakternya adalah apabila bergerak bisa membikin huru-hara dan ngrantasi, tetapi ditugaskan untuk tidak melakukan itu, melainkan malah diharuskan menebarkan kasih sayang kepada masyarakat.

Berkumpulnya orang sebanyak ini, dan ini adalah fenomena keunggulan manusia Indonesia yang tak bisa ditemukan di negara-negara lain, dalam tujuan yang baik, berdzikir, bershalawat, bersaudara, dan menimba ilmu bagi Cak Nun adalah jawaban kepada kekisruhan dunia. Yakni kerukunan dan kekompakan di tingkat masyarakat kabupaten, kekompakan di bawah. Kekompakan yang kita yakini bukan tidak mungkin menyebabkan Allah tidak mengadzab bangsa Indonesia.

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Di Masjid Wisanggeni ini ternyata Wisanggeni identik dengan asma atau sifat Allah yaitu wasi’un ghoniyyun. Artinya luas dan jembar lagi kaya. Di atas Masjid itu tertulis dua sifat Allah tersebut dalam huruf Arab. Sekilas bisa dikira sebagai tulisan pegon yang menuliskan Wisanggeni dalam aksara Arab, tetapi ternyata bukan. Melainkan perhubungan kesadaran kepada Allah Swt. Sangat pas dengan penjelasan Cak Nun tentang Wisanggeni yang harus menebarkan kasih sayang dengan hati yang luas, dengan jiwa yang kaya akan nilai-nilai kebersamaan. Suatu semangat yang makin langka pada saat orang-orang tergiring berlari ke dalam kesempitan-kesempitan kebencian yang timbul akibat adu domba politik maupun kemalasan berpikir jernih dan komprehensif. (hm/adn)