Catatan Ngaji Bareng Masjid Walisongo, Gresik 20 Oktober 2016

Jarak Antara Diri yang Sendiri dengan Allah

Garis yang ditarik adalah bahwa kita sendiri saat lahir dan nanti sendirian pula saat meninggal dunia. Tanggung jawab kepada Allah pun ijen atau sendiri

Para jamaah dibawa bersama untuk melantunkan Kalimah Thayyibah setelah sebelumnya diterangkan makna Kalimatan Thayyibatan berdasarkan penggambaran dari Al-Quran oleh Cak Nun. Bersamaan dengan nomor Kalimah Thayyibah oleh KiaiKanjeng, Cak Nun mendoakan semua yang hadir mendapatkan enteng dalam hidup, mendapatkan rezeki yang barokah, dan memperoleh pertolongan Allah dengan pertolongan yang agung.

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Dari lantunan ini, Cak Nun secara tartil pelan-pelan menggiring dan memancing Jamaah untuk memasuki kesadaran murni tauhid. Meminjam metode jurnalisme lima W satu H, dua buah pertanyaan dikedepankan untuk direnungi. Ada siapa saja di depa kita dan ada apa saja di depan kita. Di depan kita, selain Tuhan, ada Malaikat, Iblis, Jin, dan lain-lain. Sedangkan apa yang ada didepan kita adalah tumhuh-tumbuhan, hewan, dan benda-benda. Ini selanjutnya disambung dengan membedah kesadaran bahwa kita lahir sendirian, dan nanti mati juga sendirian.

Garis yang ditarik adalah bahwa kita sendiri saat lahir dan nanti sendirian pula saat meninggal dunia. Tanggung jawab kepada Allah pun ijen atau sendiri. Satu-satunya yang kita bisa minta tolong adalah kepada Kanjeng Nabi dengan hak syafaatnya kepada kita. “Jadi, selama hidup itu, sebenarnya kita sedang latihan tanggung jawab ijen.”

Namun demikian, aslinya kita yang ijen ini perlu melihat dan menyadari ada apa saja antara kita dengan Allah. Ternyata ada macam-macam. Ada ulama, ada kiai, ada negara, ada Bupati, ada Mall, dan ada bermacam-macam lagi. Jalan kita yang ijen menuju Allah itu bisa dihalangi oleh bermacam-macam hal itu, tetapi menurut Cak Nun tetaplah kita terus berjuang.

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Mulai sekarang, jamaah diajak untuk mencari jalan secara langsung. Tetapi caranya berbeda dengan formulasi para ilmuwan fikih atau teologi. Melainkan dengan menerapkan matrik 5 hukum Islam untuk menyaring mana-mana yang perlu kita prioritaskan di urutan pertama dalam hidup kita untuk dilakukan dan menjadi pertimbangan dalam setiap keputusan yang diambil. Ada hal-hal yang bisa ditinggalkan di belakang. Kita harus mencari cara bagaimana selalu sadar bahwa Allah adalah di atas segalanya. Memastikan skala prioritas. Itulah jalan menuju Allah bagi diri yang lahir ijen dan akan menghadap Allah dengan ijen pula. (hm/adn)