Catatan Ngaji Bareng HUT TNI ke-71 dan Sumpah Pemuda, Blora 28 Oktober 2016

Jangan Tuduh Orang Indonesia Rasis

Cak Nun tetap tak bosan menerangkan jangan menuduh umat Islam atau orang Indonesia sebagai anti Cina atau anti Kristen.

Sebelum melangkah ke KiaiKanjeng, pada bagian awal poin-poin sikap dan pemahaman disampaikan Cak Nun. Mulai dari apresiasi kepada prajurit TNI khususnya yang tadi membawakan shalawat-shalawat dengan mengenakan seragamnya, kualitas dan prestasi manusia TNI dalam keterbatasan fasilitas di antaranya jago tembak tepat sedunia, tentang evolusi masyarakat abangan menuju santri yang sebenarnya bukan set up nasional, kebebasan yang diberikan medsos pada saat manusia tidak siap bersikap tanggung jawab, mengenai sejatinya tujuan dan agenda Maiyah, anak-anak muda pewaris kekuatan Allah, famili kata hikmah, ciri utama TNI dan rakyat Indonesia yakni nasionalismenya yang tak tertandingi oleh rakyat negara manapun, hingga siklus perubahan dan momentum 20 tahunan dalam perjalanan sejarah Indonesia.

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Cak Nun berharap para jamaah pulang dari sini mendapatkan dua poin dari HUT TNI, dua poin dari Hari Sumpah Pemuda, dan dua poin dari Hari Santri. Dan dengan proyeksi atas yang berlangsung hari-hari ini, Cak Nun tetap tak bosan menerangkan jangan menuduh umat Islam atau orang Indonesia sebagai anti Cina atau anti Kristen. Ada beda, tetapi bukan anti. Yang tak disetujui Cak Nun adalah perilaku siapapun yang merampok, yang menikam dari belakang, atau menipu. Sebab, bangsa Indonesia sedari dulu bersifat terbuka, menerima, dan akomodatif.

Pada pengalaman Cak Nun dan KiaiKanjeng, sejak lama dekat dengan orang non muslim dan orang-orang Cina. Salah satunya, pada tahun 2008, Cak Nun dan KiaiKanjeng pernah mendapat undangan tur delapan kota di Belanda atas prakarsa Persatuan Gereja Belanda, dan membuat lagu untuk sapaan persaudaraan dengan mereka.

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Dengan penuh cinta dan kekaguman, usai sejumlah sikap dikemukakan, kini Cak Nun meminta Bapak-bapak TNI Hadroh Yonif 410 tadi untuk naik ke panggung lagi, untuk bersama jamaah dan KiaiKanjeng bareng-bareng bershalawat. Nomor Padhang Mbulan mereka pilih. Dengan kenyataan TNI yang berhadroh ini, Cak Nun menegaskan sejumlah persamaan etos antara santri dan prajurit. Kolaborasi dengan KiaiKanjeng ini sangat indah. Jamaah sangat apresiatif, dan ikut melantunkan. Pak Kiai Mucharror berbisik kepada Cak Nun mengungkapkan keheranan tak menduga terciptanya kolaborasi ini dan sangat senang melihat dan merasakan pengalaman langka ini. (hm/adn)