Sinau Bareng Ikatan Apoteker Indonesia, 28 September 2016

Jangan Tidak Ingat Tuhan Saat Bikin Obat

Pesan Cak Nun, para apoteker jangan tidak ingat Allah tatkala membuat atau mengkomposisi obat, karena Allahlah yang akan menyembuhkan.

Sebelum malam nanti membuka Pameran Kaligrafi Nusantara di Langit Galery Art

di Sonosewu Yogyakarta bersama KiaiKanjeng, siang ini Cak Nun memenuhi undangan Ikatan Apoteker se-Indonesia dalam Rapat Kerja Nasionalnya di Convention Hall Hotel The Alana Yogyakarta yang diikuti sekitar 1500 apoteker dari seluruh Indonesia . Beliau diminta pandangannya mengenai hal-hal yang berhubungan dengan profesi apoteker di antaranya terkait obat palsu, yang tidak memenuhi standar pemerintah, dan bagaimana melindungi masyarakat dari itu semua.

Foto: Alay
Foto: Alay

Sebagaimana biasa, Cak Nun sangat serius menyiapkan pandangan, pemikiran, dan komprehensi pada persoalan yang dimohonkan kepadanya, dalam hal ini obat, kesehatan, apoteker, dan negara. Ada sekitar tujuh poin telah Beliau tuliskan di kertas kerjanya. Pak Nurul F. Eddy Pariang, ketua IAI (Ikatan Apoteker Indonesia), yang mendampingi Cak Nun sangat senang dan bangga dengan kesediaan Cak Nun. “Kita kedatangan orang agung, orang yang saya banggakan…,”antar Pak Eddy membuka sesi Sesi Sinau Bareng ini, yang rasanya aneh atau “virus” baru dalam Rakernas ini bahwa sesi ini bernama Sinau Bareng, sementara sesi lainnya bernama rapat pleno dan sejenisnya.

Cak Nun menceritakan bahwa dirinya adalah orang yang selalu mencari rumus kesehatan sendiri, karena hidup dan kegiatan-kegiatan sehari-hari yang berbeda dengan umumnya orang. Para apoteker diajak menemukan lingkaran-lingkaran logika yang mungkin luput dari perhatian mereka. Hubungan antara obat dan konsumen sebenarnya adalah hubungan iman, karena peminum obat sejatinya tak benar-benar tahu obat itu. Yang ia punya adalah percaya. Dokter mengobati, pasien minum obat, dan Tuhan yang menyembuhkan. Karenanya, pesan Cak Nun, para apoteker jangan tidak ingat Allah tatkala membuat atau mengkomposisi obat, karena Allahlah yang akan menyembuhkan. Berkah tidaknya apoteker dan obat ditentukan oleh niatnya sejak awal membikin obat. Itulah salah satu poin awal yang disampaikan Cak Nun sebelum ternyata membetot pemikiran para apoteker ke soal obat palsu dan kepalsuan-kepalsuan lain di bidang-bidang lebih luas dengan kepalsuan yang tak kalah mengerikannya, terutama kepalsuan politik. (hm/wan)