Catatan Tadabburan Nasionalisme di Pusaran Badai, Rembang 23 Oktober 2016

Jamaah Maiyah AKAP

Mereka antar kota antar provinsi, AKAP. Diantara mereka ada yang menempuh dengan mengendarai motor. Ada yang kemarin hadir di Gresik, malam ini datang lagi.

Empat hari berturut-turut Tadabburan seperti malam ini bukanlah Maiyahan rutin seperti Padhangmbulan atau Mocopat Syafaat yang rutin diikuti Jamaah Maiyah, melainkan pertemuan yang diselenggarakan oleh masyarakat luas untuk keperluan tematik mereka sendiri. Sebagian besar memang bersifat terbuka untuk umum, dan di situ jamaah Maiyah bisa datang dan menyimak ilmu-ilmu Cak Nun hingga membantu lancarnya proses salaman di bagian akhir.

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Yang menarik adalah, jika jamaah Maiyah yang datang ini tinggal di kota tempat acara diselenggarakan maka hal itu wajar saja. Tetapi bila mereka datang dari kota yang jauh, maka itu cukup menarik dan istimewa. Seperti malam ini, terlihat jamaah Maiyah datang dari Sragen, Semarang, Surabaya, Magelang, Yogyakarta, dan bahkan Bandung. Mereka antar kota antar provinsi. Ada bahkan dari mereka yang nenempuhnya dengan mengendarai motor. Ada yang kemarin hadir di Gresik, dan malam ini datang lagi.

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Terasa sekali militansi dan kesungguhan mereka untuk menimba ilmu, tanpa rasa jenuh sedikit pun. Mereka datang tidak tampak sebagai suatu kelompok atau golongan tersendiri. Yang terasakan dari mereka adalah kesetiaan dalam mencari sesuatu. Di lokasi, mereka berbaur dengan hadirin atau jamaah pada umumnya. Duduk mereka juga tersebar, di mana saja. Ada yang di samping panggung. Ada yang di trotoar. Juga tentunya yang mengambil tempat di antara jamaah di tengah-tengah lapangan. Ada pula yang berdiri di sisi panggung berbagi dengan Banser atau panitia. Usai acara, mereka akan menempuh kembali perjalanan berkilo-kilo meter jauhnya untuk sampai ke rumah masing-masing. (hm/adn)