Daur (133)

Jalan Tikus ke Sorga

Ta’qid : “Kalau kamu bermakmum kepada Rasulullah ya bermakmum saja karena Allah. Tidak perlu pakai festival keterharuan dan perayaan kecengengan...”

Tubuh Markesot yang bersila tiba-tiba bergerak-gerak, sedikit berguncang-guncang, kemudian kedua matanya membuka. Ia menarik napas panjang, membuangnya pelan-pelan. Kemudian tertawa, tertawa keras, terpingkal-pingkal.

Tentu saja ia menertawakan Saimon.

Dan Saimon sudah pasti tidak mau begitu saja dijadikan bahan tertawaan oleh Markesot. Air yang menggenang lebar hingga ke sungai dan merasuk ke dalam tanah, tiba-tiba berhimpun kembali, bercipratan ke satu pusat, memuncrat naik, kemudian tumpah ke bumi dan menggumpal kembali menjadi Saimon.

“Dari mana kamu tadi, Sot?”, Saimon bertanya.

“Saya yang bertanya dari mana kamu, Mon?”, kata Markesot.

“Saya di sini sejak tadi, tidak ke mana-mana”

“Ada Jin sulapan sepertinya”

“Ada manusia bermakrifat ke langit tampaknya”

“Mencair, membeku, mencair, membeku, menggumpal, merasuk, menggumpal, merasuk…”

“Menghilang, ngrogo sukmo, latihan mukswa

“Mukswa mbahmu. Saya tidur sangat lelap. Sangat sangat lelap”, jawab Markesot.

“Mentang-mentang punya Nabi istimewa, terus romantis bermakmum shalat di belakangnya, berjamaah bersama para penduduk langit…”, Saimon mengejek.

“Makmum shalat apanya”, kata Markesot, “Saya melamun tak terkendali sampai tertidur setidur-tidurnya”

“Nggak akan berhasil manusia yang berpura-pura di hadapan Jin. Jin-lah yang punya fasilitas untuk berlagak di depan manusia. Kan sudah jelas Tuhan selalu menyebut Jin dulu baru manusia, kecuali hanya satu ayat yang sebaliknya”

“Tapi kan Baginda Muhammad adalah Nabi kalian juga”

“Ya. Meskipun dengan modifikasi dan transformasi tertentu sehingga tidak sama persis, meskipun hakiki dan eksistensinya sama. Tetapi masyarakat Jin tidak cengeng dan suka menangis seperti manusia. Kalau kamu bermakmum kepada Rasulullah ya bermakmum saja karena Allah. Tidak perlu pakai festival keterharuan dan perayaan kecengengan seperti pendatang baru yang baru kemarin sore mengenal firman Tuhan”

“Kamu masih mau berdebat dengan saya?”, Markesot agak naik suaranya, “Kerugian kalian kaum Jin adalah berada di tempat yang lebih dekat ke langit dibanding buminya manusia. Perjalanan kalian hanya pendek dan tidak dinamis. Sementara keuntungan manusia adalah karena tantangannya besar, jarak yang ditempuhnya lebih jauh, sehingga cakrawala kemungkinannya berlimpah-limpah. Makanya firman-firman Tuhan secara primer disampaikan kepada manusia, sementara firman-firman itu sampai ke dunia Jin secara sambilan”

Saimon tidak mau kalah. “Manusia jangan sok jagoan hanya karena jangkauan perjuangannya lebih panjang dan jauh. Buktinya kebanyakan manusia gagal menempuh perjuangan itu. Tuhan memberikan akal sebagai keistimewaan yang khusus kepada manusia, tapi pada saat yang sama Tuhan juga memberi pernyataan bahwa kebanyakan manusia tidak berpikir, mayoritas manusia tidak menggunakan akalnya”

“Tapi jangan lupa, Mon”, jawab Markesot, “Tuhan tidak menunggu perjalanan manusia dengan tuntutan atau tagihan kepada keberhasilan atau kegagalannya. Tuhan hanya meminta perjuangan manusia, kesetiaan untuk berjuang sampai akhir jatah hidup, bukan menilai berhasil atau gagalnya perjuangan itu”

“Tapi kan pasti bahwa manusia yang gagal, disediakan neraka untuk mereka”

“Saya optimis ampunan Allah jauh lebih besar, luas dan agung dibanding neraka-Nya. Kemurahan, ampunan dan kedermawanan Allah dengan mudah akan menyejukkan neraka dan memadamkan apinya”

“Omong kosong, Sot. Neraka ya neraka. Sorga ya sorga. Kasihan benar manusia. Sedikit orang di antara manusia karena merasa putus asa terhadap mayoritasnya, mereka mencari cara untuk melarikan diri. Mencari jalan damai secara khusus untuk dirinya sendiri. Itu sikap yang tidak sejalan dengan prinsip Khalifah. Nggak bisa dong seorang manusia secara individual mencari dan melewati jalan tikus menuju sorga untuk dirinya sendiri. Bukan Khalifatullah itu namanya”