Daur (95)

Jagat Sempit Modernisme

Apakah perjalanan asepi dan keberadaan Markesot di tepi hutan ini menggambarkan bahwa ia sudah memasuki dan tenggelam setenggelam-tenggelamnya di alam khayal, karena — misalnya — hidupnya sudah pasti tidak kompatibel dengan dunia yang ia geluti sejauh ini?

Apa gunanya ada Markesot di muka bumi ini? Katakanlah mungkin mudaratnya juga tidak menonjol, tapi manfaatnya adanya Markesot di Negeri Khatulistiwa ini, apa?

Berkeluarga? Tidak. Karier? Tidak ditempuhnya apa-apa untuk ‘eksis’.

Profesi? Tampak banyak mengerjakan sesuatu, tapi tidak ada yang fokus. Tidak jelas arah dan tujuannya, karena tempat dan urusan yang dikerjakannya juga tidak tertentu. Kadang urusan arloji, perlistrikan, motor dan mobil, atau disuruh orang menangani hantu atau entah apa yang membuat mesin macet.

Jasa? Ada sih jasa kecil-kecil dalam kehidupan sehari-hari, sebagaimana setiap orang juga pasti punya jasa-jasa kecil dalam kehidupan di antara sesamanya.

Ataukah Markesot sekadar menggunakan hak dan kewajiban lokal personalnya untuk menjalani lelaku pribadi? Dan di saat-saat akhir setiap perkembangan ‘semester’annya ia harus mencari dan menemui Kiai Sudrun, sebagaimana seorang ‘Promovendus’ sowan kepada ‘Promotor’nya, untuk mengetahui ketegasan kelulusan atau ketidaklulusannya?

Dan agar supaya para makhluk langit melihat lelaku Markesot dipenuhi oleh tema-tema ilmu dan pengetahuan batin, maka ia melamunkan Sulaiman, Kharmiyo, Bulkiyo, Iblis, Naga, Burung Merak, dan entah siapa dan siapa lagi yang nongol secara acak tanpa aturan?

***

Kalau manusia yang menanyakan itu semua kepada Markesot, jangan berharap ia tersentuh, apalagi terbakar. Bahkan andaikan pertanyaan itu dibarengi dengan ejekan atau penghinaan.

Markesot sudah lama sangat hemat untuk tidak banyak berbicara kepada manusia, karena makhluk manusia ini mendengarkan suaranya sendiri saja makin tak bisa. Jangankan mendengarkan suara yang lain dari luar dirinya. Terlebih lagi mendengarkan suara Markesot.

Tetapi jangan kaget ada kalanya Markesot justru bicara agak berlebihan kepada manusia-manusia tertentu. Tidak karena mereka memahaminya, tetapi sekadar Markesot menemukan peluang untuk menanam ‘benih’ di hamparan tanah akal mereka, sambil dimohonkan kepada Tuhan agar berkenan menumbuhkan benih-benih itu di hari-hari ke depan yang sedang dijalani oleh manusia.

Markesot menyingkir ke hutan ini antara lain karena lelah tidak bicara kepada manusia, dan lebih lelah lagi bicara kepada manusia.

Akan tetapi ketika satu makhluk, yang sudah lama Markesot mengenalnya, yang bernama Saimon, tiba-tiba nongol, tertawa-tawa, mendera-deranya dengan sindiran, menabraknya dengan ejekan yang terkadang sampai tingkat penghinaan — Markesot merespon dengan ketus.

“Kamu bukan manusia. Jadi andaikan saya menjelaskan sepanjang lebar apapun tentang apa yang saya prihatinkan tentang kehidupan manusia, kamu tidak bisa merasakan apa-apa, karena kamu bukan manusia”

Saimon menjawab, “Tapi saya dan kaum saya kan selalu disebut duluan oleh Tuhan sebelum menyebut manusia. Jalan dan tugas hidup kita mirip-mirip”

“Tapi tetap saja kamu bukan manusia”

Kalau dua makhluk ini ketemu dan satron, kejadiannya bisa akan melelahkan, meskipun bisa juga mengasyikkan.

***

“Memang sepandai-pandai kaumku, masih lebih bodoh dibanding manusia yang terbodoh”, Saimon menyerbu, “Tetapi nyatanya kamu menyaksikan beribu-ribu kali bagaimana kami yang lebih bodoh dari manusia ini mampu mempermainkan manusia yang termasyhur rata-rata lebih pandai dibanding kaumku”

“Kalian kejam kepada manusia”, protes Markesot.

“Manusia yang sangat kejam kepada dirinya sendiri”

“Tapi kalian tidak perlu mempermainkan manusia sampai sebegitu”

“Kami hanya menuruti kadar permainan manusia sendiri atas hidupnya sendiri”

“Kamu tahu persis bahwa saya sanggup mempermainkanmu dan kaummu, tetapi belum pernah terbersit di hati saya untuk berniat mempermainkan kalian, sebagaimana kalian semakin rajin mempermainkan manusia”

Saimon tertawa. “Aslinya saya justru menginginkan sebanyak mungkin peristiwa di mana manusia mempermainkan Jin”, tertawanya makin panjang.

Druhun kalian ini memang”

“Tapi bagaimana mungkin itu terjadi. Setelah manusia memasuki jagat sempit modernisme, mereka bukan hanya tidak mampu lagi mengenal kami, alih-alih bertanding saling mempermainkan. Manusia bahkan sudah melorot derajatnya sampai benar-benar asfala safilin. Manusia dipermainkan habis-habisan oleh api, oleh batu, oleh benda-benda”

Markesot geram. “Kamu nantang saya?”

Saimon menjawab. “Saya nantang manusia”

Dengan satu lompatan tiba-tiba tangan kiri Markesot sudah mencengkeram leher Saimon. Markesot yang sebenarnya berbadan jauh lebih kecil dari Saimon, tiba-tiba seolah lebih besar dari Saimon.

***

Tapi mendadak pula Markesot melepaskan cengkeraman tangan kirinya dan injakan kakinya ke tubuh Saimon.

“Saya tidak tahan”, katanya, “Wajahmu lebih buruk dibanding wajah yang paling buruk di antara manusia. Jidatmu terlalu lebar, gigimu terlalu tidak beraturan, panjang rambutmu tidak seragam, telingamu cocoknya untuk bentuk alat musik, hidungmu terlalu bengkok, keseluruhan badanmu tidak proporsional, bau kulitmu seperti tanah kuburan campur minyak yang tidak lolos dari saringan…”

Saimon tertawa terpingkal-pingkal.

Markesot duduk bersandar di pohon. Saimon bergeser kesana kemari, bergerak-gerak terus, berputar-putar bahkan berguling-guling.

“Saya bersyukur pada Tuhan bahwa saya tidak ditakdirkan menjadi bagian dari kaummu”, kata Markesot.

“Seluruh waktu dalam hidup kaumku”, kata Saimon, “kami pakai untuk bersyukur tanpa henti bahwa kami bukan manusia. Kami lebih apa adanya, dibanding manusia yang selalu cenderung mengada-adakan sesuatu yang tidak ada. Kami lebih lugu dan polos, karena kami mencintai dan mengagumi ciptaan Tuhan atas diri kami, tidak seperti manusia yang justru sangat sibuk menutup-nutupi keaslian ciptaan Tuhan. Menutupi keindahan ekspresi Tuhan dengan teknologi, kosmetika, kemunafikan, artifisialisme….”

Markesot memotong, “Kamu pikir kamu lebih mengerti manusia dibanding saya? Selama hidup kamu dan kalian semua hidup dalam jarak kepada jagat manusia, sementara saya hidup bergelut bergulat di dalam jagat hidup manusia….”

Saimon juga memotong, “Kamu hidup di Pulau Jawa, bersama manusia Jawa, tetapi apakah ada satu persen saja dari orang Jawa yang tahu kata, misalnya Paringkelan, atau Padangon? Tak usah lebih saya deret-deret lagi penemuan-penemuan Jawa, agar tidak terlalu kentara butanya manusia Jawa terhadap Jawa…”.