Daur (136)

Jadul dan Jakin

Ta’qid : “Apapun, sesuatu pun, benda, peristiwa, perilaku, bahan alam, hasil budaya dan apapun saja, tidak ada yang tidak gathuk. Tidak ada yang tidak terkait”

Karena Markesot dikenal sebagai makhluk jadul alias jaman dulu, kuno, ketinggalan jaman, maka pertama-tama yang ia serap untuk belajar adalah masyarakat IT.

Dan Markesot siap untuk bergelimang air mata. Meskipun ujungnya akan pasti tertawa juga.

Markesot hidup di tengah masyarakat yang nalurinya adalah othak athik gathuk. Kebiasaan untuk menghubung-hubungkan atau menemukan kaitan-kaitan, biasanya melalui bunyi sesuatu hal, antara sesuatu dengan sesuatu yang lain, yang sekilas memang tampak tidak berkaitan.

Manusia jakin, alias jaman kini, seratus persen menyimpulkan bahwa othak athik gathuk adalah pekerjaan sia-sia, berawal dari khayal dan berakhir pada klenik. Walhasil, othak athik gathuk adalah tindakan artifisial. Dicari-cari. Tidak riil.

“Padahal”, kata Markesot, “apapun, sesuatu pun, benda, peristiwa, perilaku, bahan alam, hasil budaya dan apapun saja, tidak ada yang tidak gathuk. Tidak ada yang tidak terkait. Segala hal di dalam kehidupan ini berasal dari Satu dan kembali ke Satu. Sang Maha Satu mengurai Diri-Nya menjadi sangat banyak dan tak terbatas, yang di antara semua itu sangat bisa tampak sebagai tidak terkait, namun tidak akan tersisa apapun untuk akhirnya kembali ke dan menjadi Satu kembali”.

Rumusnya jelas, dan karena sering bicara itu sejak dulu, Markesot dianggap manusia anomali. Rumus yang dimaksud adalah prinsip utama adanya kehidupan: inna lillahi wa inna ilaihi roji’un.

Seluruh kebudayaan manusia mengucapkan atau menuliskan kalimat itu pada momentum kematian, sedangkan Markesot menerapkannya sebagai pedoman dasar kehidupan.

“Seluruh apa saja di jagat raya kehidupan ini gathuk”, kata Markesot lagi, “persoalannya hanya seberapa jauh ilmu manusia meng-othak-athik-nya sehingga menemukan gathukan-nya”

Manusia jadul lebih waspada terhadap kemungkinan, sehingga tekun dan rajin melakukan othak-athik. Sementara manusia jakin terlalu percaya diri bahwa yang nyata ada dalam kehidupan adalah yang mereka ketahui saja. Yang mereka belum ketahui mereka yakini sebagai tak ada dan tidak nyata.

Dan itu semua asal-usulnya adalah kemalasan, dan pemicunya adalah kesombongan. Maka daripada repot-repot ikut meneliti sesuatu yang di-othak-athik, serta lelah mencari gathuk-nya, maka dengan angkuh lebih enak untuk disebut khayalan artifisial.

Justru karena itu maka Markesot memulai dengan mengambil tantangan yang paling mutakhir. Yakni dunia IT, garda depan dari Revolusi Industri ke-IV, tapi diperlakukan di awalnya dengan othak athik gathuk.

Markesot mencoba menemukan tali untuk menyambung dunia yang paling bumi dan dianggap primitif serta berada di wilayah terjauh dari tradisi ilmiah kaum cendekiawan jakin, yakni othak athik gathuk – dengan wilayah yang masyarakat jakin meyakini sebagai yang paling langit, yakni IT atau dunia maya.

Kaum jakin memakai bahasa dunia maya untuk menyebut IT, sementara alam maya adalah sesuatu yang sama sekali berbeda. Jadi menurut pandangan ilmu masyarakat jakin, dunia itu bukan alam, dan alam itu bukan dunia.

Markesot sangat mengagumi ilmu jakin yang sanggup membedakan antara dunia dengan alam. Mungkin ada semacam Tuhan yang lain, yang bukan Tuhan yang dikenal oleh kaum jadul, yang menciptakan dunia sebagai suatu hal, dan alam sebagai lain hal.

“Mudah-mudahan pada suatu hari saya bisa mengerti hal itu”, kata Markesot kepada dirinya sendiri, “sementara biar saya loading othak athik gathuk yang ini terlebih dulu”

“Dunia IT dan alam Firman”, Markesot memulai, “seakan-akan merupakan dua arus dari jagat yang saling berjauhan dan sangat berbeda, mungkin terkesan amat bertentangan, tetapi dipertemukan di suatu muara, menjadi sebuah satuan”