Izro’u Fi Jannatil Maiyah

Bercocok tanamlah atau nandur-lah di kebun Maiyah. Itulah pesan Cak Nun yang disampaikan kepada kita semua di Majelis Ilmu Padhangmbulan 14 November 2016. Malam itu Cak Nun memperkenalkan sesuatu yang baru yaitu menyebut JM bukan dengan Jamaah Maiyah sebagaimana biasa tetapi dengan sebutan Jannatul Maiyah (singkatannya tetap JM). Terdapat gagasan yang hendak Beliau sampaikan dengan frasa baru itu. Dalam bahasa Arab, Jannah berarti kebun. Jannatul Maiyah artinya kebun Maiyah.

Di dalam kebun Maiyah itu, Jamaah Maiyah mendapatkan bermacam-macam buah-buahan, mulai dari buah berupa ilmu, sikap hidup, keseimbangan dan penyeimbangan, pembelajaran, kebahagiaan, solusi, jawaban atas kegelisahan, keberkahan, pandangan hidup yang dinamis dan meluas, alternatif-alternatif sudut pandang, nikmat kebersamaan, kuatnya kemesraan satu sama lain, olah kesehatan, doa, dzikir, pembangunan mental, gugahan kesadaran, hingga detail-detail lain yang dirasakan sebagai anugerah dari Allah di dalam Maiyah.

Sama-sama kita ketahui bahwa semua buah-buahan itu sudah terpetik sejak 23 tahun lebih yang lalu, dan ke sini semakin banyak yang turut mendapatkannya melalui berbagai cara dan media. Lingkaran-lingkaran baru yang memetik dan menikmati buah-buahan itu lahir dan tumbuh di berbagai tempat dengan segala tahap dan karakeristiknya.

Dalam kenyataan dan perkembangan seperti itu Jannatul Maiyah atau Kebun Maiyah itu tak lain adalah sebuah surga, sebagaimana kata Jannah itu berarti sendiri juga berarti surga. Di dalam surga Maiyah, para Jamaah Maiyah mendapatkan pemenuhan-pemenuhan atas kebutuhan jiwanya. Bahkan pemenuhan itu tidak hanya berlangsung pada ranah jiwa, melainkan mewujud dalam perubahan objektif pada kondisi hidup mereka.

Pertanyaan kita selanjutnya, mengapa Cak Nun meminta agar kita bercocok tanam atau tandur terus di kebun Maiyah?

Pertama, dengan terus bercocok-tanam di kebun Maiyah itu, pohon-pohon yang ada di dalamnya akan semakin berbuah banyak dan terus memberi manfaat serta berkesinambungan abadi. Kebun Maiyah sebagai surga akan terus berlangsung tatkala para jamaah aktif menggali tanahnya, menanaminya dengan benih-benih baru (ijtihad, kreativitas, penataan, pengolahan, dan implementasi-implementasi), merabukinya dan menyiraminya terus.

Kedua, Cak Nun meminta kita untuk bercocok-tanam di kebun Maiyah, sebab pekerjaan ini adalah pekerjaan harian Jamaah Maiyah di dalam kebunnya sendiri, dan boleh jadi kita lupa terutama ketika perhatian kita terseret dan diseret oleh arus peristiwa yang sedang berlangsung. Seperti situasi nasional Ummat Islam Indonesia yang dalam satu bulan ini eskalasinya meningkat dengan momentum “Al-Maidah 51” dan 4 November 2016 yang hingga saat ini terus menggelinding bolanya. Para Jamaah Maiyah berupaya memahami dan mempelajari semua peristiwa itu, namun tetap tak boleh lupa akan tugas utamanya berkebun di kebun Maiyah.

Ketiga, kesadaran bercocok tanam atau tandur itu makin kuat untuk disadari justru pada saat Maiyah menemukan dirinya belum tentu mampu menyumbangkan sesuatu bagi merespons peristiwa-peristiwa yang berlangsung hari-hari ini, misalnya peristiwa 411 semestinya melahirkan perasaan dan pengertian akan perlunya seluruh umat Islam Indonesia bersatu duduk bersama, bermusyawarah, merumuskan diri, dan bergerak menuju Ummatan Wahidah, ummat yang satu alias solid.

Untuk kemungkinan gagasan itu, Maiyah melihat kesulitan-kesulitan terutama karena kelompok-kelompok di dalam umat Islam sendiri belum tentu berpikir ke arah sana dan tercerai-berai ke dalam berbagai kepentingan. Pelbagai kondisi atau prasyarat ke arah sana belum cukup terpenuhi.

Di tengah keadaan belum tentu sanggup melakukan sesuatu itu, Maiyah menegaskan diri ke dalam: Izro’u Fi Jannatil Maiyah. Kesadaran ini pun diletakkan secara dialektis. Artinya, tidak sekadar menjadi titik berat bagiaktivitas sehari-hari Jamaah Maiyah, melainkan dipahami seperti ini: Ke dalam, pilihan lelakunya adalah nandur terus di dalam kebun Maiyah. Ke luar, pilihan tindakannya adalah berpuasa dan atau bershadaqah.

Berpuasa? Ya. Ini ada kaitannya dengan bagaimana Maiyah menganalisis situasi-situasi yang tengah terjadi. Pada hemat Maiyah, apa yang sedang menimpa bangsa kita adalah ganasnya keserakahan global. Keserakahan yang hendak menjadikan tanah air bangsa Indonesia sebagai hidangan bagi keserakahan itu, dan untuk mencapainya berbagai tipudaya yang canggih, penjajahan, dan penguasaan politik mereka lakukan. Jamaah Maiyah tak boleh menghadapi keserakahan itu dengan ikut masuk ke dalam arus keserakahan. Jamaah Maiyah harus berpuasa. Bentuk-bentuk puasa itulah yang saat ini perlu mereka temukan.

Bershadaqah? Betapapun dalam berbagai keadaan maupun kehidupan sehari-hari, Jamaah Maiyah bersentuhan dengan beragam lingkungan, dari yang paling kecil di kampung hingga yang lebih luas yaitu bangsa dan negara Indonesia. Seperti yang sudah lama menjadi pemahaman di Maiyah, seluruh kegiatan atau apa-apa yang mereka lakukan dalam ranah yang lebih luas itu seyogyanya diniati untuk shadaqah, artinya melakukan sesuatu bukan karena kewajiban fiqhiyah, melainkan karena ada nilai kemuliaan di dalamnya. Kemuliaan itulah yang melandasi langkah kaki Jamaah Maiyah.

Dengan bercocok tanam di kebun Maiyah sendiri, istiqamah berpuasa, dan akurat niat saat bershodaqah, para Jamaah Maiyah mengolah dan mendialektikakan dirinya agar Kebun Maiyah dan manfaatnya berkesinambungan lestari. Dengan tiga langkah itulah Jamaah Maiyah menjelma diri menjadi Jannatul Maiyah.

Yogyakarta, 22 November 2016

JAMAAH MAIYAH NUSANTARA