Daur (168)

‘Isyqul Ma’rifah

Ta’qid : “tapi hasilnya adalah beban sangat berat bagi rakyat dan rongrongan yang berkepanjangan ke dalam diri si pelaku kecurangan hingga anak cucunya”

Ketika Abu Nawas datang dengan seekor kambing untuk melaporkan jumlah bintang-bintang, Markesot memohon izin:

“Paduka Khalifah, mohon perkenan tidak perlulah Paduka merendah-rendahkan derajat dengan menemui Kawula sekelas Abu Nawas. Hamba mohon izin biarlah hamba sesama wong cilik yang menemui Maulana Abu Nuwas…”

Sudah pasti Sultan Harun tidak mengizinkannya. Alangkah bodohnya Markesot ini, tidak punya wawasan dan kecerdasan untuk membaca bahwa usulnya pasti ditolak.

Sultan Harun tidak butuh mengetahui jumlah bintang, persis sama dengan jumlah bulu kambing atau tidak. Yang dibutuhkan oleh Sultan Harun adalah Abu Nawas. Perintah menghitung jumlah bintang itu hanyalah alasan yang dicari-cari oleh Sultan agar bisa berjumpa dengan Abu Nawas.

Beliau Harun Ar-Rasyid selalu merasa rindu dendam kepada Abu Nawas. Selalu ingin berjumpa dengan beliau, bersenda gurau, saling memberi teka-teki, berkalakar, dan salah satu cita-cita Sultan adalah menemukan alasan yang tepat, masuk akal dan tak terbantahkan secara hukum — untuk memenjarakan Abu Nawas.

Apabila itu tercapai, tak akan ada lembaran sejarah yang mencatat bahwa Harun adalah Khalifah yang lalim. Melainkan sebaliknya: Betapa objektif dan adilnya Sang Khalifah Harun Ar-Rasyid, demi istiqamah penegakan hukum, Abu Nawas sahabatnya sendiri pun dipenjarakan karena kesalahannya.

Salah satu kenikmatan Sultan Harun adalah bertemu dengan Abu Nawas. Memandang wajahnya yang semakin tua semakin terbengkalai. Memancing bunyi mulut Abu Nawas yang biasanya selalu tidak terduga muatannya.

Sultan hidupnya sangat lelah. Beliau pemimpin yang sangat sayang kepada rakyatnya, membangun dan menjamin kesejahteraan mereka dengan landasan sikap adil. Sungguh Negeri yang beliau pimpin adalah Negeri Adil Makmur. Dan jangan lupa, menjadi pemimpin yang demikian itu membutuhkan tenaga hidup berlipat-lipat dibanding menjadi pemimpin yang lalim, curang dan kejam.

Siapapun yang menjadi pemimpin hendaklah berhitung: bahwa berbuat curang itu mudah, ringan, efektif, efisien dan bisa sangat singkat kebutuhan waktunya. Tapi hasilnya adalah beban sangat berat bagi rakyat dan rongrongan yang berkepanjangan ke dalam diri si pelaku kecurangan, hingga ke anak cucunya

Adapun berbuat jujur kepada rakyatnya dan bertindak ikhlas ke dalam dirinya, itu sungguh sukar, berat, mungkin lebih ruwet prosesnya, bertele-tele waktunya, serta menyerap tenaga batin dan jasad yang lebih berlipat-lipat. Tapi berikutnya terasa kaki seperti menjejak bumi dengan kokoh dan tak bisa digoyang, tapi sekaligus badannya seolah tak berbobot, sehingga sewaktu-waktu bisa terbang melayang ke angkasa hingga lapisan langit-langit.

Maka selalu sangat meluap-luap nafsu Sultan untuk sebisa-bisa mencari perkara agar bisa bertemu dengan Abu Nawas. Karena sebagai pemimpin yang terbukti jujur dan adil, untuk apa beliau ‘terbang melayang ke angkasa hingga lapisan langit-langit’ kalau tidak ditemani oleh Maulana Abu Nuwas? Apa nikmatnya makrifat Sang Rasyid tanpa Sang Mursyid?

Lha kok Markesot mau memotong tali ‘isyqul-ma’rifah itu. Lha kok dengan naif, dungu dan lancang, Markesot meminta izin agar dia yang menemui Maulana Abu Nawas.

Wajarlah kalau Paduka Sultan murka karena amat mendalam tersinggung hatinya.

“Kamu siapa?”, Paduka bertanya dengan nada yang garang.

“Saya Markesot, Paduka…”, Markesot menenang-nenangkan hatinya.

“Apa?”, Paduka kaget dan merasa sangat asing oleh nama itu, bahkan amat sukar lidah beliau akan mengulangi dalam pertanyaannya.

Sejumlah Prajurit dengan sangat sigap langsung mendekat dan mengepung Markesot. Ini orang asing yang tak dikenal. Bisa berbahaya bagi keselamatan Sultan.