Daur (147)

Istana Jailangkung

Ta’qid : “...Tetapi tidak ada masalah dengan ketidakpercayaan diri itu, karena toh mereka semakin tidak kenal dan tidak punya gagasan tentang diri mereka sendiri...”

Markesot memang harus menjawab pertanyaan-pertanyaan di sekitarnya, tentang bagaimana mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mengepung mereka dari keadaan dirinya, masyarakat, Bangsa dan Negaranya.

Ini Bangsa yang tidak terdidik untuk menemukan pertanyaan-pertanyaan yang semestinya mereka tanyakan agar mereka memproses bersama kemungkinan jawaban-jawabannya. Bangsa ini tidak mau melewati proses ilmu pertanyaan dan jawaban.

Yang mereka lakukan adalah berpuluh-puluh tahun mengikuti jawaban-jawaban dari luar dirinya, yang ditransfer dari orang-orang di luar diri mereka. Sedangkan pertanyaan-pertanyaan orang-orang di luar diri mereka itu bukanlah pertanyaan-pertanyaan yang seharusnya ditemukan oleh mereka. Sehingga ketika mereka mematuhi jawaban-jawaban dari luar, itu bukanlah jawaban-jawaban yang mereka perlukan.

Sederhana sebabnya: karena Bangsa ini bukanlah orang-orang di luar Bangsa ini.

Tetapi karena Bangsa ini semakin tidak memiliki pengetahuan tentang diri mereka sendiri, tidak memiliki wawasan dan bandingan-bandingan bahwa diri mereka bukanlah bukan diri mereka, bahwa Bangsa mereka bukanlah Bangsa-bangsa yang di luar mereka – maka mereka pun tidak memahami apa bedanya pertanyaan mereka dengan pertanyaan yang datang dari bukan mereka. Terlebih lagi jawaban Bangsa mereka bukanlah jawaban Bangsa-bangsa di luar mereka.

Lebih dari itu, hal pertanyaan dan jawaban sudah tidak menjadi bagian dari dialektika kehidupan mereka. Bangsa ini sudah tidak peduli apakah Bangsanya adalah Bangsanya atau bukanlah Bangsanya.

Bangsa yang Markesot terlempar di tengah-tengahnya ini sudah tidak pernah mempersoalkan apakah mereka adalah diri mereka ataukah bukan diri mereka.

Mereka bercita-cita tidak sebagai dirinya sendiri. Ketika mereka berkeinginan, keinginan itu tidak berasal dari orisinalitas diri mereka sendiri. Ketika mereka melangkah, melakukan sesuatu, bekerja, membangun, menjelajahi ruang dan waktu, mereka berlaku tidak sebagai diri mereka sendiri.

Kalau mereka berpikir, mereka langsung berubah menjadi bukan diri mereka. Kalau mereka berpakaian, menata rambut, melakukan peribadatan, menjalani laku-budaya, dan apapun, mereka berderap maju sebagai Bangsa dan manusia yang bukan mereka.

Diam-diam mereka tidak percaya kepada diri mereka sendiri. Tetapi tidak ada masalah dengan ketidakpercayaan diri itu, karena toh mereka semakin tidak kenal dan tidak punya gagasan tentang diri mereka sendiri.

Di bawah sadar mereka meremehkan, mengejek bahkan menghina diri mereka sendiri. Tetapi tidak ada persoalan dengan peremehan, ejekan dan penghinaan atas diri sendiri itu, karena toh diri mereka tidak ada. Yang ada adalah diri orang lain, Bangsa orang lain.

Mereka hanya bungkus, hanya casing, hanya patung dan golekan, hanya Jailangkung yang siap membunyikan dan menggerakkan kemauan Bangsa lain.

Gedung-gedung yang mereka bangun adalah gedung Jailangkung. Perkotaan yang mereka hamparkan adalah perkotaan Jailangkung. Produksi yang mereka lemparkan adalah produk Jailangkung. Output yang mereka setorkan adalah keluaran Jailangkung. Istana yang mereka banggakan adalah istana Jailangkung.

Apapun saja, bahkan ibadat mereka, adalah ibadat muqallidin. Robot-robot yang diprogram oleh madzhab-madzhab. Kepatuhan mereka dipersembahkan kepada sub-sub-sub agen aliran-aliran dan kelompok-kelompok. Tanpa tradisi otentisitas. Tanpa kebiasaan ijtihad. Tanpa perjuangan berpikir.

Itu tidak terbatas hanya pada bagaimana juklak shalat, naik pesawat pergi Haji bid’ah atau tidak, memetik gitar masuk neraka sebelah mana. Tetapi juga dalam membangun kebudayaan, dalam menghukumkan pasal-pasal, menegarakan sistem-sistem, mendemokrasikan ambisi, mempilpres-pileg-pilkadakan kemanusiaan yang tak tahu malu dan tak paham martabat.

Sangat wajar dan benar-benar tidak mengherankan jika jauh-jauh hari Tuhan menguakkan sedikit pintu-pintu rahasia tentang peradaban ummat manusia: “Afala ta’qilun”, “Afala tatafakkarun”, “Aktsaruhum la ya’qilun”….