Daur (299)

Islam Belum Lahir Padanya

Tahqiq : “…Lho, Islam sama sekali bukan lembaga, dan tidak pernah merupakan institusi, meskipun manusia pemeluknya bisa melahirkan institusi, aliran, kelompok sampai ormas untuk mewujudkan dan memanifestasi Islam untuk keperluan dan konteks tertentu.…”

Di suatu perbincangan di Patangpuluhan sekian puluh tahun silam, Markesot pernah bertanya kepada teman-temannya: “Duluan mana lahirmu dibanding lahirnya Islam?”

Itu dialog untuk membabar pernyataan “karena aku Islamis maka aku Nasionalis, karena aku Nasionalis, maka aku Islamis”.

“Duluan Islam”, jawab Sapron ketika itu.

“Penjelasannya?”

“Islam lahir di abad 7-8 Masehi, saya di abad 20”

Suhad membantah, “Nggak bisa dong. Kalau Islam baru ada di abad 7 Masehi, yang maksudmu tentu bersamaan dengan datangnya Kanjeng Nabi Muhammad sebagai Rasul Pamungkas, berarti ribuan Nabi dan puluhan Rasul sebelum beliau bukan Muslimin. Padahal Nabi Adam pun seorang Muslim”

“Sebentar”, Sapron membela diri, “yang Cak Sot maksud tadi Islam sebagai Agama resmi atau Islam sebagai nilai?”

“Maksud pertanyaan saya adalah supaya kamu berpikir untuk menanyakan seperti itu”

“Kurang ajar Sampeyan Cak”, kata Sapron, “Yang Sampeyan tanyakan tadi Islam sebagai substansi atau Islam sebagai lembaga atau institusi?”

“Lho, Islam sama sekali bukan lembaga, dan tidak pernah merupakan institusi, meskipun manusia pemeluknya bisa melahirkan institusi, aliran, kelompok sampai ormas untuk mewujudkan dan memanifestasi Islam untuk keperluan dan konteks tertentu”, Wiyon, seorang aktivis organisasi mahasiswa teman Suhad, menyela.

“Maksud saya”, kata Sapron lagi, “kalau dalam pengetahuan formal Kaum Muslimin zaman sekarang dan juga wacana-wacana ilmu di dunia, Islam itu lahir melalui Rasul Muhammad. Tapi pada hakikatnya, detik pertama Allah menyelenggarakan penciptaan dengan Kun-fayakun itu yang diciptakan adalah Islam. Wujudnya Nur Muhammad, tetapi sistem eksistensi yang dibabar secara keseluruhan adalah Islam itu sendiri, yang berlaku hingga hari Kiamat…”

“Sampai ke sorga”, Wiyon memotong lagi, “Islam berlaku kholidina fiha abada. Kekal dan abadi. Tak hanya kekal, tapi juga abadi, meskipun hanya Allah yang tahu ukuran waktunya”

Sapron tidak mau kalah. “Saya tidak pernah memaksudkan yang tidak seperti yang Wiyon katakan. Sepenuhnya saya setuju, merasakan dan menyadari fakta hakiki seperti itu. Yang tadi saya maksud dengan Islam lahir pada abad 7-8 Masehi adalah inisial sejarah, semacam administrasi yang disepakati oleh wacana umum. Tetapi apapun faktanya, jelas bahwa Islam lebih dulu lahir dibanding kelahiran saya”

Markesot tertawa.

“Ketika Ibumu melahirkanmu ke dunia, apakah di dalam kesadaranmu sudah ada Islam? Terserah kesadaran pada tingkat yang mana. Kesadaran naluri, roso atau akal…”

“Belum, Cak”, jawab Sapron, “bayi belum menyadari apa-apa”

“Apakah kucing yang lewat dan kamu elus bulunya itu tahu atau sadar bahwa ia sedang dielus olehmu?”

“Tidak”

“Kalau Ibumu mengelus punggungmu ketika bayi, apakah kamu tahu dan sadar bahwa Ibumu sedang mengelusmu?”

“Tidak”, jawab Sapron, “tetapi saya mengalaminya, dan itu tergores dalam memori dalam kepala dan dada saya, meskipun kelak sesudah dewasa saya baru bisa merumuskan kesadarannya”

“Apakah sesuatu pernah ada pada dirimu kalau kamu tidak menyadarinya?”

“Tidak”

“Islam sudah ada jauh jauh jauh sebelum kamu ada. Jauh jauh jauh sebelum kamu menyadarinya. Itu bagi wujud alam semesta di mana kamu dan kita semua menjadi bagian dari prosesnya. Tetapi bagi kamu sendiri sebagai satu subjek manusia, kapan Islam lahir?”

“Ketika saya menyadarinya”, jawab Sapron.

“Jadi lebih dulu mana kelahiranmu ataukah kelahiran Islam, dalam konteks dirimu sebagai manusia?”

“Lebih dulu saya…”, Sapron tertawa kecut.

“Islam sudah jauh lebih dulu lahir begitu Allah melaksanakan gagasan-Nya untuk menciptakan jagat raya dan makhluk-makhluk. Tetapi bagi konteks dan jagat kehidupanmu, Islam baru lahir bersamaan dengan awal makrifat akalmu atasnya. Mungkin bagi sejumlah Muslimin bisa saja sebenarnya Islam belum lahir di dalam dirinya atau pada hidupnya….”

“O itu to maksud Sampeyan”, kata Sapron.

“Di mana kamu lahir?”

“Di dunia. Di Bumi”

“Bumi bagian mana?”