Catatan Banjarmasin Bersyukur, 29-30 September 2016

Innal Anharo fi Banjarmasin Yuhibbuna Wa Nuhibbuhum

Innal anhara fi Banjarmasin yuhibbuna dan nuhibbuhum, sesungguhnya sungai-sungai di Banjarmasin mencintai kita dan kita mencintainya.

Melalui tafsir dan tadabbur yang kontekstual, Cak Nun bertanya kota apa yang paling banyak disebut al-Alquran. Menurut Beliau adalah Banjarmasin melalui kata nahar dan anhar. Kata yang dipakai untuk menggambarkan surga. Karena sering disebut, maka masyarakat Banjaramasin harus terus-menerus mencari makna, pesan, dan hal-hal baik yang mengembangkan kehidupan di sini. Mereka, orang-orang Banjarmasin, akan terlatih menjadi penghuni surga, karena mereka terlatih hidup di dalam aliran-aliran, seperti hal ibu-ibu pedagang di Pasar Terapung Lok Baintan. “Intinya adalah surga,” tegas Cak Nun memberikan titik berat bagi pemikiran mengenai sungai di Banjarmasin.

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Mengambil nilai dari peristiwa di mana Rasulullah mengatakan bahwa Gunung Uhud mencintai kita dan kita mencintainya (innal uhuda jabalun yuhibbuna wa nuhibbuhum), dan pernah dipakai untuk meneguhkan sikap di antara kesombongan manusia modern pada peristiwa meletusnya Gunung Merapi (Innal Merapi Jabalun Yuhibbuna wa Nuhibbuhu), malam ini Cak Nun mengajak masyarakat Banjarmasin untuk menyadari dan mengatakan di dalam hati dan pikiran bahwa innal anhara fi Banjarmasin yuhibbuna dan nuhibbuhum, sesungguhnya sungai-sungai di Banjarmasin mencintai kita dan kita mencintainya.

Yang diberikan Cak Nun sejak awal hingga saat ini adalah memberikan landasan-landasan yang harapannya dapat mengilhami, menambah dorongan, dan membukakan cakrawala bagi siapa saja yang akan sungguh-sungguh melakukan kebaikan, termasuk bagi Pak Walikota Banjarmasin yang sangat concern untuk menciptakan kemajuan-kemajuan Banjarmasin sebagai kota seribu sungai. (hm/adn)