Daur (49)

Informasi Bakul, Bakul Informasi

Tonjé dan Kasdu merasakan kegairahan baru dengan kata ‘kudeta’ dan siap merayakannya, bahasa jelasnya: mengkhayalkannya. Tiba-tiba datang seorang tamu. Berjalan memasuki halaman rumah hitam Patangpuluhan dengan langkah jlong-jlong-jlong sangat gagah bak Raden Werkudoro.

Sayangnya penampilan tamu itu sama sekali tidak kompatibel dengan kegagahan langkahnya. Secara keseluruhan ia sangat kumuh. Rambutnya gimbal, tidak pernah kramas minimal tiga tahun. Hanya pakai kaos, sangat kotor dan bercampur bolot. Celananya tidak lulus disebut celana, karena robek di sana sini, terutama di bagian pantatnya. Tidak pakai alas kaki.

Tapi wajahnya ceria. Mulutnya tersenyum lebar. Sorot matanya penuh keyakinan. Gerak-gerik tubuhnya mencerminkan optimisme.

Tonjé dan Kasdu setengah terpana.

Tidak sepenuhnya terpana, karena selama mereka di Patangpuluhan di zaman dulu tamu-tamu yang demikian sangat banyak ragamnya. Mereka sangat terbiasa menemui bermacam-macam keadaan manusia.

Sambil melihat dan menunggu si tamu berjalan, Kasdu berbisik: “Ini kira-kira Nabi Khidlir apa Sunan Kalijaga?”

Tonjé menjawab: “Insyaallah sejenis Kiai Sableng”

***

Tak bisa nyeletuk lebih jauh, si tamu langsung duduk di salah satu kursi bambu jebol di beranda itu. Ia menjatuhkan pantatnya dengan penuh kelegaan. Wajahnya menoleh ke berbagai arah, menatap-natap ke genting, belok ke daun-daun pohon Waru, mampir langit sekilas, kemudian kedua matanya menyorot tajam ke Kasdu dan Tonjé berganti-ganti.

Mereka berdua tidak menanggapi si Bolot dengan tembakan sorot mata yang sama. Kasdu dan Tonjé memang menanggapi dengan membalas menatap mata si Bolot, tapi dengan urat syaraf wajah yang longgar, dengan bibir yang sedikit tersenyum. Sedikit saja. Untuk memenuhi sopan santun.

“Sopan santun tuan rumah”, mendadak si Bolot berkata, “kalau melihat di halaman rumahnya ada tamu, maka ia berdiri untuk menunjukkan penerimaannya, kalau perlu berjalan menyongsongnya”

Tonjé dan Kasdu berpandangan.

Tonjé menjawab, “di Patangpuluhan tidak ada tamu. Semua yang di sini adalah tuan rumah”

“Maka pintu rumah Patangpuluhan tidak pernah ditutup, tidak ada kunci atau gemboknya”, Kasdu menambahkan.

Si Bolot lompat tema, “Cak Sot mana?”

Sebelum dijawab ia berdiri, melangkah ke arah pintu, masuk ke ruang depan. Tangan si Bolot bertolak pinggang. Ia memeriksa berbagai arah di dalam ruangan. Kemudian tertawa terbahak-bahak.

“Kok ada tivi di sini?”, si Bolot meledak tertawanya, “Hari gini, kok masih nonton tivi”

Tonjé dan Kasdu saling bertatapan lagi.

“Cara memahami kalimat orang tidak waras sangat mudah”, kata Kasdu, “tinggal dibalik. Hari gini kok tidak nonton tivi”

“Tamu bolot itu datang tidak untuk berseminar”, sahut Tonjé, “pernyataannya bukan makalah. Jadi tidak perlu memberi tanggapan”

***

Terdengar suara Bolot lagi, “Cak Sot selalu kasih pengumuman ke mana-mana, bahwa kita jangan terperdaya oleh sesuatu yang ngakunya mengurusi informasi, padahal bakulan”

“Bakulan?”, Tonjé berbisik.

Bolot yang menjawab dari ruangan, “Orang terkesan seolah-olah informasi adalah urusan nilai, pengetahuan dan ilmu, padahal itu dagang. Memang tivi tidak bisa hidup kalau tidak sambi bakulan. Tapi kalau yang diperdagangkan adalah informasi, maka informasi harus disunat berdasarkan beberapa kepentingan. Pertama, kepentingan untuk memilih mana yang laku mana yang tidak laku. Akibatnya kehidupan yang diinformasikan menjadi tidak utuh. Ketidakutuhan informasi yang disuguhkan terus menerus akan melahirkan generasi yang disinformatif. Ilmu dan pengetahuannya seperti hantu pincang, hanya punya kaki satu, matanya pun sebelah, keputusan-keputusan hidupnya pun hanya pecahan-pecahan”

Tonjé dan Kasdu tak henti bertatapan karena heran pada Bolot. Ini gelandangan atau Dosen?

“Masih untung kalau sekedar tidak utuh”, Bolot melanjutkan, “kalau informasi dipotong-potong, dijungkir-balikkan muatannya, ditambahi sini dikurangi sana, berdasarkan kepentingan politik golongan yang membiayai tivi, maka semua pemirsa tivi menjadi masyarakat bloon yang tiap hari ditipu-tipu, dikibuli, diperdaya, dibuli, dikempongi”

Tonjé tidak tahan untuk tidak bereaksi. “Sebenarnya yang di tivi memang informasi. Siapa bilang bukan informasi. Memang kita semua ini dijadikan narapidana oleh para bakul informasi, dicekoki dengan informasi-informasi bakulan…”

Kasdu memotong: “Kamu serius mau mengemukakan makalah sanggahan?”, kemudian ia berteriak, “Bolot! Ini ada seorang pakar yang menyiapkan sanggahan”

“Sanggrahan?”, Bolot menjawab dari dalam, “Sudah tutup”

Tonjé tertawa. “Informasi dalam jarak beberapa meter saja biasnya sebegitu jauh. Sanggahan menjadi Sanggrahan”

“Kemungkinan telinga si Bolot itu yang tidak waras”

“Atau artikulasi bicaramu yang tidak fix, sehingga informasimu bias”

Si Bolot teriak dari dalam, “Diskusi apa itu? Kok seperti orang tidak punya kerjaan. Sempat-sempatnya mikir sampai yang begitu-begitu”

Tonjé dan Kasdu hampir berbarengan tertawa. Bagaimana ini. Gelandangan pakaian sobek-sobek, pantatnya kelihatan, rambut gimbal, tidak mandi bertahun-tahun, mengkritik orang lain tentang pekerjaan, seakan-akan ia direktur perusahaan bangunan.

“Kalau saya wajar omong apa saja”, Bolot melanjutkan, “saya ngritik tivi, karena saya tidak punya tivi. Saya ngritik negara, karena saya tidak punya kartu identitas. Saya tidak harus mengerjakan apapun di kantor apapun, tidak ada istri dan anak untuk dipikirkan. Saya hanya gelandangan, jadi saya punya waktu sangat lapang untuk bicara apapun, mengkritik siapapun, merenungi apapun yang besar-besar maupun sampai yang kecil-kecil, huruf, garis, lekuk, titik, koma, semau-mau saya”

***

Tiba-tiba Tonjé berdiri dari duduknya. Meraih rangselnya. Mengambil satu dua lembar pakaian. Kemudian pergi masuk menemui Bolot. Tangan Bolot diseret ke ruang dalam sampai ke belakang.

“Kamu mandi sekarang”, ia mendorong Bolot masuk ke kamar mandi, ia tutup pintu. Bolot menatap Tonjé dengan wajah agak ragu.

“Cepat mandi”, Tonjé setengah membentak, “Ini celana dan kaos. Kamu pakai. Mandinya yang lama. Minimum lima kali lipat dari biasanya orang mandi. Itu sudah sangat cepat kalau diukur kamu sudah tidak pernah mandi lebih dari tiga tahun”

Kemudian Tonjé keluar mengambil bongkahan batu bata. Masuk lagi. Melemparkan batu bata itu ke dalam kamar mandi melalui atas pintu. “Ini untuk sikat gigi”

Kemudian Tonjé ke depan lagi dan membisiki Kasdu. “Sepertinya saya ingat orang ini pernah bertamu ke sini zaman dulu mencari Markesot. Gayanya sama. Pakaian gembel tapi perilakunya perlente. Ketemu Markesot seolah-olah mereka sesama Direktur Bank”

“Sebentar, saya coba ingat-ingat”, kata Kasdu.

“Saya melakukan seperti yang dulu Markesot lakukan: menyuruhnya mandi, memberinya pakaian. Ketika itu Markesot memberinya fatwa bahwa Bolot harus mulai bekerja. Markesot dulu bilang ‘kamu ini bisa jadi Guru SD, tapi mungkin semua SD tidak punya kemampuan untuk menerima kamu’.”

“Ya, ya…saya ingat”, Kasdu menyahut, “setelah diikat disuruh kerja, dikasih sangu, kemudian Bolot pergi, tapi satu jam kemudian ia balik lagi. Markesot agak marah, langsung berdiri bertolak pinggang, membentak ‘Lho kok kamu balik lagi?’. Bolot menjawab, ‘Waduh, saya masih kangen sama Sampeyan, Cak Sot’. Markesot lemas. Karena itu berarti nanti ia harus ngasih sangu lagi”