Daur (82)

Ilmu Maling

Markesot sebenarnya tetap kaget juga oleh lenyapnya orang itu, meskipun ia  mengenal perilakunya sejak dulu. Tapi ia berlagak tidak terkejut dan senyum-senyum saja. Ia menengok keluar pintu gerbong dan berkata kepada kerumunan orang di luar.

“Minta maaf tunggu sebentar ya”, katanya, “Masih ada satu hal penting yang beliau bicarakan”

Padahal orang itu sudah lenyap entah ke mana.

Tidak usah berpikir seram-seram dan misterius. Bisa jadi itu “Ilmu Maling” biasa: menunggu, mencari dan menemukan momentum sepersekian detik ketika semua orang berlubang konsentrasinya atau lalai fokusnya, di situ si Maling meloloskan diri.

Jangan disimpulkan beliaunya itu punya Aji Panglimunan, bisa menghilang, apalagi sampai dimusyrik-musyrikkan. Mohon jangan terlalu banyak tuhan-tuhanan yang gaduh memvonis-vonis menuduh-nuduh.

Allah itu satu saja dan memang sungguh-sungguh dan sejatinya hanya Satu. “Aku ini Maha Ganjil, dan Aku menyukai semua yang ganjil”, demikian Ia menyatakan.

Pantas Markesot suka mengganjil-ganjilkan diri, supaya ia dianggap ber-maqam di jalur keganjilan Tuhan.

Suka mendadak hilang, atau berperilaku sedemikian rupa sehingga sejumlah temannya menyimpulkan bahwa ia berada di beberapa tempat sekaligus.

Markesot berharap mereka akan menyimpulkan ia dikawal oleh semacam kesaktian atau keajaiban. Padahal yang diterapkannya sekadar Ilmu Maling yang mendayagunakan strategi momentum ruang dan waktu, serta psikologi keterlenaan manusia.

***

Markesot pernah dimintai tolong oleh temannya salah seorang temannya di suatu kota kecil untuk mengobati anaknya. Markesot datang dan diinapkan di sebuah hotel setengah mewah yang menjadi berkurang kemewahannya karena ada tamu bernama Markesot.

Sore hari ia dijemput. Tetapi temannya itu tidak bisa menemui Markesot di kamarnya. Sementara teman temannya Markesot menunggu di mobil yang ia setiri. Temannya mengetuk pintu kamar Markesot berulang-ulang tak ada jawaban. Tak ada bunyi-bunyi atau gejala apapun yang menunjukkan Markesot ada di kamar itu.

Mungkin sudah keluar. Maka temannya ke resepsion. Tapi dijawab bahwa penghuni kamar itu belum menitipkan kunci, jadi mestinya masih ada di kamar. Maka temannya kembali ke kamar Markesot, mengetuk-ngetuk pintu lagi, membunyikan belnya berulang-ulang, tak ada jawaban juga.

Akhirnya temannya Markesot balik ke mobil dan memberitahukan bahwa ia belum bisa ketemu Markesot. Sebaiknya menunggu sebentar. Beberapa saat kemudian temannya Markesot mencoba ke kamar lagi, tak  ada jawaban lagi, ke resepsion lagi, jawabannya sama: si tamu kumuh itu belum keluar kamar.

Maka dengan mulai putus asa temannya Markesot kembali ke mobil. Duduk di sebelah kiri temannya yang duduk di belakang setir. Agak pekewuh dan malu juga ia kepada temannya itu. Dia sudah mahal-mahal menyewa kamar hotel, Markesot sudah menempatinya, dengan harapan masalah anaknya siapa tahu bisa diatasi. Tapi ternyata Markesot sirna.

***

“Maaf ya…”, ia mencoba mengemukakan rasa bersalahnya kepada temannya, dan bersikap sopan sedemikian rupa agar rasa bersalahnya itu terkurangi.

“Tidak apa-apa. Kita coba sabar agak lebih lama”, sahut temannya.

“Markesot memang begitu itu orangnya. Tidak bisa dipegang ekornya”

“Apa dia berekor?”

Temannya Markesot agak lega karena temannya tidak sekecewa atau semarah yang ia bayangkan. Malah bergurau.

“Yaaah, semua bedhes pasti berekor”, jawabnya.

“Berapa panjang kira-kira ekornya?”

“Saya belum pernah mengukurnya, dan tidak akan pernah”

“Markesot itu aslinya dari mana?”

“Dia tidak asli”

“Kalau gitu palsunya dari mana?”

“Ya palsu”

“Maksudnya?”

“Paling asu”

Rupanya jengkel betul hati temannya Markesot itu. Mereka berdua tertawa.

Tapi tiba-tiba ada suara terdengar: “Kita ini nunggu apa kok ndak berangkat-berangkat?”

Mereka berdua menoleh. Ternyata Markesot duduk di jok belakang. Tentu saja mereka terkejut, terutama teman temannya Markesot. “Memang bedhes ternyata. Kurang ajar”, ia menggerutu dalam hati.

Akhirnya mereka pun berangkat. Markesot bertugas sebagai Dukun menangani masalah adiknya temannya temannya. Tentu saja bisa beres. Bukan karena Markesot punya kemampuan untuk membereskan. Tetapi karena Tuhan masih belum tega mempermalukan Markesot di depan teman-temannya.

Mungkin saja Tuhan merasa kasihan kepada Markesot: jomblo, miskin, tidak pernah mencapai sukses di bidang apapun, tidak punya reputasi dan prestasi, tidak bahagia dan kesepian hampir sepanjang hidupnya hingga udzur usia.

***

Meskipun temannya merasa sangat jengkel, tapi di tengah jalan pada suatu kesempatan ia berbisik kepada Markesot: “Cak Sot, wiridnya apa?”

“Wirid apa?”, Markesot belum paham.

“Supaya bisa ngilang”

“Apa hubungannya ngilang dengan wirid?”

“Ya terserah apa namanya, wirid, mantra, japa-japi, aji-aji”

“Ah, mana saya tahu”

“Lho tadi kok bisa ngilang?”

“Ngilang gimana?”

“Lha tadi Sampeyan saya cari bolak-balik tiba-tiba sudah ada di dalam mobil”

Markesot tertawa. “Itu teknik Ilmu Maling”, jawabnya.

“Ilmu Maling gimana?”

“Ya ilmu maling. Mencari sela-sela peluang dalam rentang waktu dan peta ruang”

“Ah, ya ndak lah”

“Umumnya manusia tidak mampu berkonsentrasi konstan dan penuh. Selalu banyak lubang-lubangnya, jeda-jeda keterlenaan meskipun hanya satu sekon. Matanya, telinganya, saraf-saraf rasanya, tidak selalu stabil. Di situlah pintu yang dimasuki maling”

Temannya tetap membantah. “Kan jarak dari kamar Sampeyan ke mobil cukup jauh. Kalau Sampeyan berjalan sepanjang jarak itu kan pasti ada yang melihat. Juga ketika Sampeyan membuka pintu mobil kemudian menutupnya kembali, pasti terdengar”

“Buktinya tidak kelihatan dan tidak terdengar”

“Berarti Sampeyan tidak berjalan dari kamar ke mobil, dan tidak membuka menutup pintu mobil, tapi entah bagaimana pokoknya tiba-tiba sudah ada di dalam mobil”

“Tidak mungkin saya tiba-tiba berada dalam mobil. Harus berjalan melangkah dulu dan harus membuka pintu mobil, terus masuk, kemudian menutup pintu mobil. Pelan-pelan, lirih, sehingga tidak terdengar”

“Sudah tho Cak Sot, mbok saya dikasih wiridnya”

“Saya sungguh-sungguh tidak punya wirid yang kamu maksud”