Daur (167)

Igauan Markesot

Ta’qid : “bahwa engkau bukanlah dirimu, atau dirimu bukan hanya engkau, karena banyak engkau-engkau bersamamu. Siapa paham yang begitu-begitu? Juga siapa yang punya waktu untuk itu?”

Kalau di pagi atau sore hari di tengah gurun pasir itu engkau memandang berkeliling ke utara, barat, selatan kemudian timur — keempat arah itu hanyalah istilah yang didasarkan pada letak matahari. Dan kalau di titik tengah antara pagi dengan sore, yakni siang — engkau hanya tahu atas dan bawah.

Jika gulita malam tiba, ketika rembulan belum menampakkan wajahnya, atau terlanjur membenamkan dirinya — ke manapun engkau menatap, jauh atau dekat, ke ujung paling depan, ke  kiri, ke belakang atau kanan — maka hilanglah seluruh orientasi kosmismu. Tinggal atas bawah, ditambah depan belakang dan kanan kiri yang berasal dari karanganmu di badanmu dan tangan kakimu.

Untuk memulai memahami keabadian, engkau harus berjalan. Engkau harus menghitung waktu berdasarkan jumlah pasir di bentangan gurun yang batas pandangannya disebut cakrawala. Engkau harus mengambil butir pasir satu demi satu, dan jangan melangkah sebelum lengkap kau ambil butir-butirnya.

Maka terserah engkau memulainya ke depan dulu, atau ke belakang, atau ke kanan atau ke kiri dulu.

Yang pasti, setiap butir pasir itu bernilai seribu tahun. Seribu butir pasir berarti sejuta tahun. Silakan ambil seluruh butir pasir, silakan menghitungnya seribu tahun kali jumlah pasir — itulah keabadian.

Silakan membayangkan. Silakan mensimulasikan.

Muhammad Ali mengalahkan Sufi yang tak kalah lucu dan elegannya di zaman yang lalu: Maulana Abi Nuwas.

Sultan Harun Ar-Rasyid memerintahkannya untuk melaporkan jumlah bintang-bintang di langit. Sebagaimana Ali yang selalu bercanda, penuh senyuman dan sangat luwes pergaulan sosialnya, Abu Nawas tidak tertekan sama sekali oleh perintah Khalifah itu. Apalagi Abu Nawas mengetahui banyak hal tentang perilaku Sultan yang semua rakyatnya — bahkan juga buku-buku sejarah sampai berabad-abad sesudahnya — tidak mengetahui.

Tak butuh waktu sekian tahun, sekian bulan, sekian minggu atau sekian hari untuk menghitung jumlah bintang di langit. Abu Nawas langsung berangkat ke Istana Khalifah dengan membawa seekor kambing gibas yang berbulu tebal.

Ia melaporkan kepada Khalifah Harun: “Baginda, saya sudah menghitung dengan teliti, jumlah bintang di langit sama persis dengan jumlah bulu-bulu kambing ini. Silakan staf Baginda meneliti kembali agar Baginda tidak menuduh saya berbohong…”

Sesungguhnya, semacam itu pulalah Dunia Markesot.

Ngengleng di tengah gurun pasir, frustrasi mengagumi jumlah bintang, dan mensimplifikasikannya dengan jumlah bulu kambing gibas — begitulah Dunia Markesot.

Jangan terjebak atau apalagi tersesat untuk terlalu mempercayainya. Tak masalah kalau sekadar mendengarkannya, asalkan demi ngasak manfaat dan hikmah buat dirimu sendiri, dan bukan demi mendengarkan Markesot itu sendiri.

Biarkan dia omong tentang Jin atau apa saja. Tentang penjajahan Barat ke Timur selama tujuh abad, yang kini diteruskan dengan koalisi Barat-Utara. Tentang pola-pola, model, strategi dan lapisan-lapisan penjajahan. Khayalan Markesot tentang Dajjal dari barat dan Ya’juj Ma’juj dari utara dekat Kutub. Tentang sepuluh pasal penghancuran, dari dimusnahkannya Inka-Maya, hingga ditawurnya Kerajaan Ottoman, sampai Arab Spring yang hampir sempurna, dan kini koalisi antara Kawi dengan Lawu.

Bahkan jangan pula diambil hati atau dimasukkan ke dalam pikiran segala igauan Markesot yang kecil-kecil, tentang dunia kakilima, gelandangan, gerbong kereta api, bahwa engkau bukanlah dirimu, atau dirimu bukan hanya engkau, karena banyak engkau-engkau bersamamu…. Siapa paham yang begitu-begitu? Juga siapa yang punya waktu untuk itu?

Tetapi begitulah Dunia Markesot.

Bukannya Markesot hendak menyamakan dirinya dengan Abu Nawas. Sama sekali bukan levelnya. Markesot masih bisa dibayangkan menjadi salah satu pembantu Khalifah Harun Ar-Rasyid pada level paling bawah, umpamanya tukang menyabit rumput untuk makanan kuda beliau, sebagaimana Sunan Kalijaga ngarit buat kudanya Ki Ageng Pandan Aran.

Lho, kok malah menyamakan Markesot dengan Sunan Kalijaga?