Ibu Informasi, Keluarga Informasi, dan Masyarakat Informasi

Menurut natur dan ilmu kesehatan, seorang bayi yang mendapatkan asupan gizi melalui langsung menyusu kepada ibunya jauh akan lebih sehat, lebih mendapatkan zat-zat yang dibutuhkan bagi maksimalitas pertumbuhan dan kesehatan tubuhnya. Maka, sistem kekebalan tubuhnya juga makin sempurna dan menguat. Hasilnya, ia tidak gampang masuk angin dan akan berkembang menjadi organisme yang matang.

Demikian juga dalam hal informasi. Ada ibu informasi. Kepada dan darinya kita mendapatkan informasi. Jika ingin tahu kebenaran informasi, kita bertanya atau konfirmasi kepada sang ibu. Sebagai contoh sederhana, tersiar jadwal acara di suatu kota X. Kita lalu bertanya, benarkah kabar itu? Kemanakah kita mencari jawabannya? Ke ibu informasi. Dalam hal kegiatan atau agenda Cak Nun dan KiaiKanjeng, misalnya, informasi itu dapat diperoleh di CAKNUN.COM sebagai ibu informasinya.

Ibu Informasi
Ibu Informasi

Dengan begitu, kita tidak perlu terhembus oleh kabar yang belum pasti, tidak perlu “masuk angin”. Cukup sederhana: cek langsung ke sang ibu. Jika pada sang ibu tertera jadwal tersebut, berarti benar. Jika tidak tercantum, berarti tidak ada acara tersebut, atau mungkin belum saatnya diinformasikan.

Garis ke ibu itulah yang merupakan dasar dari sesuatu yang kemudian kita sebut keluarga informasi. Keluarga informasi adalah satu lingkungan kebersamaan dengan berbagai atau banyak penghuni di dalamnya. Satu sama lain diikat oleh kesamaan kebutuhan dan keterkaitannya terhadap satu, sekelompok, atau serangkaian rutinitas informasi. Terhadap informasi itu, kita saling memperhatikan berbagai aspek informasi itu sendiri: akurasi, persebaran, pertukaran, tolong-menolong, etika, patrap, pendayagunaan, pemanfaatan, check and recheck, dan segi-segi lainnya.

Kita bergerak ke satu contoh. Mungkin Anda pernah mendapatkan sms atau WA tetapi pesan itu tidak dilengkapi nama atau kejelasan si pengirim pesan. Anda mungkin bisa mengabaikannya. Tetapi kalau hal itu lumayan sering terjadi, capek juga kan. Kalau isinya tidak relevan dengan kita, mungkin itu pesan nyasar. Tetapi, kalau pesan-pesan itu memang relevan dengan urusan kita, kita jadi mikir-mikir. Lha iya wong se-urusan, kok tidak menyertakan nama sih? Perkembangan teknologi telekomunikasi belum sampai pada tahap di mana setiap gadget dilengkapi dengan list contact semua nomor yang beredar di seluruh nusantara berikut dengan nama-nama pemiliknya. Juga untuk nomor selular, tidak ada semacam buku Yellow Pages yang menyajikan nomor-nomor telepon kabel berikut nama dan alamatnya di suatu kawasan kota atau daerah.

Di dalam sebuah keluarga informasi, yang demikian itu tidak perlu dan tidak boleh terjadi. Jika mereka mau menyebut nama, sekurang-kurangnya hal itu memudahkan penyimpanan nomor tersebut di contact list, sebab tidak sopan juga memberinya nama yang bukan namanya karena sebenarnya si pemilik nomor itu punya nama, punya tuan.

Itu adalah salah satu contoh kecil saja, di antara contoh-contoh lain, yang menggambarkan bahwa kita memerlukan suatu imajinasi bahwa kita hidup di dalam sebuah keluarga. Satu sama lain punya keterkaitan, relasi, posisi dan peran masing-masing. Sebuah keluarga mengandaikan pula adanya pos-pos, yang masing-masing punya kandungan takaran tertentu terhadap informasi. Sebuah keluarga juga mengandaikan adanya struktur dan mekanisme. Di dalam keluarga itu juga terdapat suasana saling meringankan dan melegakan di antara para penghuninya.

Di dalam konteks Maiyah, ada dan makin meningkatnya keberadaan media (web dan media sosial) pada masing-masing simpul Jamaah Maiyah di berbagai tempat, dapat kita pahami dan kita harapkan sebagai penghuni-penghuni keluarga informasi Maiyah. Mereka tentu punya garis hubung kepada Ibu Informasinya, tetapi pada saat bersamaan, pada sejumlah hal, mereka adalah juga ibu-ibu informasi tersendiri untuk informasi, agenda, atau kegiatan di mana mereka adalah subjek utamanya. Kepada dan dari merekalah kita mendapatkan informasi yang berada di wilayahnya. Pada web CAKNUN.COM, link-link keluarga informasi Maiyah itu tertera pada LINK MAIYAH CAKNUN.COM yang ada di bagian bawah.

Sudah pasti, yang kita sebut keluarga informasi ini bukan barang yang sudah jadi, tetapi setidak-tidaknya, sejak sekarang kita mulai mem-file di dalam diri kita bahwa kita adalah bagian dari sebuah keluarga informasi. Kita bersama-bersama bergerak mengontribusikan terbentuknya soliditas keluarga informasi itu. Kita bersama-sama bekerja keras berproses menuju kematangan keluarga informasi Maiyah ini.

Di sisi lain, urgensi akan kesolidan dan kematangan keluarga informasi Maiyah itu kian terasa, karena pada dasarnya kita tidak ingin dan tidak setuju pada dijadikannya media internet sebagai sarana untuk melempar-melempar sesuatu dari kejauhan. Ide dasar dan prinsipil kita mengenai komunikasi dan interaksi adalah tatap-muka langsung (maka salah satunya, forum rutin Maiyahan atau Tadabburan tetap dilangsungkan). Tetapi karena ketersebaran jamaah di berbagai wilayah yang berjauhan, serta adanya kebutuhan pada kecepatan tersampainya informasi, maka media online dan media sosial menjadi perlu digunakan. Tujuan utamanya adalah tersampaikannya informasi.

Bila ditarik secara mendasar, Jamaah Maiyah telah mempelajari dan menyadari bahwa penjajahan modern sedemikian canggih dilaksanakan dengan berangkat dari mental tidak gentleman. Perang modern menyerang dengan menggunakan bom dan melempar dari jarak jauh. Dan sekarang, seperti diketahui dunia internet sangat memudahkan dan memassifkan pelemparan-pelemparan dari jarak jauh itu. Sementara karakter asli bangsa Nusantara adalah berhadap-hadapan, gentleman. Inilah pemahaman dasar yang Jamaah Maiyah pahami di dalam menggunakan media dengan memperhatikan bagaimana sejauh ini praktik bermedia berlangsung oleh para pengguna media.

Dalam posisi yang demikian itu, berangkat dari kesadaran akan ibu informasi dan keluarga informasi, selain untuk mencapai suatu kesolidan, pada perkembangannya melalui proses yang terus diasah dan diolah, ke depan Maiyah dapat menjadi satu contoh yang baik mengenai masyarakat informasi. Masyarakat dengan budaya, karakter, pola, dan manajemen informasinya tersendiri. Masyarakat yang mengawinkan informasi dan media dengan sebaik-baiknya untuk meningkatkan kualitas peradaban manusia. Itulah batas yang coba diambil oleh keluarga informasi Maiyah.