Daur (123)

Iblis Tidak Butuh Pengikut

Pada suatu malam, manusia Jokam, melenyapkan dirinya, menghadirkan Syekh Kanzul Jannah ke dalam jasadnya. Ia merentangkan kedua tangannya naik ke langit. Kemudian ambruk seluruh tubuhnya. Bersimpuh. Tengkurap memeluk bumi. Merintih-rintih. Memekik-mekik. Meratap-ratap:

“Aku tidak mengerti
Sungguh-sungguh aku tidak memahami
Ngomong apa dan pergi ke mana kalian ini
Makhluk bumi bicara panjang lebar sampai langit
Dari langit omong tak habis-habis sampai bumi
Tema kalian itu-itu saja: Iblis Iblis Iblis Iblis Iblis…
Yang di bumi teriak Iblis, sejauh cakrawala memekik Iblis
Tapel-Tapel, makhluk-makhluk manusia
Merasa diri Malaikat
Anut grubyug mengutuk Iblis
Yang berbuat buruk menyalahkan Iblis
Yang berbuat baik berlaku Malaikat”

“Dari corong-corong kehidupan kalian selalu terdengar:
Iblis terkutuk. Terkutuklah Iblis
Iblis laknat. Terlaknatlah Iblis
Wahai manusia, akulah Iblis
Ketahuilah bahwa aku tidak butuh pengikut
Apalagi pengikut yang bernama manusia
Bukankah kalian sejak dulu semua tahu
Bahwa aku tidak setuju Tuhan menciptakan kalian
Aku tidak menyepakati rancangan Tuhan
Untuk menciptakan para perusak alam
Yang gila penganiayaan dan pembunuhan
Jadi alangkah lucu tuduhan
Bahwa kalianlah yang aku inginkan
Kalianlah yang terjebak olehku
Tanpa aku menginginkan kepatuhan kalian
Aku sama sekali tidak butuh pengikut
Aku bukan makhluk yang tidak percaya diri
Sehingga mabuk untuk ingin diikut-ikuti
Aku tidak butuh manusia
Jadi kenapa kepadaku kalian menghamba
Dan ketika kemudian kalian terperosok dan sengsara
Kalian mengkambing-hitamkanku sebagai penyebabnya”

“Kalian diadu-domba oleh sesama kalian sendiri
Tetapi karena kalian malas belajar membaca keadaan
Maka akulah yang terus-menerus kalian salahkan
Kalian dibikin bertengkar terus-menerus
Kuman-kuman dirasukkan ke dalam kepala kalian
Bakteri-bakteri kejahatan dibenamkan ke
dada kalian
Bahkan di lidah, mata dan telinga kalian
Manusia di antara kalian sendiri
Yang menciptakan Kerajaan Siluman
Kerajaan Rahasia
Yang Istananya disembunyikan
Di balik pandangan mata kalian
Yang undang-undangnya dipasang
Di ruang berpikir kalian sendiri
Sehingga prajurit-prajuritnya adalah kalian sendiri
Sehingga kalian bukan kalian lagi”

“Kalian tak mengerti apa dan siapa
Yang menguasai seluruh perilaku kalian
Kalian bergembira ria menggiring diri kalian
Beramai-ramai berjalan menuju jurang kehancuran
Dan alangkah rendah pertahanan akal kalian
Sehingga tak mengerti bahwa sedang dihancurkan
Apalagi kalian menyangka bahwa yang disebut kehancuran
Adalah ambruknya gedung-gedung
Adalah padamnya penerangan
Adalah menyampahnya makanan
Atau air yang tinggal comberan
Wahai manusia itu bukan kehancuran
Itu pintu gerbang kematian dan kemusnahan”

“Adapun sesungguhnya
Kehancuran sedang berlangsung
Di dalam kepalamu
Di dalam dada dan jiwamu
Di dalam kesesatan pikiranmu
Di dalam bekunya akalmu
Di dalam kubangan kotor hatimu”

“Wahai sungguh kusesali kenapa kuseret Adam dari sorga
Sehingga dicampakkan ke hutan belantara di bumi
Mestinya kubiarkan manusia tinggal di sorga
Merdeka dari hati
jahat dan pertengkaran yang bodoh
Dulu aku bilang sama Tuhan: ‘Beri aku tangguh waktu sejenak’
Ternyata sekarang segalanya sudah cukup
Manusia tak lagi perlu didorong dan dikawal
Untuk melakukan perjalanan massal
Ke jurang kehancuran
Yang berpuncak pada ketidakmengertian tentang kehancuran”

“Dan aku, sehina-hinanya diriku
Sudah ribuan abad aku berusaha menjadi Iblis yang patuh
Iblis yang teguh dengan tugasnya
Iblis yang konsisten dan jujur dengan patrap-nya
Wahai Tuhan, mohon perintahkan kepadaku
Untuk berhenti dari peran rahasia yang sangat konyol ini
Sesudah Bumi dibikin oleh manusia
Tak bisa kembali kepada diri bumi
Mungkinkah manusia kembali
Kepada diri manusianya lagi?”

Kiranya itulah yang dimaksud Saimon “manusia berlaku tidak sebagaimana dirinya.