Daur (35)

Hujan Deras Tidak Basah Kuyup

Apakah aku menganjurkan agak anak cucuku dan para jm untuk menjauh dari hutan belantara yang berisi semakin banyak ketidakberadaban manusia? Mengajak mereka untuk menghindar, untuk pergi dengan sikap sok suci, atau bahkan meninggalkannya? Atau sekurang-kurangnya menjaga diri agar steril dari lingkungan ketidakberadaban itu?

Sama sekali tidak.

Bahkan tidak juga mengajak untuk mengutuk dan membenci. Apalagi secara emosional dan terburu nafsu merancang suatu bangunan negara atau pemerintahan baru yang disangka akan lebih baik dari yang dilawan.

Mungkin menganjurkan untuk melawan dengan perhitungan yang benar-benar  terukur. Atau kalau sangat kecil kemungkinan untuk melawan, sekurang-kurangnya menjaga diri sendiri semampu-mampunya untuk tidak menjadi bagian dari ketidakberadaban itu. Tetapi anak cucuku dan para jm bertanya bagaimana mungkin kita diguyur hujan dangat deras tanpa menjadi basah kuyup?

Bagaimana mungkin menghindari budaya pencurian di kantor? Bagaimana mungkin aku mengelak dari domino korupsi struktural yang sudah berlangsung seperti aliran darah yang mengalir dan menjadi tulang punggung kehidupan di kantor? Yang budaya vertikal horisontal antar petugas-petugasnya, atasan dan bawahannya, sudah hampir tidak mungkin menghentikan sistem pencurian bersama? Yang bahkan aturan dan undang-undangnya disusun berdasarkan kepentingan untuk memudahkan permalingan bersama itu?

Anak cucuku dan para jm menyatakan bahwa ia akan terpental jika tidak bergabung di dalam kultur sistemik permalingan itu. Ia tidak akan bisa berkembang. Atau bahkan dimutasi, dipindahkan ke daerah-daerah terjal, atau kalau kadar perlawanannya meningkat, ia akan dipecat, meskipun prosedur teknis dan performanya tidak terlihat sebagai pemecatan.

***

Anak cucuku dan para jm bertanya ke mana aku akan pergi selain di bawah hujan deras itu? Wilayah mana yang bisa aku tinggali dan pekerjaan apa yang bisa kujalani yang berada di luar area hujan deras itu?

Negara berubah menjadi pasar rimba penghancur semua yang lemah. Ideologi menjadi topeng, agama berpusat pada kemunafikan, kemanusiaan diputus talinya dari belakang dan ke depan. Kesucian rakyat dilacuri sampai benar-benar menjadi pelacur.

Peradaban yang pilarnya adalah Ksatria diambil alih oleh Raksasa. Jalan menjadi tujuan. Tuhan dijadikan faktor produksi dan promosi. Kitab Suci dibuka dicari ayat-ayat yang diletakkan pada tempat yang tidak seharusnya, karena gunanya firman Tuhan adalah untuk meneguhkan pengambilan keuntungan harta benda dunia.

Pengurus negara yang berkewajiban melindungi dan menyejahterakan rakyat yang mengamanatinya berlaku sebaliknya: menyusun sistem manajemen pemiskinan. Pemerintah yang diperintah oleh rakyatnya untuk mengelola tanah airnya, melakukan penggadaian dan penjualan besar-besar tanah dan air, isi daratan dan muatan lautannya. Penguasa yang digenggami kekuasaan malah dikuasai oleh penguasa lain dan menandatangani surat-surat penguasaan oleh penguasa lain itu atas harta benda rakyatnya.

Peradaban yang penghuni mayoritasnya adalah pengemis dan minoritasnya perampok. Setiap warga mayoritas belajar di sekolah demi agar bisa mendaftar ikut merampok, kemudian jika gagal mereka menadahkan tangan semoga memperoleh sedikit atau banyak cipratan dari hasil-hasil rampokan.

Anak cucuku dan para jm bertanya ke mana kami akan pergi? Sampai berapa lama kami mampu bertahan tak ikut merampok, dan hingga kapan kami dengan keluarga-keluarga kami bertahan lapar demi tidak menjadi pengemis? Hujan deras di mana-mana dan semakin deras. Desa-desa menjadi kota, dan kota-kota menjadi hutan belantara.

***

Pemimpin besar kami, kata engkau anak cucuku dan para jm, menyebutkan bahwa hidup ini diciptakan Tuhan dengan ummat manusia menjadi wakil kepengurusan-Nya agar kita semua saling mengamankan, saling memperjanjikan dan mengundang-undangkan suatu tatanan dan aturan untuk menjamin keamanan satu sama lain.

Keamanan nyawa, keamanan martabat dan keamanan harta.

Kami tidak sanggup menjaga titipan harta kekayaan Tuhan ini dari cengkeraman dan penguasaan golongan-golongan makhluk yang menyelenggarakan program pengambilalihan kekayaan Tuhan itu dari kami. Bertahap-tahap selama ratusan tahun titipan-titipan Tuhan itu lepas dari tangan kami, dan Tuhan tidak menghalangi semua itu terjadi.

Kekayaan titipan Tuhan semakin kikis dan di ambang sirna. Dan demi supaya masih bisa bertahan hidup, sebagian besar dari kami merelakan musnahnya martabat kemanusiaannya. Kami hidup di tengah rakyat, masyarakat dan ummat yang sudah mengikhlaskan ambruknya martabat, asalkan nyawa tidak hilang dan masih sekedarnya memperoleh sisa harta yang semakin kikis.

Penjajahan demi penjajahan, dengan bentuk dan formula yang terus diperkembangkan dan dimatangkan, sampai tahap di mana kebanyakan manusia tidak lagi mengetahui bahwa mereka sedang dijajah. Tidak hanya penjajahan yang samar dan tak kasat mata, sedangkan penjajahan yang terang benderang berwujud penjajahan pun sudah tidak dipahami sebagai penjajahan.

Anak cucuku dan para jm bertanya ke mana kami akan pergi? Ke manapun kami melangkah, tak bisa lolos dari guyuran air hujan yang deras dan semakin deras.

Anak cucuku dan para jm menagih kalimatku “sederas-deras air hujan, sela-sela kosong di antara titik-titik hujan masih lebih luas dibanding jumlah volume seluruh air guyuran hujan”.

Anak cucuku dan para jm mempertanyakan mana mungkin berjalan di bawah derasnya hujan, bisa tidak basah kuyup?

Dari cn kepada anak-cucu dan jm
8 Maret 2016