Daur (18)

Hijrah Maiyah

Rasulullah saw tidak bisa mengatasi tantangan di Mekkah, maka beliau berhijrah ke Madinah. Kita tidak mampu mengatasi masalah di negeri ini, maka kita berhijrah ke Maiyah.

Untuk diketahui, tulisan ini, mungkin juga berikutnya, merupakan lanjutan alur tema Darurat Aurat, tapi secara teknis diberi judul yang lebih mendekatkan kepada muatan khususnya.

Dalam Perang Uhud pasukan Islam kalah. Tetapi letak kekalahannya tidak terutama pada kekalahan dari musuh, sampai Rasulullah terluka dan dievakuasi ke sebuah celah di bukit Uhud, sampai-sampai Punggawa Uhud menawarkan untuk menggugurkan batu-batunya untuk menumpas pasukan musuh.

Letak kekalahan pasukan Islam di Uhud adalah karena mereka memenangkan nafsu dan mengalahkan dua hal lainnya: pertama perhitungan rasional Rasulullah agar mereka jangan turun bukit, meskipun musuh sudah lari tunggang langgang. Kedua, kepatuhan dan kepercayaan kepada Rasulullah disekunderkan dari pendapat dan nafsu mereka untuk menuruni bukit.

Maiyah kalah kalau parameternya adalah kekuatan politik, ekonomi dan militer. Bahkan di ranah media maya pun musuh berkeliaran bebas menghardik membuli memfitnah. Tetapi itu bukan kekalahan meskipun juga belum kemenangan, jika parameternya adalah Perang Badar: “Kita baru saja pulang dari sebuah peperangan kecil, dan sekarang memasuki peperangan besar”. Yakni perang melawan nafsu.

Nafsu? Apa itu? Konteksnya apa saja? Skalanya seberapa? Dalam konteks Maiyah nafsu adalah seluruh himpunan semangat untuk mengubah zaman, namun tidak memverifikasikan dirinya kepada muhasabah ‘aqliyah, perhitungan akal. Ialah “misbah”, cita-cita suci, niat dan visi jauh ke depan yang dibersamai oleh sunnatullah dan qudrotullah, tapi masih mengutamakan formula dan imajinasi “karepku”, bukan tekun mempelajari “kehendak-Ku” minimal “kehendak-Nya”.

Kalau engkau Rasul Nabi atau Auliya’ullah, bisa langsung bersesuaian “misbah”mu dengan “kehendak-Nya”. Tapi warga Maiyah adalah al‘Ummiyyin, kita awam dan faqir ‘inda-Hu. Koordinat kita pada titik aktivasi “zujajah”. Pembongkaran mesin akal dari kemapanan dan kebekuan hasil pendidikan zaman.

Maiyah mendidik diri sendiri untuk yang disebut Sabrang “sudut pandang, sisi pandang, jarak pandang, dimensi pandang, perspektif pandang”. Melakukan pelatihan dan pembelajaran “berpikir linier, zigzag hingga spiral dan siklikal”. Namun tetap dalam maqamat yang disebut Kiai Tohar “kita orang biasa, dengan kesaksian dan gerakan orang biasa”.

Orang Maiyah tidak rendah diri untuk menemukan dirinya tidak berdaya atas sesuatu hal, dan tidak menjadi mungguh menyangka dirinya berdaya atas hal lain. Orang Maiyah tidak memfokuskan pandangan dan gerakannya pada perjalanan dirinya sendiri, melainkan pada Tuhan dan penugasan-Nya.

Tetapi itu tidak berarti mengabaikan pembenci yang bebas merdeka menginjak martabatnya. Sebab orang Maiyah pelaku tauhid, bergerak menyatukan diri dengan Maha Sangkan dan Maha Paran. Maka martabatnya orang Maiyah yang diinjak adalah martabat Sang Maha Sangkan dan Sang Maha Paran itu sendiri.

Tidak karena si Boss bermurah hati “Sopir, tak perlu kejar penjambret itu, dia butuh makan, kita masih bisa beli spion”, sesudah spion mobil Boss dijambret – maka pada penjambretan kedua si sopir menoleh ke Boss “nggak apa-apa ya Boss, saya nggak usah kejar penjambret itu, dia butuh makan dan Boss masih bisa beli spion”.

Maiyah menghadapi era sejarah penjambretan massal, nasional dan global. Mereka sendiri juga korban penjambretan. Kalau pakai parameter Uhud, Maiyah tidak punya kemampuan militer untuk meringkus masyarakat kelas penjambret. Tetapi kalau pakai kriteria Badar, orang-orang Maiyah yang mengalir bergelombang bergenerasi-generasi, sudah, sedang dan akan menuju kemenangan.

Maiyah tidak ikut menjambret, meskipun tidak sanggup menangkap dan mengalahkan kaum penjambret. Maiyah tidak mampu menyelesaikan masalah nasional bangsa dan negerinya, tetapi minimal mereka tidak menjadi masalah, apalagi menambah masalah kepada rakyat dan diri mereka sendiri.

Sesungguhnya tidak tepat-tepat amat disebut bahwa Maiyah tidak mampu menyelesaikan masalah penjambretan nasional. Maiyah memegang teguh suatu prinsip bebrayan horisontal, suatu pilihan watak dan akhlak untuk tidak “usil” kepada siapapun saja, sebesar apapun masalahnya. Masyarakat korban jambret belum pernah secara jahriyah atau transparan dan tegas memberi mandat kepada Maiyah untuk bergerak meringkus kelas penjambret.

Masyarakat korban jambret dan Negeri Jambret itu sendiri tidak benar-benar menganggap ada Maiyah, ada orang Maiyah, ada manusia Maiyah, ada Pasukan Maiyah. Jangankan lagi diapresiasi, dihargai atau dipercayai. Dan andaikanpun masyarakat korban jambret mengamanati Maiyah, orang-orang Maiyah baru akan bergerak sesudah lulus tabayyun secara vertikal. Tuhan menegaskan “kalian punya kehendak, Aku punya kehendak, yang berlaku adalah kehendak-Ku”.

Itulah sebabnya kupersilahkan Maiyah memasuki ruang dalam rumah sejarahku. Itulah sebabnya “saya” ku“aku”kan hingga saat tertentu. Kusingkap sedikit auratku.

Dari cn kepada anak-cucu dan jm
20 Februari 2016